Prinsip-prinsip dalam Menjalankan Fungsi Jasa Keuangan Perbankan Syariah

Perbankan syariah memiliki beberapa prinsip mengenai pelaksanaan fungsi jasa keuangan demi tercapainya sistem operasional yang baik, dan dengan adanya prinsip-prinsip ini membuat perbankan syariah berbeda dengan perbankan konvensional.

Prinsip-prinsip dalam Menjalankan Fungsi Jasa Keuangan Perbankan Syariah

Prinsip-prinsip yang dimaksud antara lain yaitu prinsip wakalah, kafalah, hawalah, sharf, dan ijarah. Berikut penjelasan lebih lanjut:

Prinsip Wakalah


Wakalah adalah pemberian kekuasaan oleh satu pihak (muwakkil) kepada pihak lain (wakil) menyangkut dengan hal-hal yang diperbolehkan dalam Islam (Antonio. 2001).

Bank yang berkedudukan sebagai pihak yang diberi kekuasaan untuk mengelola suatu hal, diperbolehkan untuk menerima imbalan sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat dengan orang/pihak yang mewakilkan.

Praktik wakalah yang diterapkan pada perbankan antara lain melalui instrumen-instrumen berikut:
  • Letter of Credit (L/C)
  • Setoran kliring
  • Kliring antarkota
  • RTGS
  • Inkaso
  • Transfer
  • Transfer valuta asing
  • Pajak online
  • Pajak impor

Prinsip Kafalah


Kafalah adalah jaminan yang diberikan oleh kafil (penanggung) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makful 'anhu 'ashil) (Antonio, 2001).

Pada perbankan prinsip kafalah ini digunakan dalam transaksi bank garansi.

Jika pihak yang dijamin tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk membayar, maka pihak yang memegang bank garansi dapat melakukan klaim kepada pihak bank yang menerbitkan bank garansi tersebut.

Prinsip Hawalah


Hawalah merupakan pengalihan utang dari pihak yang berutang (muhil) kepada pihak yang menanggungnya (muhal 'alaihi).

Contohnya: Si Budi (muhal) memberi pinjaman kepada Usman (muhil), Usman masih memiliki piutang pada Ali (muhal 'alaih). 

Disaat Usman tidak mampu membayar utangnya kepada si Budi, selanjutnya Ia mengalihkan utang tersebut kepada Ali.

Pada perbankan prinsip hawalah ini digunakan untuk transaksi anjak piutang, di mana para nasabah yang mempunyai piutang kepada pihak ketiga mengalihkan piutang itu kepada pihak bank, kemudian pihak bank membayar piutang tersebut dan bank menagih semua piutang yang ada pada pihak ketiga (Antonio, 2001).

Prinsip Sharf


Prinsip ini digunakan dalam transaksi jual beli mata uang, baik antarmata uang sejenis maupun tidak. Menurut fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) No. 28 Tahun 2002.

Jual beli mata uang memiliki beberapa syarat antara lain yaitu:
  • Tidak untuk memperoleh keuntungan (spekulasi).
  • Transaksi tersebut dibutuhkan atau untuk keperluan berjaga-jaga (simpanan).
  • Transaksi yang dilakukan antarmata uang sejenis harus dengan nilai/jumlah yang sama dan secara tunai.
  • Jika transaksi antarmata uang yang berbeda jenis, maka harus berdasarkan nilai tukar (kurs) pada saat dilakukannya transaksi secara tunai.

Prinsip Ijarah


Prinsip ini termasuk ke dalam prinsip yang sering digunakan pada perbankan syariah.

Dalam fatwa DSN No. 9 Tahun 2000, disebutkan bahwa objek ijarah merupakan manfaat dari penggunaan barang dan/atau jasa.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Prinsip-prinsip dalam Menjalankan Fungsi Jasa Keuangan Perbankan Syariah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel