Ketentuan, Landasan Hukum, Jenis, dan Syarat Akad Murabahah

Transaksi atau akad murabahah menjadi hal yang sangat menguntungkan bagi para pedagang, khususnya para pedagang yang memiliki kekuatan modal yang luar biasa, misalnya saja perbankan.

Praktek akad murabahah pada perbankan sekarang ini sudah begitu populer dan dapat menjadi suatu instrumen penghimpunan dana yang sangat menjanjikan.

Ketentuan, Landasan Hukum, Jenis, dan Syarat Akad Murabahah

Secara sekilas akad murabahah itu sendiri merupakan akad jual beli dengan memberitahukan harga perolehan barang dan keuntungan yang akan diambil atau dalam kata lain akad yang menyatakan secara terus-terang mengenai modal yang dikeluarkan oleh pihak penjual untuk mendapatkan barang persediaan dan keuntungan yang akan diambil.

Untuk lebih jelasnya mari simak penjelasan di bawah ini:

Pengertian Akad Murabahah


Murabahah merupakan transaksi jual beli suatu barang dengan memberitahukan keuntungan yang akan diambil dari barang tersebut dan disepakati oleh pihak yang melakukan transaksi (penjual dan pembeli), keuntungan yang diambil yaitu selisih antara harga perolehan barang dengan harga jual (Rejeki, 2013).

Ketentuan Perbankan Mengenai Akad Murabahah


Berdasarkan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang akad murabahah, maka terdapat beberapa ketentuan yang harus dipatuhi oleh Bank Syariah dalam melakukan akad murabahah, ketentuan-ketentuan tersebut antara lain:
  • Dalam transaksi murabahah Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang menyediakan dana.
  • Bank Syariah dapat membiayai seluruhnya atau pun hanya sebagiannya saja dari harga barang yang telah disepakati (kualifikasinya) dengan nasabah.
  • Bank Syariah dapat memberikan potongan harga yang wajar selama potongan tersebut tidak diperjanjikan di muka (Ramadhani, 2014).

Landasan Hukum Akad Murabahah


Berikut dalil-dalil yang dijadikan sebagai landasan hukum akad murabahah (Afrida, 2016):

Surah an-Nisa ayat 29

Ayat ini menjelaskan tentang pelarangan memakan harta orang dengan cara yang tidak benar (batil), dikarenakan dengan memakan harta orang secara batil dapat mendhalimi dan membawa mudharat kepada pemilik harta itu sendiri, serta tidak adanya keberkahan dalam hidup.

Sementara itu, Allah memberikan jalan keluar yang sangat luar biasa agar kita terhindar dari memakan harta orang secara batil, yaitu dengan dihalalkan perdagangan atau perniagaan, di mana dengan perdagangan orang-orang dapat melakukan transaksi tukar-menukar dengan berlandaskan sikap saling ridha antara satu pihak dengan pihak lainnya, dengan demikian maka tidak ada pihak yang teraniaya.

Surah al-Baqarah ayat 275

Dalam ayat ini Allah menegaskan kepada manusia bahwa jual beli merupakan hal yang sangat baik untuk dilakukan dan juga halal.

Sedangkan riba adalah hal yang sangat buruk dan harus segera dihindari agar tidak menjadi penghalang untuk masuk surga.

Surah al-Maidah ayat 1

Ayat ini memberitakan kepada manusia bahwa dalam melakukan suatu transaksi atau akad maka harus dilakukan dengan tuntas atau dalam kata lain tidak boleh melakukan akad hanya setengah jalan, kenapa demikian?

Karena akad yang dilakukan secara tidak sempurna mengandung banyak kerugian atau risiko, sehingga dapat merusak perekonomian orang yang melakukannya.

Surah al-Baqarah ayat 280

Ayat ini berkaitan dengan transaksi hutang-piutang, di mana ketika terjadinya ketidaksanggupan membayar hutang oleh pihak yang berutang kepada pihak yang memberikan pinjaman, maka pihak yang memberikan pinjaman tersebut dituntut untuk memberikan kemudahan kepada pihak yang berutang dan tidak mengenakan denda yang berupa penambahan persentase bunga (riba), karena hal itu dapat memberatkan pihak yang berutang.

Serta dapat merusak martabat dari orang yang memberikan pinjaman tersebut.

Jenis-jenis Akad Murabahah


Jenis-jenis akad murabahah antara lain sebagai berikut:

Murabahah Pesanan

Dalam hal ini, Bank Syariah baru akan menyediakan barang setelah adanya pesanan dari pihak nasabah (pembeli), barang yang telah disediakan tersebut harus dibeli oleh nasabah selaku pihak yang telah memesan barang, sehingga murabahah jenis ini disebut dengan murabahah yang terikat.

Murabahah tanpa Pesanan

Berbeda dengan murabahah pesanan, murabahah yang satu ini sifatnya lebih bebas dan tidak terikat, karena dalam murabahah tanpa pesanan ini Bank Syariah menyediakan barang tanpa harus dipesan terlebih dahulu oleh nasabah (pembeli) (Yusuf, 2013).

Rukun dan Syarat Murabahah


Berikut ini merupakan penjelasan mengenai rukun dan syarat akad murabahah:

Rukun-rukun Akad Murabahah

  • Adanya penjual dan pembeli.
  • Adanya barang yang akan diperjualbelikan.
  • Harga barang.
  • Adanya ijab qabul (sighat) (Maulidizen, 2016)

Syarat-syarat Akad Murabahah

Berikut ini merupakan beberapa syarat akad murabahah:
  • Pembeli harus mengetahui harga perolehan barang, dengan demikian pihak penjual harus memberitahukannya.
  • Pembeli harus mengetahui keuntungan yang akan diambil oleh penjual.
  • Harta yang nilainya selalu bertambah tidak dibolehkan untuk dijadikan sebagai alat tukar, seperti menukar emas dengan emas.
  • Akad jual beli pertama (penyediaan barang) harus sah (Imama, 2014).

Teknik Penentuan Margin (Keuntungan) Akad Murabahah


Berikut merupakan beberapa hal mengenai penentuan margin (keuntungan) akad murabahah menurut OJK (Otoritas Jasa Keuangan):
  • Keuntungan dari jual beli murabahah adalah suatu keuntungan yang diharapkan (expected yield) oleh para penjual.
  • Penjual dapat memberikan potongan margin (keuntungan) murabahah sejauh tidak menjadi kewajibannya yang tertuang dalam perjanjian (akad).
  • Keuntungan harus ditentukan berdasarkan kesepakatan antara pembeli dengan penjual.
  • Keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nominal atau persentase.
  • Perhitungan keuntungan dapat mengacu pada tingkat keuntungan yang berlaku secara umum di pasar dengan cara mempertimbangkan ekspektasi biaya, risk premium, dan tingkat keuntungan.
  • Tidak dibenarkan akan adanya penambahan keuntungan setelah akad murabahah disepakati (Haryoso, 2017).

Karakteristik Utama Akad Murabahah


Berikut beberapa karakteristik yang terdapat dalam akad murabahah:
  • Akad murabahah merupakan transaksi jual beli yang secara langsung melibatkan para penjual dan pembeli, bukan sebatas perantara atau pun pihak yang mampu dalam hal pendanaan.
  • Penjual diwajibkan untuk memberitahukan jumlah keuntungan yang diambil dari pembeli.
  • Adanya kesepakatan antara penjual dengan pembeli terhadap jumlah keuntungan yang diambil (Purnama, n.d).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ketentuan, Landasan Hukum, Jenis, dan Syarat Akad Murabahah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel