Pengertian, Jenis, Syarat dan Rukun Akad Mudharabah

Saat ini, akad mudharabah menjadi salah satu andalan perbankan syariah dalam penghimpunan dana dari masyarakat. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kemudahan atau manfaat yang ditimbulkan dari akad mudharabah itu sendiri. Salah satu manfaat yang paling menjanjikan yaitu adanya bagi hasil mudharabah atas pengelolaan modal mudharabah yang disetorkan oleh para nasabah (sahibul maal).

Pengertian, Jenis, Syarat dan Rukun Akad Mudharabah

Berikut ini merupakan sedikit penjelasan mengenai akad mudharabah, mari dibaca dengan saksama agar dapat menambah wawasan para pembaca semuanya:

1. Pengertian Akad Mudharabah


Mudharabah adalah sebuah ungkapan dalam hal penyerahan kepemilikan (modal) dari seseorang kepada orang lain atau dari suatu lembaga kepada lembaga lain, selanjutnya harta yang diserahkan tersebut digunakan sebagai modal untuk menjalankan sebuah usaha. Apabila usaha yang dijalankan mendapatkan hasil yang berupa keuntungan maka keuntungan tersebut harus dibagi sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat disaat akad mudharabah disetujui. Sedangkan bila diperoleh kerugian maka akan ditanggung oleh pihak yang menyerahkan modal. Jika dilihat pengertian mudharabah menurut syara'. maka mudharabah dapat diartikan sebagai akad yang dilakukan diantara dua belah pihak dengan tujuan untuk bekerja sama dalam sebuah perdagangan, yang mana salah satu pihak berperan sebagai pemberi modal kepada pihak lainnya untuk menjalankan sebuah usaha yang halal dan produktif. Setiap keuntungan yang didapatkan akan dibagi sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak yang melakukan akad (Fadhila, 2015).

Dalam akad mudharabah, terdapat asas keadilan yang dapat dirasakan secara langsung, hal ini terjadi karena kedua belah pihak sama-sama merasakan manfaat (keuntungan) dari hasil usaha yang mereka jalankan. Begitu juga dengan kerugian yang mereka dapatkan, di mana kedua belah pihak yang melakukan akad mudharabah menanggung kerugian secara bersama-sama, pihak yang memberikan modal (sahibul maal) menanggung kerugian yang berbentuk materi (modal), sedangkan pihak yang mengelola modal (mudharib) menanggung risiko non-materi (waktu, tenaga, dan pikiran). Dengan demikian, dalam akad mudharabah tidak seorang pun dibolehkan untuk mengambil manfaat (keuntungan) tanpa diikuti dengan menanggung risiko yang terjadi dalam kegiatan usaha (Usanti, 2016).

2. Tujuan Dilakukannya Akad Mudharabah


Tujuan dari dilakukannya akad mudharabah tidak terlepas dari sifat kerja sama. di mana dana yang ada pada sebelah pihak dan pihak tersebut tidak memiliki keahlian dalam bidang usaha, maka sangat diharapkan agar dana tersebut disalurkan kepada pihak yang memiliki keahlian di bidang itu. Karena, apabila dana tersebut dikelola oleh pihak yang tepat akan memberikan manfaat yang lebih daripada dikelola oleh pihak yang tidak memiliki keahlian dalam mengelola sebuah usaha. Dalam arti lain, tujuan mudharabah yaitu untuk menghindari dari perilaku menyia-nyiakan modal pemilik harta dan perilaku menyia-nyiakan keahlian yang dimiliki oleh tenaga ahli, yang mana tenaga ahli tersebut tidak memiliki modal sama sekali untuk memanfaatkan keahlian mereka (Ghofur, 2016).

3. Dalil Syariah Mengenai Akad Mudharabah


Istilah mudharabah berasal dari kata adh-dharbu fil ardhi, yang artinya yaitu berjalan di permukaan bumi, istilah berjalan di muka bumi ini sangat identik dengan melakukan usaha, berdagang, dan berjihad di jalan Allah. Para ulama mazhab telah sepakat bahwa akad mudharabah hukumnya boleh berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, Ijma', dan Qiyas (Hadi, n.d).

Dalil akad mudharabah yang bersumber dari al-Qur'an terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 283, di mana dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa apabila sebagian orang mempercayai sebagian lainnya, maka orang yang diberi kepercayaan (amanah) tersebut harus menunaikan amanahnya serta bertakwa kepada Allah. Hal yang paling berkaitan dengan mudharabah yaitu kata "amanah" di mana dalam akad mudharabah sikap menunaikan amanah sangat perlu atau penting untuk diterapkan, karena berpengaruh kepada berhasil atau tidaknya usaha yang dijalankan, bila saja salah satu pihak berdusta atau tidak menyampaikan informasi dengan benar dalam laporan keuangan mudharabah maka dapat dipastikan bahwa kerjasama tersebut tidak akan bertahan lama.

Sedangkan dalil akad mudharabah yang bersumber dari hadis terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas, hadis tersebut menceritakan tentang cara penyerahan harta mudharabah yang dilakukan oleh Abbas bin Abdul Muthalib, di mana beliau dalam menyerahkan harta mudharabah mensyaratkan kepada pihak yang mengelolanya agar mengelola dengan cara yang baik dan tidak berniat untuk merusaknya, misalnya saja beliau mengatakan agar harta yang diserahkan tersebut tidak dibawa untuk mengarungi lautan, menuruni lembah, dan membeli hewan ternak. Karena hal tersebut dapat merusak atau menggagalkan akad mudharabah, sementara itu persyaratan yang dikatakan Abbas didengar oleh Rasulullah dan Rasul pun membenarkan semua syarat yang telah disebutkan tersebut.

4. Jenis-jenis Akad Mudharabah


Jika dilihat secara umum, maka akad mudharabah terbagi kepada dua jenis yaitu (Hulam, 2010):

a. Mudharabah Muthlaq

Mudharabah muthlaq adalah jenis mudharabah yang memiliki ruang lingkup sangat luas dan tidak terikat dengan syarat-syarat tertentu mengenai materi usaha (waktu, lokasi usaha, jenis usaha, dan lain sebagainya). Dana yang diberikan oleh sahibul maal (pemilik modal) kepada mudharib (pengelola) dapat dikelola dengan bebas (mendapatkan kekuasaan untuk mengelola yang sangat besar).

b. Mudharabah Muqayyad

Mudharabah muqayyad adalah jenis mudharabah yang tidak bebas dan terikat dengan syarat-syarat tertentu, baik itu jenis usaha, waktu usaha, lokasi usaha, dan lain sebagainya. Dengan adanya pembatasan ini mencerminkan bahwa sahibul maal masuk ke dalam kegiatan usaha (ikut serta).

5. Rukun dan Syarat Akad Mudharabah


a. Rukun Mudharabah Menurut Ulama Syafi'iyah

Rukun mudharabah ada enam:
  • Adanya pemilik harta (sahibul maal) yang menyerahkan harta tersebut sebagai modal untuk menjalankan sebuah usaha.
  • Adanya pihak pengelola (mudharib), yang bertugas untuk mengelola harta yang berasal dari sahibul maal (pemilik harta).
  • Adanya pernyataan (ijab qabul) mengenai akad mudharabah yang dilakukan di antara sahibul maal dengan mudharib.
  • Adanya harta untuk dikelola (modal usaha).
  • Adanya bidang usaha yang dapat memberikan manfaat (keuntungan).
  • Keuntungan (Masse, 2010).

b. Syarat Sahnya Akad Mudharabah

  • Modal usaha haruslah berbentuk uang tunai, apabila modal yang diserahkan tersebut berbentuk emas atau perak batangan, perhiasan, dan sebagainya, maka akad mudharabah akan batal.
  • Kedua belah pihak yang melakukan akad harus sudah dewasa dan berakal sehat, jika akad mudharabah dilakukan oleh anak-anak atau pun orang gila, maka akad mudharabah tersebut akan batal.
  • Kedudukan modal harus jelas, supaya lebih mudah dalam hal membedakan antara modal dengan laba, hal ini diharuskan karena laba tersebut akan dibagi sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati pada awal akad, jika laba tidak jelas, maka bagi hasil juga akan tidak jelas.
  • Persentase pembagian keuntungan harus ditentukan dengan jelas.
  • Adanya ijab qabul antara sahibul maal (pemodal) dengan mudharib (pengelola).

6. Manfaat Akad Mudharabah


Pembiayaan dengan skema mudharabah menjadi kegiatan yang sangat strategis dalam proses pengembangan ekonomi nasional. Manfaat dari hasil kerja sama dengan skema mudharabah dapat dirasakan oleh kedua belah pihak (sahibul maal dan mudharib) secara adil. Manfaat tersebut antara lain:

a. Manfaat Mudharabah Bagi Mudharib (Pengelola Modal)

  • Pihak yang mengelola dana (mudharib) tidak diharuskan untuk memberikan modalnya dalam bentuk uang atau pun barang, akantetapi mudharib hanya perlu memberikan kontribusi yang berupa keahlian.
  • Pihak yang mengelola dana dapat memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan harga jual yang lebih rendah dari usaha yang dikelolanya. Proses perhitungan biaya bagi hasil usaha baru akan dilakukan setelah pihak yang mengelola dana membukukan semua transaksi yang terjadi dalam usahanya. Dengan demikian, pihak yang mengelola dana tidak menanggung biaya tetap diawal. Setiap biaya dari bagi hasil usaha tidak dapat diperhitungkan sebagian dari keseluruhan biaya produksi, hal ini dikarenakan biaya bagi hasil sangat tergantung dengan tingkat penjualan. Berbeda dengan sistem bunga (interest) yang sudah jelas berapa jumlah yang akan didapatkan oleh pihak yang melakukan transaksi. Pihak yang meminjam uang akan menghitung bunga tersebut sebagai bagian dari keseluruhan harga pokok produk, dengan demikian harga jual di kalangan konsumen akan lebih tinggi.
  • Mudharib lebih bersemangat untuk berusaha, sahibul maal akan memberikan kepercayaan secara penuh kepada mudharib dalam hal mengelola sebuah usaha. Selanjutnya, sahibul maal hanya akan menerima laporan secara periodik dari mudharib.
  • Apabila adanya kerugian maka mudharib tidak diharuskan untuk memberikan bagi hasil usaha.

b. Manfaat Mudharabah Bagi Sahibul Maal (Pemberi Modal)

  • Seiring dengan berkembangnya usaha yang dikelola oleh mudharib, maka sahibul maal juga akan turut menikmati hasil dari usaha tersebut.
  • Modal yang dimiliki oleh sahibul maal tidak habis dengan sia-sia.
  • Terjalin hubungan yang baik antara sahibul maal dengan mudharib.
  • Sahibul maal yang sebelumnya tidak memiliki keahlian untuk mengelola sebuah usaha, akan mendapatkan keahlian tersebut seiring berjalannya usaha mudharabah (Sa'diyah, 2013).

7. Perkara yang Membatalkan Akad Mudharabah


Berikut merupakan hal-hal yang dapat membatalkan akad mudharabah:
  • Adanya pembatalan terhadap akad mudharabah oleh salah-satu pihak, larangan bagi mudharib untuk berusaha (mengelola modal), dan pemecatan pihak pengelola.
  • Salah satu pihak yang melakukan akad mudharabah meninggal dunia.
  • Salah satu pihak yang melakukan akad menjadi gila.
  • Pihak yang memiliki modal (sahibul maal) berubah menjadi murtad.
  • Rusaknya (hilangnya) modal di tangan si pengelola (mudharib) (Windari, 2015).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian, Jenis, Syarat dan Rukun Akad Mudharabah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel