Aturan-aturan Relaksasi (Keringanan) dalam Hukum Islam

Dalam kehidupan yang kita jalani sewaktu-waktu dapat mengalami kesulitan.

Dalam hal ini kesulitan yang dialami seseorang pasti akan berbeda-beda.

Dalam menghadapi kesulitan pastilah kita membutuhkan suatu solusi untuk memudahkannya.

Solusi ini ada yang meringankan kesulitan yang dihadapi seseorang.

Dalam hal ini dapat diberikan keringanan ketika seseorang sedang dalam keadaan yang benar-benar terdesak atau untuk mencegah terjadi hal yang tidak diinginkan.

Aturan-aturan Relaksasi (Keringanan) dalam Hukum Islam

Keringanan juga mempunyai aturan-aturan tersendiri sehingga tidak ada penyalahgunaan yang terjadi apabila keringanan tersebut tidak mempunyai aturannya.

Dalam hal ini kita akan melihat aturan apa saja yang diperbolehkan dalam hukum Islam sehingga adanya keringanan yang bisa diberikan.

Dalam hukum Islam pemberi keringanan pasti mempunyai batasan-batasan sehingga kita dapat mengetahui apa yang boleh kita lakukan ketika dalam mengalami kesulitan.

Kondisi apa yang memungkinkan seseorang dapat memberi keringanan.

Seperti kondisi dimana kita dalam keadaan lapar tetapi tidak ada sumber makanan apapun kecuali mayat teman kita sendiri.

Dalam hal ini apabila dia tidak memakan apapun maka orang tersebut akan mati kelaparan, sehingga untuk menghindari hal tersebut dia diberi keringanan yaitu boleh memakan mayat temannya sendiri.

Dan masih banyak kondisi-kondisi tertentu sehingga dengan adanya keringanan maka seseorang dapat mengatasi kondisi yang menyulitkan tersebut.

Kaidah tentang Relaksasi (Keringanan)


Kaidah:

"Suatu bentuk kesulitan yang dialami oleh manusia akan melahirkan atau menimbulkan kemudahan baginya."

Hukum-hukum syariah didasarkan atas kenyamanan, keringanan, dan menghilangkan kesulitan dari masyarakat.

Syariah telah memperhatikan keadaan khusus di mana suatu penderitaan harus diatasi dalam rangka menyediakan kemudahan bagi mereka yang berada dalam kesulitan.

Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa setiap adanya kesulitan pasti adanya kemudahan, sebab Islam itu sendiri merupakan agama yang tidak menyulitkan umatnya.

Kesulitan yang terjadi kepada kita merupakan ujian dari Allah SWT. kepada umat-Nya apakah mereka sanggup menjalankannya atau tidak.

Allah memberikan kesulitan kepada umat-Nya sesuai kemampuannya.

Ayat Al-Qur'an tentang Keringanan (Relaksasi)


Aspek kenyamanan dan keringanan dalam syariah ini telah ditekankan dalam Al-Qur'an:

QS. Al-Maidah ayat 6

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak berencana untuk memberikan atau membuat hamba-Nya menderita karena kesulitan, akan tetapi Allah ingin memperbaiki kehidupan kita serta memberikan berbagai macam nikmat agar kita selaku hamba-Nya dapat bersyukur dan selalu meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.

Semakin sering kita bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah, maka Allah akan melipatgandakan pahala serta menambahkan rahmat lainnya.

QS. Al-Baqarah ayat 185

Ayat ini sangat berkaitan dengan ayat enam dari surah al-Maidah, di mana menyatakan bahwa Allah selalu menghendaki kemudahan bagi seluruh hamba-Nya dan tidak sama sekali menghendaki kesukaran apalagi membinasakan ciptaan-Nya.

Di samping itu, ayat ini juga menjelaskan kepada kita bahwa betapa pemurah dan pengasihnya Allah SWT. sehingga kita patut untuk bertakwa atau meningkatkan keimanan kepada-Nya.

QS. Al-Baqarah ayat 286

Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa setiap manusia akan diberikan amanah ataupun ujian sesuai kesanggupan dari manusia itu sendiri, tidak dibebani atau diuji dengan kadar yang berlebihan.

Ingatlah bahwa setiap ada ujian atau masalah pasti ada solusinya dan kita selaku manusia harus berusaha untuk berniat atau berprasangka baik kepada Allah.

QS. Al-Hajj ayat 78

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak menghendaki atau memberikan sesuatu yang dapat memudharatkan atau menyempitkan manusia dalam beribadah atau beragama.

Allah SWT. sebagai Musyarri' memiliki kekuasaan yang tiada tara, dengan kekuasaan-Nya itu Dia mampu menundukkan ketaatan manusia untuk mengabdi kepada-Nya.

Agar dalam realisasi penghambatan itu tidak terjadi kekeliruan maka dia membuat aturan-aturan khusus yang disebut dengan syariah demi kemaslahatan manusia sendiri.

Tentunya syariah itu disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan potensi yang dimiliki seorang hamba, karena pada dasarnya syariah itu bukan untuk kepentingan Tuhan melainkan untuk kepentingan manusia sendiri.

Klasifikasi Kesulitan menurut Wahbah az-Zuhaili


Adapun klasifikasi kesulitan yang dikemukakan oleh Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam 2 kategori, yaitu:

Pertama, kesulitan Mu'tadah yaitu kesulitan yang alami, di mana manusia mampu mencari jalan keluarnya sehingga ia belum masuk pada keterpaksaan.

Misal seseorang kesulitan mencari pekerjaan, ia dapat pekerjaan yang sangat berat, keberatan itu bukan berarti diperbolehkan keringanan dalam melakukan shalat atau puasa dan sebagainya.

Kedua, kesulitan ghairu mu'tadah yaitu kesulitan yang tidak pada kebiasaan, di mana manusia tidak mampu memikul kesulitan itu, karena jika ia melakukannya niscaya akan merusak dan memberatkan kehidupannya, dan kesulitan-kesulitan itu tidak dapat diukur oleh kriteria akal sehat, syariat sendiri serta kepentingan yang dicapainya.

Kesulitan semacam ini boleh menggunakan dispensasi (rukhsah).

Misalnya wanita yang selalu istihadlah, maka wudhu'nya cukup untuk shalat wajib sedang untuk ibadah sunah yang lainnya tidak diwajibkan, dan diperbolehkan shalat khauf bagi mereka yang sedang berperang, dan sebagainya.

Dari 2 klasifikasi di atas dapat melihat bahwa tidak semua kesulitan dapat diberikan dispensasi.

Seperti halnya kesulitan mu'tadah tidak adanya kemudahan dalam meninggalkan ibadah karena kesulitan itu dapat diatasi sendiri tanpa perlu adanya dispensasi atau keringanan.

Tiga Tingkatan Kesulitan dalam Ibadah menurut Wahbah az-Zuhaili


Selain dari klasifikasi, kesulitan dibagi 3 tingkatan dalam ibadah menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili, yaitu:

Pertama, kesulitan Adhimah merupakan suatu kesulitan yang dapat mengarah atau menjadikan manusia mengalami kemudharatan tingkat tinggi yang berakibat kepada terancamnya jiwa manusia itu sendiri.

Kesulitan ini diharuskan adanya rukhsah secara pasti bagi manusia, karena memelihara jiwa dan anggota badan merupakan upaya untuk kemaslahatan dunia akhirat yang lebih dipentingkan dari pada ibadah.

Misalnya dalam perjalanan terdapat peperangan, maka tidak perlu melakukan ibadah haji karena dengan meninggalkan ibadah itu akan memelihara jiwa untuk dapat melaksanakan ibadah lain.

Kedua, kesulitan Khofifah yaitu kesulitan karena sebab yang ringan, seperti kebolehan menggunakan muza jika sangat dingin menyentuh air.

Ketiga, kesulitan Mutawasithah yaitu kesulitan yang tengah-tengah antara yang berat dan yang ringan.

Berat ringannya kesulitan tergantung pada persangkaan manusia, sehingga tidak diwajibkan memilih rukhsah dan juga tidak dilarang memilihnya.

Macam-macam Sebab Adanya Kesulitan Menurut Abdurrahman as-Suyuthi


Adapun macam-macam sebab adanya kesulitan menurut Abdurrahman as-Suyuthi dalam al-Asyba' nadhoirnya ada 7, yaitu:
  1. Karena safar (bepergian)
  2. Karena marodh (sakit)
  3. Karena ikrah (terpaksa atau dipaksa)
  4. Karena nisyam (lupa)
  5. Karena jahl (bodoh)
  6. Karena usrun dam ummul balwa (kesulitan)
  7. Karena naqsh (kekurangan)

Bentuk-bentuk Keringanan yang terdapat dalam Fikih


Adapun bentuk-bentuk keringanan yang terdapat dalam fikih adalah sebagai berikut:
  1. Menghilangkan kewajiban (isqath), seperti meninggalkan shalat jum'at, haji, umrah. dan jihad ketika ada uzur.
  2. Mengurangi beban (tanqish), umpamanya shalat qashar.
  3. Penggantian (ibdal), penggantian wudhu dan mandi dengan tayamum.
  4. Mendahulukan (taqlim), umpamanya mendahulukan zakat harta sebelum genap satu tahun, dan mendahulukan pembayaran zakat fitrah di bulan Ramadhan.
  5. Menangguhkan hingga waktu tertentu (ta'khir), seperti kebolehan mengganti puasa ramadan pada hari lain bagi yang sakit dan dalam perjalanan.
  6. Kemurahan (tarkhis), seperti kebolehan memakan benda najis untuk menjadi penawar racun.
  7. Perubahan (taghyir), seperti mengubah susunan shalat dalam perang (shalat khawf).
  8. Hukum Pemanfaatan Rukhshat.

Akan tetapi, Jalal al-Din 'Abd al-Rahman Ibn Abu Bakr al-Suyuthi merinci hukum pemanfaatan rukhsat sebagai berikut:
  1. Keringanan yang wajib dilakukan, seperti kebolehan memakan bangkai dalam keadaan paceklik dan boleh memakan (meminum) benda najis untuk menyembuhkan penyakit.
  2. Keringanan yang sunat dilakukan, seperti menyederhanakan shalat dalam perjalanan, berbuka puasa bagi yang sakit dan dalam perjalanan, dan melihat wajah perempuan yang dipinang.
  3. Keringanan yang mubah (boleh) dilakukan, seperti jual beli dengan cara salam (bay' al-salam).
  4. Keringanan yang lebih baik ditinggalkan, seperti mengusap sepatu, dan berbuka puasa bagi musafir yang secara fisik memungkinkan untuk melanjutkan puasa.
  5. Keringanan yang makruh untuk dilakukan, seperti menyederhanakan format shalat bagi musafir yang perjalanannya kurang dari tiga marhalat.

Adapun kaidah "kesulitan dapat memunculkan kemudahan" adalah salah satu dari kaidah penting dalam syariah.

Syatibi mengklaim bahwa dalil dari keabsahan kaidah tersebut terbatas.

Kaidah ini menyatakan bahwa dalam kasus tertentu, demi menjaga kepentingan dasar dan kebutuhan masyarakat, hukum asal yang ketat, yang menyebabkan kesulitan yang sulit dibayangkan, dapat diringankan.

Dalam keadaan mendesak, keleluasaan diperbolehkan.

Kaidah ini mencakup semua keadaan yang memerlukan suatu konsensi hukum dari hukum asalnya, agar pemenuhan kewajiban dapat terlaksana dan dalam kapasitas seorang manusia normal.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kaidah ini merupakan suatu kaidah yang menyatakan tentang dibolehkannya keringanan atau kemudahan dalam hal atau keadaan darurat yang dialami oleh manusia.

Kaidah ini telah dijelaskan lebih jauh oleh kaidah-kaidah pelengkap sebagai berikut:

Darurat dan Akibatnya

Kaidah:

"Suatu keadaan yang darurat dapat membolehkan atau diperkenankan bagi seseorang untuk melakukan hal-hal yang dilarang atau yang sebenarnya tidak boleh dilakukan."

  • Darurat dalam Pengertian Khusus

Darurat dalam pengertian khusus merupakan suatu kepentingan esensial yang jika tidak dipenuhi, dapat menyebabkan kesulitan yang dahsyat yang membuat kematian.

Contoh:

Daging Babi yang dilarang bagi seorang muslim untuk memakannya, jika seorang yang sekarat karena kelaparan mengikuti larangan ini dan menjaga diri tidak memakannya, dia bisa mati kelaparan.

Jadi memakan Babi bagi orang yang sekarat dibolehkan.

  • Darurat dalam Pengertian Umum

Darurat dalam pengertian umum dan lebih luas merujuk pada hal yang esensial untuk melindungi dan menjaga tujuan-tujuan dasar syariah.

Dalam bahasa Syatibi, sesuatu itu disebut esensial karena tanpanya, komunitas masyarakat akan disulitkan oleh kekacauan, dan dalam hal ketiadaan beberapa di antara mereka, manusia akan kehilangan keseimbangannya serta akan dirampas kebahagiaannya di dunia ini dan kejayaannya di akhirat nanti.

Perhatian Utama dari Definisi Darurat Menurut Syatibi


Dapat diamati bahwa perhatian utama dari definisi darurat menurut syatibi adalah untuk melindungi tujuan-tujuan dasar syariah, yaitu:
  1. Menjaga dan melindungi agama.
  2. Menjaga dan melindungi nyawa.
  3. Menjaga dan melindungi keturunan.
  4. Menjaga dan melindungi akal.
  5. Menjaga dan melindungi kesehatan.
  6. Menjaga dan melindungi kemuliaan serta kehormatan diri.

Syarat-syarat Keadaan Darurat


Berikut ini merupakan beberapa syarat yang digunakan untuk melihat sesuatu kondisi apakah kondisi tersebut masuk dalam kategori darurat atau tidak:
  1. Darurat itu harus nyata, bukan spekulatif atau imajinatif.
  2. Tidak ada solusi lain yang ditemukan untuk mengatasi penderitaan kecuali keringanan tersebut.
  3. Solusi itu harus tidak menyalahi hak-hak sakral yang memicu pembunuhan, pemurtadan, perampasan harta atau bersenang-senang dengan sesama jenis kelamin.
  4. Harus ada justifikasi kuat untuk melakukan keringanan, seperti melindungi nyawa hingga mengkonsumsi makanan haram atau melakukan sesuatu yang haram.
  5. Dalam pandangan para pakar, solusi itu harus merupakan satu-satunya solusi yang tersedia.

Aturan Syariah yang dibuat Berdasarkan Konsep Darurat


  1. Dibolehkan bagi orang yang sekarat karena kelaparan untuk memakan bangkai babi atau binatang lainnya. Juga diperbolehkan bagi orang yang kelaparan untuk mencuri makanan dari orang lain yang tidak kelaparan dengan syarat dia nantinya mengganti kerugian yang dialami orang tersebut.
  2. Jika seseorang menderita kelaparan, dia memerlukan makanan untuk dirinya dan keluarganya, dan dia tidak mampu mendapatkan pinjaman kebaikan (qardhul hasan) untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam kasus ini, dia diperbolehkan untuk memperoleh pinjaman hutang dengan keuntungan yang ditetapkan di muka untuk orang yang meminjamkan.
  3. Penjualan darah untuk keperluan transfusi dan donasi, serta penjualan organ tubuh manusia seperti mata dan ginjal juga dibolehkan menurut kondisi darurat ini.
  4. Di bawah kondisi darurat, seorang dokter laki-laki dibolehkan untuk memeriksa seorang perempuan yang bukan muhrimnya, dan melihat bagian yang sangat pribadi dari tubuh si perempuan demi kepentingan untuk menyelamatkan hidupnya.
  5. Seorang yang diamanahkan untuk menjaga harta anak yatim karena dipaksa oleh keadaan darurat diperbolehkan untuk menggunakan harta itu sampai pada kadar yang diperlukan untuk melayani anak yatim yang punya harta tersebut.

Beberapa Ketentuan Fikih Modern


  • Keputusan Islamic Fiqh Academy of India atas bolehnya asuransi bagi kaum muslimin India.
Pandangan umum dan dominan dalam hukum Islam tentang asuransi komersial adalah bahwa itu diharamkan karena mengandung elemen-elemen yang merusak seperti riba, gharar, qimar (judi), dan lain-lain.

Faktanya komunitas Muslim India selalu ditakut-takuti dengan kerusuhan dan penyerangan yang menyebabkan kerugian dahsyat seperti kehilangan nyawa dan harta benda.

Oleh karena itu, Islamic Fiqh Academy telah menetapkan bahwa asuransi ini dibolehkan atas prinsip dasar:

"Kebutuhan yang sangat mendesak membuat sesuatu yang diharamkan menjadi halal."

Dengan dalih untuk menghapus mudharat dan menghilangkan kesulitan.

  • Keputusan European Fiqh Council atas pembiayaan keredit untuk membeli rumah.
Akomodasi adalah kebutuhan dasar setiap individu.

Itu merupakan suatu bagian dari besarnya rahmat yang telah Allah berikan pada hamba-Nya.

Allah berfirman:

"Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal..." (QS. 16:80)

Di Eropa, kaum muslimin pada umumnya tidak memperoleh cara untuk membeli rumah dengan kontan.

Satu-satunya pilihan bagi mereka adalah membeli rumah dengan pinjaman berbunga.

The Europian Fiqh Council telah meletakkan aturan-aturan dan syarat-syarat tertentu yang harus diperhatikan ketika membeli rumah dengan pinjaman berbunga.

Syarat-syarat ini adalah:
  1. Rumah yang dibeli harus untuk pembeli dan keluarganya.
  2. Pembeli benar-benar tidak memiliki rumah yang lain.
  3. Pembeli benar-benar tidak memiliki kelebihan aset yang dapat menolongnya untuk membeli rumah dengan cara selain kredit.

Fatwa tersebut berdasarkan prinsip darurat yang termaktub dalam aturan hukum, bahwa kebutuhan yang sangat ekstrim membuat sesuatu yang haram menjadi halal.

Aturan-aturan Penyeimbang


Perlu diingat bahwa prinsip:

"Kebutuhan yang sangat mendesak membuat yang haram menjadi halal." 

Sifatnya bukan absolut atau tidak terbatas.

Prinsip itu berlaku dalam suatu ruang lingkup yang terbatas.

Ada beberapa aturan penyeimbang yang membatasi ruang lingkup aktivitas dari kaidah ini.

Beberapa kaidah ini adalah:

"Setiap urusan atau masalah yang semakin membesar atau meluas, pada akhirnya akan menjadi kecil atau menyempit."

Contoh:

Seorang anak yang mempunyai kartu kredit unlimited menggunakannya dengan sangat boros, maka kartu tersebut dapat diblokir agar anaknya tidak boros.

"Suatu keadaan yang darurat ditentukan dan dinilai sesuai kadar atau tingkat darurat itu sendiri."

Contoh:

Kasus jatuhnya pesawat Uruguay Force Flight di pegunungan Chili, Andes-perbatasan Argentina-Chili pada musim dingin tahun 1972.

Peristiwa ini bermula dengan jatuhnya pesawat carteran Uruguay Air Force Flight 571 yang membawa 45 penumpang, termasuk di dalamnya tim rugby dan keluarganya, di pegunungan Chili, Andes, 13 Oktober 1972.

Dari kecelakaan itu, 29 penumpang berhasil selamat, namun medan yang berat membuat satu demi satu korban berjatuhan.

Delapan orang tewas tertimbun longsoran salju, beberapa lainnya menyusul ke alam baqa karena berbagai sebab, diantaranya suhu yang biasa dingin dan cidera.

Dan yang tersisa 16 orang yang selamat pada 23 Desember 1972. Dengan berada di ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut dengan pakaian seadanya, mereka bertahan hidup dengan cara memakan mayat teman-temannya yang sudah tewas.

Ini bukan keputusan yang mudah, bahkan terlalu berat, tapi harus dilakukan agar bertahan hidup.

Biasanya, dalam keadaan terjepit seperti itu, orang baru mengerti betapa berharganya kehidupan.

Dan mereka berjuang untuk mempertahankannya, apapun caranya.

Dan mereka bertahan hidup dengan cara tersebut selama 72 hari.

"Suatu hal yang diizinkan atau dibolehkan untuk melakukannya karena adanya alasan tertentu, maka tidak boleh dilakukan lagi atau dalam kata lain dilarang untuk melakukannya ketika alasan yang tadi sudah tidak ada."

Contoh:

Tayamum menjadi batal apabila didapati air.

Atau memakan bangkai untuk bertahan hidup maka ketika dia sudah cukup kenyang memakan bangkai tersebut dan masih ada sisanya maka dia tidak diperbolehkan lagi memakan yang sisanya.

"Suatu keadaan atau peristiwa darurat tidak dibenarkan untuk meniadakan atau mengambil hak orang lain secara batil."

Contoh:

Bila seseorang menyewa perahu untuk jangka waktu seminggu, kemudian setelah disewa tersebut tidak dapat dikembalikan pada waktu yang telah ditetapkan kepada pemiliknya dikarenakan ada suatu halangan, maka pihak yang menyewa harus menambah jumlah bayaran sewa sesuai dengan tambahan waktu dari waktu pokok sewaan.

Hal ini dikarenakan halangan atau keadaan darurat yang dialami oleh pihak yang menyewa perahu tidak dapat menghilangkan atau menggugurkan hak pemiliknya, dengan demikian pihak yang menyewa diwajibkan untuk membayar tambahan biaya sewa.

Hajat dan Akibatnya


"Suatu hal yang berkaitan dengan kebutuhan hidup manusia baik yang bersifat pribadi maupun umum itu dapat dianggap suatu hal atau keadaan yang darurat."

Sama dengan darurat yaitu hajat yang menerapkan keringanan terhadap hukum asal dan memberikan alasan untuk berbeda darinya.

Hajat terdiri dari dua jenis yaitu hajat amanah dan hajat khassah.

Hajat amanah adalah hajat umum, contohnya jalan rusak di suatu desa apabila tidal diperbaiki maka akan mendatangkan kesulitan.

Hajat khassah adalah hajat khusus, contoh memperoleh pinjaman lewat penjualan tebusan (reedemable sale).

Aturan-aturan Syariah yang didasarkan atas Hajat


Kontrak Salam

Salam dalam bahasa Arab sering diartikan sebagai suatu kegiatan mendorong atau memajukan ke muka.

Ini adalah kontrak di mana si pembeli membayar harganya di muka dan pengiriman barang ditunda hingga waktu yang ditentukan.

Menurut kebiasaan pedagang, salam adalah jual beli untuk jual beli barang yang tidak tunai (kontan), salam pada awalnya berarti meminjamkan barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu.

Maksudnya ialah perjanjian yang penyerahan barang-barangnya ditangguhkan hingga masa tertentu, sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan ketika akad.

Dalam salam berlaku semua syarat jual beli dan syarat-syarat tambahannya seperti berikut ini:
  1. Pada saat dilakukannya akad salam maka pihak penjual harus menjelaskan secara benar dan jelas mengenai kriteria atau spesifikasi barang yang ingin dijualnya kepada para pembeli. Hal ini tentunya bertujuan agar tidak terjadinya kerugian yang berupa cacatnya barang setelah dibeli oleh pembeli.
  2. Dalam akad harus disebutkan segala sesuatu yang bisa mempertinggi dan memperendah harga barang itu, umpamanya benda tersebut berupa kapas, sebutkan jenis kapas saclarides nomor satu, nomor dua, dan seterusnya, kalau kain sebutkan jenis kainnya. Pada intinya sebutkan semua identitasnya yang dikenal oleh orang-orang yang ahli di bidang ini yang menyangkut kualitas barang tersebut.
  3. Barang yang akan diserahkan hendaknya barang-barang yang biasa didapat di pasar.
  4. Harga hendaknya dipegang di tempat akad berlangsung.

Ketika Rasulullah SAW. berhijrah ke Madinah, Kaum Anshar membawa bentuk jual beli ini kepada Rasul untuk menanyakan hukumnya.

Rasulullah SAW memberi istilahnya salam dan membolehkan para sahabat melakukannya dengan beberapa syarat.

Alasan kenapa Rasulullah SAW. mengizinkan praktik salam dalam beberapa syarat adalah karena kebutuhan yang dihadapi oleh petani dan pedagang.

Kontrak Istishna

Sama seperti salam, istishna juga suatu kontrak atas barang yang tidak ada keberadaannya.

Meskipun demikian, kontrak ini diperbolehkan oleh ulama fikih dengan alasan kebutuhan umum masyarakat.

Objek dalam istishna pada umumnya adalah barang-barang tempahan yang dapat dideskripsikan oleh klien.

Suatu kontrak istishna mengikat pihak-pihak yang terlibat jika syarat-syarat tertentu dipenuhi, termasuk spesifikasi jenis, bentuk, kualitas, dan kuantitas barang harus diketahui, jika perlu waktu pengiriman harus ditentukan juga.

Jika barang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati, maka konsumen memiliki hak untuk menerima atau menolak barang tersebut.

Khiyar al-Syart (persyaratan hak membatalkan kontrak)

Khiyar al-Syart atau khiyar syarat yaitu penjualan yang didalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual maupun pembeli, seperti seseorang berkata:

"Saya jual rumah ini dengan harga Rp100.000.000 dengan syarat khiyar selama tiga hari."

Hadis riwayat Baihaqi:

"Kamu boleh khiyar pada setiap benda yang telah dibeli selama tiga hari tiga malam."

Khiyar al-Ta'yin (hak untuk memastikan)

Khiyar al-Ta'yin adalah hak seorang pembeli untuk memilih, menunjuk, atau menentukan satu barang dari dua atau lebih diajukan kepadanya dalam kurun waktu yang telah ditentukan di muka.

Bay' bil Wafa'

Bay' bil wafa merupakan suatu jual beli barang dengan hutang pada kreditur dengan syarat kapan saja si penjual membayar harga barang atau membayar hutangnya, maka si pembeli harus mengembalikan barangnya kepada si penjual.

Mazhab Hanafi membolehkan bay' bil wafa dengan prinsip bahwa kebutuhan umum diperlakukan sebagai darurat dalam meringankan suatu hukum asal.

Kafalah bil Dark

Kafalah bil dark adalah jaminan dari penjual, bahwa dia akan mengembalikan harga barang jika barang itu diambil alih oleh orang lain.

Kafalah bil dark adalah jaminan yang diberi oleh penjual atas barang dagangannya.

Contohnya, membeli HP maka penjual memberikan garansi misalnya 3 bulan apabila HP tersebut rusak.

Pengganti Harta Wakaf

Menurut bahasa wakaf berasal dari kata waqf yang berarti radiah (terkembalikan), al-tahbis (tertahan), al-tasbil (tertawan), dan al-man'u (mencegah).

Berikut ini merupakan landasan hukum wakaf yang bersumber dari Al-Qur'an:

QS. Al-Hajj ayat 77

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk melakukan suatu kebaikan, dikarenakan kebaikan itu sendiri dapat membawa manusia kepada jalan ketakwaan serta kemenangan dalam menjalani hidup di dunia ini.

QS. Ali-Imran ayat 92

Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa sesuatu yang kita sedekahkan dan berupa harta yang paling kita cintai maka sudah pasti akan memberikan atau mendatangkan berbagai kebaikan bagi kita.

Dengan demikian, untuk bersedekah harus kita dahulukan harta-harta pilihan terlebih dahulu, jangan malah sebaliknya (menyedekahkan barang yang sudah tidak layak untuk digunakan).

Kita ketahui bahwa harta wakaf tidak dapat dijual, dihadiahkan, ataupun diganti.

Akan tetapi apabila harta wakaf tersebut sudah kehilangan kegunaannya atau manfaatnya, maka harta wakaf tersebut boleh dijual dan digantikan dengan barang yang mempunyai kegunaan atau manfaat.

Bolehnya Hawalah (penugasan hutang)

Secara bahasa hiwalah sering diidentikkan dengan kata al-intiqal atau al-tahwil yang memiliki makna memindahkan atau mengoperkan sesuatu.

Rukun hiwalah adalah ijab dan qabul. Adapun syarat hiwalah menurut Hanafiyah yaitu:
  1. Orang yang memindahkan hutang (Muhil) adalah orang yang berakal, maka batal hiwalah yang dilakukan Muhil dalam keadaan gila atau masih kecil.
  2. Orang yang menerima hiwalah (rah al-dayn) adalah orang yang berakal, maka batallah hiwalah yang dilakukan oleh orang yang tidak berakal.
  3. Orang yang dihiwalahkan (Mahal 'Alah) juga harus orang berakal dan disyaratkan pula dia meridhainya.
  4. Ada hutang Muhil kepada Muhal Alaih.

Adapun syarat hiwalah menurut Sayyid Sabiq yaitu:
  1. Relanya pihak Muhil dan Muhal tanpa Muhal 'Alaih, jadi yang harus rela itu Muhil dan Muhal 'Alaih. Bagi Muhal 'Alaih rela atau tidak rela, tidak akan mempengaruhi kesalahan hiwalah.
  2. Samanya kedua hak, baik jenis maupun kadarnya, penyelesaiannya, tempo waktu, kualitas, dan kuantitasnya.
  3. Stabilnya Muhal 'Alaih, maka penghiwalahan kepada seorang yang tidak mampu membayar utang adalah batal.
  4. Hak tersebut diketahui secara jelas.

Penulis: Septi Mulya

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Aturan-aturan Relaksasi (Keringanan) dalam Hukum Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel