Kaidah-kaidah Fiqih mengenai Gharar

Islam melarang semua bentuk transaksi yang mengandung unsur kejahatan dan penipuan.

Di mana hak-hak semua pihak yang terlibat dalam sebuah perilaku ekonomi yang tidak dijelaskan secara saksama (terbuka/jelas), akan mengakibatkan sebagian dari pihak yang terlibat menarik keuntungan, akan tetapi dengan merugikan pihak yang lain.

Kaidah-kaidah Fiqih mengenai Gharar

Apapun bentuknya, segala aktivitas dalam bidang ekonomi yang tidak dihalalkan dalam Islam adalah suatu perilaku ekonomi yang mengandung unsur yang tidak halal, atau melanggar dan merampas hak kekayaan orang lain.

Al-Qur'an difokuskan untuk mengeliminasi semua bentuk kejahatan dan penipuan dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya.

Dalam ekonomi Islam itu sendiri mempunyai norma-norma perilaku ekonomi yang dilarang dan diperbolehkan.

Gharar tidak dibolehkan dalam Islam karena mengandung unsur ketidakpastian.

Dalam akad yang mengandung gharar, pihak-pihak yang terkait biasanya tidak mengetahui hasil dari sebuah transaksi yang dilakukan.

Definisi Gharar


Jual beli gharar adalah jual beli yang mengandung unsur-unsur penipuan, baik karena ketidakjelasan dalam objek jual beli ataupun ketidakpastian dalam cara pelaksanaannya.

Sehingga hukum jual beli adalah haram.

Alasan haramnya gharar adalah tidak pasti dalam objek, baik barang atau uang atau cara transaksinya itu sendiri.

Karena larangan dalam hal ini langsung menyentuh esensi jual belinya, maka disamping haram hukum transaksinya tidak sah.

Para ulama telah merumuskan beberapa definisi mengenai gharar menurut ciri dan karakteristiknya yang berbeda-beda.

Beberapa definisi itu adalah sebagai berikut:
  • Menurut Sarakhsi: "Gharar terjadi dimana konsekuensi (dari sebuah transaksi) tidak diketahui."
  • Ibn Qayyim: "Transaksi gharar merupakan transaksi di mana pihak penjual tidak dapat menyerahkan barang yang dijualnya secara langsung kepada pembeli, baik itu tidak ada sama penjual maupun ada."
  • Menurut Ibn Hazm: "Gharar dalam jual beli terjadi apabila si pembeli tidak tau apa yang telah ia beli dan si penjual tidak tau apa yang telah ia jual."
  • Menurut Ibn Abidin: "Gharar adalah ketidakpastian mengenai keberadaan barang dalam jual beli."
  • Menurut Ibn Rusyd: "Suatu bentuk gharar dapat diketahui atau ditemui apabila penjual merasa dirugikan akibat kurangnya pengetahuan tentang hal-hal yang paling penting atau serius di dalam sebuah akad, baik itu yang berhubungan dengan barang yang dia jual secara keseluruhan ataupun berhubungan dengan waktu atau kualitas barang."
  • Sanhuri, seorang ulama modern terkemuka, memiliki pandangan bahwa kekurangan pengetahuan mengenai item-item material dari akad merupakan ciri khas akad yang mengandung gharar. Ia mengatakan bahwa gharar terjadi dalam beberapa keadaan berikut:
  1. Ketika barang yang menjadi objek transaksi tidak diketahui apakah ia ada atau tidak.
  2. Apabila ia ada, tidak diketahui apakah ia dapat diserahkan kepada pembelinya atau tidak.
  3. Ketika ia berakibat pada identifikasi macam atau jenis benda yang menjadi kepada pembelinya atau tidak.
  4. Ketika ia berakibat pada kuantitas, identitas, atau syarat-syarat perlunya.
  5. Ketika ia berhubungan dengan tanggal pelaksanaannya di masa mendatang.
  • Mustafa Zarqa menjelaskan bahwa gharar merupakan transaksi jual beli suatu barang, namun barang yang dijual tersebut belum adanya kepastian sampai kepada tangan pembeli, dikarenakan adanya faktor-faktor lain yang dapat menghambat transaksi tersebut, misalnya saja bencana alam atau hal-hal lain yang tidak dapat diprediksi atau diduga. Dengan demikian transaksi gharar hampir sama dengan judi atau hal-hal yang dapat membawa kerugian akibat ketidakpastian lainnya.
  • Wahbah Zuhayli, ulama syariah kontemporer lainnya menggambarkan gharar dalam kalimat berikut: Jual beli yang mengandung gharar adalah akad jual beli yang mengandung risiko dan mempengaruhi satu pihak atau lebih, yang boleh jadi menimbulkan kerugian harta.
Dari definisi-definisi di atas, seseorang dapat mengambil kesimpulan bahwa gharar berisi karakteristik-karakteristik tertentu seperti risiko, bahaya, spekulasi, hasil yang tidak pasti, dan keuntungan mendatang yang tidak diketahui.

Sebuah akad yang melibatkan gharar, menyebabkan keuntungan dan kekayaan yang tak pantas bagi satu pihak atas tanggungan kerugian pihak lain.

Oleh karena itu, Nabi SAW. telah melarang akad-akad yang mengandung gharar.

Beliau mengidentifikasikan sejumlah transaksi sebagai transaksi gharar apabila transaksi-transaksi itu melibatkan elemen ketidakpastian, risiko, judi, tidak adanya ketentuan, dan kurangnya pengetahuan mengenai fakta-fakta material dalam akad.

Berikut hadits tentang keharaman gharar:
  1. Rasulullah SAW. melarang jual beli yang berdasar pada jatuhnya lemparan batu kerikil dan jual beli yang mengandung gharar.
  2. Rasulullah SAW. melarang jual beli yang melibatkan adu lari kuda jantan.
  3. Nabi SAW. melarang jual beli apapun yang masih ada di dalam perut hewan, jual beli isi kambing, jual beli budak ketika ia telah kabur, dan (jual beli) darbat al-ghais, yakni pembayaran di awal yang didasarkan pada batas hasil selaman seorang dalam air.
  4. Nabi SAW. melarang penjualan anggur sebelum ia berwarna hitam, dan penjualan gandum sebelum ia matang.
Pengamatan saksama terhadap hadits-hadits mengenai gharar di atas menghasilkan fakta bahwa terdapat empat macam risiko dan ketidakpastian dalam transaksi-transaksi gharar berdasarkan hadits-hadits tadi.

Empat hal itu adalah sebagai berikut:
  • Judi dan Spekulasi, ini terdapat dalam transaksi seperti darbat al-ghais atau jual beli yang ditentukan oleh jatuhnya lemparan kerikil.
  • Hasil yang Tidak Menentu, ini dapat diamati dalam transaksi seperti jual beli ikan di dalam laut, atau budak yang telah kabur. Jual beli barang yang belum ada di tangan seseorang juga jatuh ke dalam kategori ini.
  • Keuntungan Mendatang yang Tidak Diketahui, ciri ini dapat diamati dalam akad-akad seperti 'adu kuda jantan' dan darbat al-ghais. Transaksi-transaksi itu dipengaruhi oleh judi, khususnya apabila pembeli memiliki prediksi yang salah atau membayar taruhan terlalu banyak.
  • Ketidaktelitian, ciri ini dapat diamati dalam transaksi seperti jual beli barang sebelum ditimbang atau jual beli bahan makanan secara serampangan atau yang membahayakan (bay' al-juzaf).

Macam-macam Gharar


Dr. Siddiq Muhammad al-Amin al-Dahir, membagi gharar menjadi dua, yaitu:
  1. Gharar terkait dengan sighat akad/kontrak.
  2. Gharar yang terkait dengan objek transaksi.
Gharar dalam akad meliputi:
  • Bai'ataini fi Bai'ah
Bai'ataini fi Bai'ah adalah (dua kesepakatan dalam satu transaksi), yaitu satu akad untuk dua transaksi.

Seperti penjual mengatakan saya jual barang ini seratus apabila tunai dan seratus sepuluh apabila dibayar selama selama satu tahun.

Kemudian pembeli mengatakan saya terima tetapi ia tidak menentukan mana harga yang mau dia beli.
  • Bai' al-'Urbun
Bai' al-'Urbun merupakan jual beli yang pembayarannya dilakukan di muka, namun ditentukan syarat bahwa apabila pembeli jadi mengambil barang dari penjual maka uang muka tersebut akan dihitung sebagai bayaran atas harga barang, sementara bila pembeli tidak jadi membeli barang yang sudah dipilih tersebut maka uang mukanya akan menjadi milik penjual atau dalam kata lain hangus.

Para ulama berbeda pendapat tentang bai' al-'urbun ini, Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, dan Syafi'i serta Syiah Zaidiyyah melarangnya.

Sedang Imam Ahmad dan sekelompok dari kalangan tabi'in diantranya Mujahid, Ibn Sirin, Nafi' bin Abdul Harits dan Zaid bin Aslam mereka membolehkannya.
  • Bai' al-Hashah Wa Bai'
Bai' al-hashah, bai' al-mulamasah, dan bai' al-munabadzah adalah kebiasaan Arab Jahiliyyah.
  1. Bai' al-Hashah, dalam hal ini penjual dan pembeli sudah sepakat atas transaksi jual beli suatu barang atau komoditas, namun yang menjadi masalahnya yaitu menjadikan lemparan batu sebagai pedoman atau ketentuan dalam melanjutkan transaksinya.
  2. Bai al-Mulamasah, jual beli jenis ini sangatlah tidak baik atau profesional, kenapa demikian? Karena jual beli yang dilakukan tersebut dapat menghilangkan prinsip saling ridha, di mana barang yang sudah disentuh oleh pembeli maka diwajibkan oleh penjual untuk membelinya dengan harga yang ditentukan sesuka hati oleh pihak penjual.
  3. Bai' al-Munabadzah, apabila penjual telah melempar sesuatu pada pembeli maka mesti terjadi jual beli antara penjual dan pembeli.
  • Bai' al-Muallaq
Adalah yang keberadaannya dihubungkan dengan keberadaan urusan yang lain. Keberhasilan transaksi dapat terjadi dengan adanya perantara yang lain.

Contoh:

Penjual mengatakan aku menjual rumah kepadamu dengan harga sekian apabila si fulan menjual rumahnya kepada saya.

Kemudian pembeli menjawab saya terima.
  • Bai' al-Mudaf
Adalah kesepakatan yang disandarkan kepada waktu yang akan datang.

Contoh:

Penjual mengatakan saya jual rumah ini kepada kamu dengan harga sekian pada awal tahun yang akan datang. Maka pembeli menjawab saya terima.

Gharar dalam obyek transaksi:

"Tidak diketahui jenis obyek transaksinya."

Contoh:

Saya jual yang ada di karung saya sepuluh dinar.

"Tidak diketahui macam obyek transaksinya."

Misalnya: Saya menjual seekor hewan kepada Anda dengan harga Rp10.000.000, namun saya tidak tau kalau hewan tersebut masuk ke dalam jenis apa, maka itu disebut dengan transaksi gharar.

"Tidak diketahui sifat obyek transaksi."

Contoh:

Jual beli anak binatang yang dikandung tanpa induknya dan jual beli sesuatu yang tersembunyi di dalam tanah.

"Tidak diketahui takaran obyek transaksinya."

Contohnya:

Menjual kurma yang sudah matang dan sudah dipetik dengan kurma yang ada di pohonnya yang belum bisa dipanen.

"Tidak diketahui zat obyek transaksi."

Yaitu pada sesuatu yang berbeda-beda apabila dibeli salah-satunya tanpa menyebutkan dzatnya seperti membeli baju dari baju yang berbeda-beda.

"Tidak diketahui waktunya."

Contohnya:

Transaksi hablu al-hablah, salah-satunya adalah jual beli yang ditangguhkan pembayaran hingga seekor unta melahirkan anaknya.

"Tidak ada kemampuan dalam penyerahan obyek transaksi."

Contoh:

Jual beli unta yang hilang.

"Jual beli spekulatif."

Contoh:

Jual beli buah yang belum layak panen.

"Tidak ada melihat obyek transaksi."

Contoh:

Membeli sesuatu yang terbungkus.

Kaidah-kaidah Mengenai Gharar


Kaidah-kaidah mengenai gharar yang paling populer:
  1. Menjual barang yang tidak ia miliki adalah haram.
  2. Suatu gharar apabila ditemukan dalam obyek prinsipil dari sebuah akad, menjadikan akad tersebut tidak sah.
  3. Gharar menjadikan akad-akad komutatif tidak sah, namun tidak pada akad-akad gratutious.

Jual Beli Barang yang Tidak Ada


Aturan-aturan syariah mengenai gharar telah digambarkan oleh ulama syariah dalam kaidah-kaidah tertentu; kaidah yang paling populer salah satunya adalah menjual barang yang tidak dia miliki adalah haram (jual beli yang tidak ada).

"Seseorang tidak boleh menjual sesuatu yang tidak dimilikinya."

Aturan di atas didasarkan pada sebuah hadits terkenal, dimana Nabi SAW. bersabda:

"Janganlah kamu menjual apa yang tidak kamu miliki."

Ulama klasik biasanya cenderung pada keharaman jual beli barang yang telah ada selama transaksi berlangsung.

Suatu barang yang tidak dimiliki oleh penjualnya saat akad jual beli, sama seperti barang yang tidak ada dalam pandangan ulama ini.

Satu-satunya pengecualian dalam aturan ini adalah jual beli salam dimana si pembeli membayar harga barang diawal, sementara penyerahan barangnya ditunda pada tanggal yang ditentukan di masa mendatang.

Wahbah Zuhayli menjelaskan pandangan para ahli fikih mengenai hal ini dalam kalimat berikut:

"Objek sebuah akad harus ada selama transaksi berlangsung. Mengadakan transaksi atas barang yang tidak ada adalah tidak sah, seperti menjual hasil panen sebelum terlihat matangnya, dengan asumsi bahwa hasil panen itu boleh jadi tidak muncul."

Yang juga tidak boleh adalah kasus-kasus yang melibatkan sesuatu yang tidak diketahui sebagaimana:

"Kekhawatiran (khatar ad-dam) seperti asumsi bahwa suatu janin dalam perut bisa jadi tidak hidup saat dilahirkan."

Ketentuan ini menjadi wajib dalam Mazhab Hanafi dan Syafi'i, tanpa mempertimbangkan apakah transaksi itu termasuk kategori akad komotatif (mu'awadat) atau akad gratutious (tabarru'at).

Transaksi apapun yang melibatkan ma'dum (barang yang tidak ada) adalah batal, baik dalam kasus jual beli (bay'), hadiah (hibah), atau pegadaian (rahn). 

Pandangan ini berdasarkan pada hadis Rasulullah SAW. yang diriwayatkan bahwa beliau telah melarang jual beli janin dalam perut hewan (bay' habl hablah), jual beli embrio (al-madamin) dan sperma (al-malaqih).

Diriwayatkan juga bahwa beliau telah melarang orang-orang untuk mengadakan transaksi di mana penjual tidak memiliki barang yang akan diperjual belikan.

Sebab barangnya dianggap sebagai ma'dum (tidak ada) selama akad berlangsung.

Para ulama tersebut telah membuat pengecualian pada aturan umum ini, seperti keharaman bay' al-ma'dum dalam kasus-kasus yang melibatkan jual beli dengan pembayaran diawal (salam) dan akad pembuatan barang (istishna).

Transaksi-transaksi ini dibolehkan, terlepas dari adanya obyek akad, yang berdasarkan pada istishan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Ibn Qayyim, seorang ulama terkemuka dalam mazhab Hambali, memiliki pendapat berbeda dengan pendapat mayoritas di atas.

Menurutnya, tidak adanya benda yang menjadi objek dalam transaksi tidak menjadi alasan keharaman.

Ia mencoba mengkritik semua semua relatifitas mengenai sifat ketidaktentuan dan ketidakberadaan. Beliau mengatakan:

"Tidak terdapat dalil dalam al-Qur'an ataupun Sunnah yang dengan tegas menyatakan pandangan bahwa mengadakan akad atas ma'dum itu dilarang. Yang ada dalam Sunnah mengenai transaksi yang melibatkan keberadaan komoditas tercantum dalam hadits: "Jangan kamu menjual apa yang tidak kamu miliki (seperti barang yang tidak ada di tanganmu)." 

Hadits tersebut menunjukkan bahwa 'illat di sini bukan 'adam atau ketidak-adaan, akan tetapi gharar.

Ketidakpastian ini disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menyerahkan barang yang menjadi objek akad, misalnya seekor unta yang kabur.

Kapan saja 'illat dihilangkan maka hukumnya juga menjadi hilang, sebagaimana Anda yang tidak mengetahui dengan jelas mengapa.

Allah menghalalkan ijarah dan al-musaqah, apakah itu karena absennya ketidakpastian?

Sebagai misal lainnya, Allah telah mengharamkan jual beli unta yang kabur karena adanya elemen gharar yang melekat di dalamnya, meskipun unta itu sebenarnya ada.

Begitu juga Allah telah melarang penyewaan unta dalam kasus dimana pemiliknya tidak dapat menyerahkan hewan untuk digunakan oleh pihak yang hendak menyewa.

Oleh karena itu, sebuah akad yang berkenaan dengan keinginan yang dibuat atas dasar tidak adanya barang adalah merupakan akad yang sah.

Mengenai hadits:

"Janganlah menjual apa yang tidak ada bersamamu".

Para ulama memberikan tiga penafsiran yang berbeda, yaitu sebagai berikut:

Pertama, "janganlah menjual apa yang tidak ada bersamamu" bermakna agar tidak menjual apa yang tidak dimiliki pada saat jual beli diadakan.

Kedua, para ulama syariah dan ulama hadis pada umumnya berpendapat bahwa hadits pada umumnya berpendapat bahwa hadits yang menjadi pembahasan dalam hal ini hanya berlaku pada jual beli barang-barang tertentu, akan tetapi tidak berlaku pada barang-barang fungibel, karena barang-barang ini dapat dengan mudah diperolehnya.

Maka hadits tersebut menyatakan bahwa pengharaman terbatas pada jual beli barang-barang dalam wujudnya dan tidak berlaku pada jual beli barang-barang yang diberi deskripsinya.

Sehingga, ketika salam dimasukkan dalam dalam kategori barang-barang fungibel yang pada umumnya dapat ditemukan di tempat ia tinggal, maka hukumnya sah walaupun penjualnya tidak sedang memiliki barang tersebut pada saat akad jual beli diadakan.

Posisi ketiga, beberapa ulama mengambil penafsiran dari hadis ini yang berisi bahwa jual beli 'apa yang tidak bersamamu' bermakna jual beli barang yang sedang tidak ada dan penjualnya tidak dapat menyerahkan barang itu.

Beberapa Contoh Barang yang Tidak Ada


Beberapa contoh akad yang melibatkan barang yang tidak ada adalah sebagai berikut:

Jual Beli Buah-buahan di atas Pohon pada Awal Musim.

Ini merupakan jual beli barang yang tidak ada.

Barang yang menjadi objek akad jual beli tidak ada pada saat akad dan tidak ada kepastian tentang keberadaannya di masa mendatang, karena buah-buahan itu dapat busuk dan rusak oleh bencana alam.

Inilah yang dijelaskan dalam Sabda Nabi SAW. diriwayatkan oleh Anas Ibn Malik bahwa Rasulullah SAW. melarang jual beli buah-buahan hingga ia matang. Nabi SAW. selanjutnya bersabda:

"Jika Allah merusak buah-buahan itu, maka apa hak seseorang memperoleh uang dari saudaranya yang lain?."

Forwards and Future Transactions

Kasus lain tentang pelanggaran syariah mengenai ketentuan keberadaan barang adalah kasus modern dalam bentuk Forwards and Future Transactions.

Forwards Contract adalah persetujuan antara dua pihak untuk membeli (menjual) suatu kualitas dan kuantitas tertentu dari asset tertentu pada tanggal tertentu di masa mendatang untuk harga yang belum ditentukan di awal akad."

Future Contract merupakan suatu jenis dari forwards contract dengan terma-terma akad yang memiliki standar tinggi dan ditentukan secara detail.

Tujuan utama future trading bukanlah serah terima barang-barang yang diperdagangkan, akan tetapi untuk meminimalisir risiko.

Satu ciri utama dalam future contract adalah penjualan singkat.

Satu pihak misalnya, dapat menjual minyak bumi dengan future contract walaupun dia tidak memiliki akses terhadap minyak bumi.

Sebagaimana satu pihak lain dapat membeli minyak bumi meskipun ia tidak menggunakannya.

Para spekulan dengan rutin membeli dan menjual minyak bumi melalui future contract untuk mengantisipasi perubahan harga.

Sebagai ganti dari serah terima minyak bumi, mereka menutup transaksi sebelum berakhir kontrak.

Ulama syariah modern lazimnya menganggap future dan forwards contract sebagai akad yang tidak sah.

Alasan utama bagi ketidaksahannya adalah tidak adanya barang yang diperjualbelikan pada saat akad diadakan.

Ketiadaan komoditas itu membentuk jual beli singkat (short selling) ketika pembeli sebuah komoditas mengambil ganti rugi barang tanpa memiliki komoditas sebenarnya.

Kaidah gharar:

"Gharar membatalkan akad-akad komutatif dan tidak membatalkan akad-akad gratutious."

Hukum Islam membedakan akad-akad komulatif ('uqud al-muwadhat) dari akad-akad gratutious (uqud al-tabarru'at).

Hukum Islam tidak mengakui adanya gharar dalam akad komutatif dan mengakui keberadaannya dalam akad gratutious (non profit).

Suatu bentuk gharar yang timbul dalam hal jual beli, sewa-menyewa, kontrak tenaga kerja, dapat merusak atau menyebabkan transaksi yang dilakukan tersebut tidak sah.

Gharar dalam jual beli dan ijarah (sewa-menyewa barang/jasa) biasanya didapati dalam bentuk-bentuk berikut:
  1. Ketidakpastian dan kurangnya pengetahuan tentang sifat barang.
  2. Ketidakpastian dan kurangnya pengetahuan tentang macam atau jenis barang.
  3. Ketidaktahuan dalam hal atribut barang.
  4. Ketidaktahuan mengenai identitas barang.
  5. Ketidaktahuan mengenai jumlah barang.
  6. Ketidaktahuan mengenai waktu penyerahan barang.
  7. Ketidaktahuan mengenai kemampuan seseorang untuk menyerahkan barang.
  8. Tidak adanya barang.
  9. Transaksi yang menggantung.

Sebaliknya gharar dalam akad-akad gratuitous (tabarru'/nonprofit) seperti hadiah, hibah, wakaf, wasiat, dan lain sebagainya tidak berpengaruh kepada sahnya transaksi.

Misalnya A berkata pada B bahwa:

"Saya menghadiahkan padamu buah-buahan apabila pohon-pohon ini menghasilkan buah."

Transaksi ini sah walaupun ada ketidakpastian mengenai adanya buah-buahan di masa mendatang, di samping mengenai ketidakpastian mengenai jumlahnya.

Takaful (Satu Model Akad Donasi)


Berdasarkan prinsip dasar yang ditentukan dalam kaidah di atas, ulama modern sepakat tentang ketidaksahannya asuransi komersial, sebab ia mengandung elemen gharar. 

Gharar yang melekat pada asuransi tersebut terdapat dalam kategori akad-akad komutatif.

Sebaliknya, mereka membolehkan takaful sebagai alternatif dari konsep asuransi.

Kata Takaful bermakna tanggungan bersama.

Tujuan Takaful adalah kerjasama dan bantuan saling menguntungkan di antara anggota-anggota kelompok yang telah ditentukan.

Penyetoran modal yang dilakukan para peserta biasanya dilakukan tiap tahun, dan langsung disetorkan kepada perusahaan takaful agar dapat dikelola dengan baik atau maksimal.

Kontribusi ini dibagi ke dalam dua bagian.

Bagian terbesar dijadikan dana investasi dan tetap menjadi harta pemberi kontribusi itu.

Bagian lainnya yang hampir berjumlah 2 hingga 5 persen dari setoran yang ada dialihkan menjadi dana waqaf dan dianggap sebagai sebuah tabarru (derman).

Perusahaan ini menginvestasikan dana yang ada ke dalam dana investasi dan waqaf menurut perbandingan sebelumnya.

Takaful bisa jadi asuransi jiwa dan bisa juga menjadi asuransi risiko atas harta benda.

Islam adalah agama yang Syamil, yang mencakup segala permasalahan manusia, tak terkecuali dengan jual beli.

Jual beli telah disyariatkan dalam Islam dan hukumnya mubah atau boleh, berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, Ijma' dan dalil aqli.

Allah SWT. menghalalkan atau membolehkan kepada manusia untuk melakukan transaksi jual beli, hal ini bertujuan agar manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya melalui teknik tukar-menukar yang didasari dengan sikap saling ridha.

Akan tetapi, dalam menjalankan aktivitas perdagangan atau jual beli memerlukan pedoman dan patuh terhadap syarat-syarat yang sesuai dengan prinsip atau hukum Islam agar tidak terjadi pelanggaran atau penyimpangan.

Walaupun Islam mendorong umatnya untuk berdagang, bukan berarti dapat dilakukan sesuka dan sekehendak manusia, seperti lepas kendali.

Adab dan etika bisnis dalam Islam harus dihormati dan dipatuhi jika para pedagang dan pebisnis ingin termasuk dalam golongan para Nabi, Syuhada, dan Shadiqin.

Konsep jual beli dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain ditinjau dari segi sah atau tidak sah dan terlarang atau tidak terlarang.

Kemudian konsep jual beli yang dilarang berbagai jenis sesuai dengan cabang-cabang dan sifatnya. Hal ini dapat dibagi ke dalam:
  1. Ditinjau dari sudut rusak syarat akad.
  2. Ditinjau dari sudut rusak syarat sah.

Penulis: Yurni Sartika

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kaidah-kaidah Fiqih mengenai Gharar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel