Pengertian, Dalil, Jenis, Hikmah Pelarangan, dan Dampak dari Praktek Riba

Riba atau yang dikenal dengan tambahan tanpa adanya imbalan yang serupa, atau dalam kata lain pihak yang memberi pinjaman tidak memiliki alasan yang syari' untuk meminta tambahan atas pokok pinjaman yang telah diberikan kepada pihak yang meminjamnya (orang yang berutang).

Dengan demikian, praktek riba ini menjadi hal yang sangat perlu untuk dihindari dikarenakan dapat menciptakan kesenjangan ditengah-tengah masyarakat.

Di mana orang-orang kaya akan semakin kaya dengan hanya meminjamkan uang kepada orang miskin.

Sedangkan orang miskin akan semakin miskin, dikarenakan setelah membayar pokok pinjaman harus ditambah dengan persentase bunga yang telah disepakati diawal transaksi.

Pengertian, Dalil, Jenis, Hikmah Pelarangan, dan Dampak dari Praktek Riba

Oleh karena itu, memahami tentang seluk-beluk riba sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita selaku umat Islam, agar tidak terjerumus ke dalam prakteknya yang sangat membahayakan serta dapat merusak tatanan sosial.

Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai riba mari simak penjelasan di bawah ini:

Pengertian Riba


Secara bahasa riba berarti bertambah atau tambahan.

Sedangkan pengertian secara teknis yaitu tambahan terhadap jumlah beban yang harus dibayarkan oleh pihak yang bersangkutan dalam transaksi pinjam-meminjam uang atau pun pertukaran barang dengan barang berdasarkan jumlah dan waktu pinjaman (Nizar, 2007).

Dalil-dalil Pelarangan Riba dalam Al-Qur'an


Berikut dalil-dalil pelarangan riba yang bersumber dari Al-Qur'an (Salam, 2013) dan (Ahmad, 2011):

Surah al-Baqarah ayat 275

Ayat ini menceritakan tentang akibat yang diderita oleh orang-orang yang memakan harta riba, di mana Allah mengumpamakan orang yang memakan riba itu seperti orang yang tidak waras atau kerasukan syaitan.

Di samping itu, dikisahkan bahwa orang-orang tersebut setelah memakan riba lalu menganggap jual beli merupakan suatu perbuatan yang haram, sehingga mereka terus mengkonsumsi dan nyaman dalam melakukan transaksi riba. 

Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan aturan yang telah Allah gariskan, di mana Allah menjadikan transaksi riba itu sebagai transaksi yang haram dan jual beli sebagai transaksi yang halal atau jalan keluar dari mengambil harta riba.

Allah menegaskan bahwa siapapun yang berhenti dari mengambil riba maka dia akan selamat dan bahagia dunia akhirat.

Sedangkan orang yang terus mengambil atau melakukan transaksi riba itu adalah orang yang paling rugi, karena kelak akan mendapatkan siksa yang sangat pedih dari Allah SWT.

Surah al-Baqarah ayat 276

Ayat ini merupakan ayat yang menyatakan bahwa Allah sangat membenci dan bahkan memusnahkan transaksi riba, karena transaksi riba membawa kemudharatan dan berbagai dampak buruk bagi manusia itu sendiri.

Kemudian setelah Allah melarang atau memusnahkan riba Allah menawarkan suatu perbuatan yang sangat baik untuk dilakukan yaitu sedekah, kenapa demikian?

Karena sedekah merupakan solusi untuk memperbaiki tatanan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, serta salah satu bentuk dari menginfakkan harta di jalan Allah.

Oleh karena itu, bagi siapapun yang meninggalkan riba dan memberikan sedekah akan menjadi orang yang sangat beruntung dan tidak akan ada kekhawatiran sedikitpun di dalam hatinya.

Allah menyukai orang yang selalu berbuat baik dan membenci orang yang tetap dalam kekafiran atau orang yang selalu berbuat dosa.

Jenis-jenis Riba


Berdasarkan kajian para Fuqaha, Mazhab Hanafiyyah, Malikiyah, dan Hanabilah mengelompokkan riba menjadi dua bagian, yaitu riba an-nasi'ah dan riba al-fadhl.

Riba an-nasi'ah adalah pertukaran atau penangguhan penyerahan barang ribawi (emas, perak, gandum, jewawut, kurma, dan garam) yang memiliki perbedaan mengenai kualitas, kuantitas, ataupun perbedaan lainnya pada saat barang tersebut dikembalikan ataupun ditukarkan.

Sedangkan yang dimaksud dengan riba al-fadhl adalah pertukaran barang sejenis dengan kualitas ataupun kuantitas yang berbeda (Marwini, 2017).

Hikmah Pelarangan Riba


Berikut beberapa hikmah dari adanya pelarang riba bagi umat manusia (Tho'in, 2016):
  • Dapat membentuk karakter dan pribadi manusia yang berakhlak mulia, peduli kepada sesama manusia, dan suka tolong-menolong dalam kebaikan. Sehingga kemungkinan untuk terjadi konflik dalam kehidupan bermasyarakat sangatlah kecil dan tidak berpeluang untuk memutuskan persaudaraan antara sesama umat manusia.
  • Mendidik manusia untuk terus produktif dan bekerja dengan penuh keikhlasan dan terhindar dari sikap bermalas-malasan.
  • Meningkatkan keahlian serta kemampuan manusia dalam memenuhi kebutuhannya, sehingga manusia menjadi makhluk yang memiliki kapasitas diri yang baik.

Dampak dari Praktek Riba


Berikut beberapa dampak yang timbul akibat adanya praktek riba (Salam, 2013):
  • Riba dapat menjadikan orang yang kaya akan semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin, hal ini dikarenakan orang miskin yang berutang pada orang kaya harus mengembalikan uang yang dipinjamnya melebihi dari jumlah pokok pinjaman.
  • Investasi pada bidang-bidang produktif akan menurun, dikarenakan orang-orang yang memiliki banyak dana menggunakan dananya untuk memberikan pinjaman berbunga, sehingga dana tersebut tidak memberikan manfaat lebih kepada masyarakat dan tidak dapat menciptakan lapangan kerja.
  • Usaha yang dibangun oleh seseorang dengan dana yang diperoleh dari pinjaman berbunga lama-kelamaan akan bangkrut dikarenakan laba yang diperoleh dari usaha tersebut harus digunakan untuk membayarkan bunga dan pokok pinjaman.
  • Riba dapat merusak kehidupan berumah tangga apabila si peminjam tidak mampu mengembalikan uang yang dipinjamnya ditambah bunga pinjaman.
  • Riba dapat menimbulkan permusuhan serta sikap tidak peduli terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain.
  • Riba adalah sebuah bentuk penjajahan secara halus yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain ataupun suatu negara terhadap negara lain.

Jalan Keluar dari Riba


Islam memiliki karakteristik yang luar biasa, di mana selalu mengubah hal-hal yang buruk menjadi hal yang baik, dengan demikian selalu muncul jiwa-jiwa untuk berijtihad dari orang muslim itu sendiri.

Berkaitan dengan hal ini, M. Nejatullah Siddiqi menawarkan sebuah ide mengenai Islamisasi ekonomi yaitu dengan upaya untuk mengubah cara pandang kapitalistik (sistem bunga-berbunga) menjadi sistem bagi hasil dengan akad musyarakah.

Oleh karena itu, ide tersebut menjadi suatu hal yang perlu ditanggapi dan dipertimbangkan dengan baik.

Tujuan pelarangan riba tidaklah terlepas dari upaya untuk mengajari umat manusia agar peduli antara satu sama lainnya dan saling tolong-menolong dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Di sisi lain, Islam juga mengajarkan umat manusia agar tidak hanya berfokus pada keuntungan semata akan tetapi harus memikirkan kegiatan sosial juga agar kehidupan umat manusia di dunia ini lebih tentram, aman, damai, dan makmur (Nurrohman, 2017).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian, Dalil, Jenis, Hikmah Pelarangan, dan Dampak dari Praktek Riba"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel