Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Karakteristik Akad Salam

Seiring dengan kemajuan teknologi dan pekembangan zaman, semakin berubah pula transaksi yang populer di kalangan masyarakat.

Dulu, sebelum berkembangnya era digital, mau beli sesuatu mesti harus ke pasar dulu, dan tentunya perlu mengeluarkan banyak uang untuk biaya transportasi.

Berbeda halnya dengan sekarang yang serba online, baik itu mau beli kue, pakaian, barang elektronik, atau sebagainya hanya memerlukan sedikit kouta untuk memesannya secara online.

Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana konsep transaksi online ini dalam ekonomi Islam?

Dan akad apa yang diaplikasikan dalam transaksi online ini?

Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Karakteristik Akad Salam

Secara sederhana, dalam ilmu ekonomi Islam transaksi yang berbasis online atau pemesanan sering diistilahkan sebagai transaksi salam atau akad salam. 

Akad salam ini sendiri merupakan teknik membeli barang dengan cara memesan barang terlebih dahulu dan pembayarannya langsung dibayar di muka atau dibayar terlebih dahulu, serta pengiriman barangnya dilakukan dikemudian hari.

Namun, untuk lebih jelasnya dapat disimak penjelasan di bawah ini:

Pengertian Akad Salam


Jual beli salam merupakan akad jual beli barang dengan cara pesanan, pembeli akan memesan barang terlebih dahulu kepada pihak penjual dengan menentukan spesifikasi tertentu, proses pembayaran dilakukan di muka, sedangkan pengiriman barang dilakukan dikemudian hari (Saprida, 2016).

Perbedaan Akad Salam dengan Akad Istishna


Berikut beberapa perbedaan antara akad salam dengan akad istishna:
  • Objek akad salam berupa tanggungan sedangkan objek akad istishna berupa benda.
  • Akad salam dibatasi dengan jangka waktu yang pasti sedangkan akad istishna tidak dibatasi dengan jangka waktu yang pasti.
  • Berdasarkan sifat maka akad salam dengan akad istishna itu berbeda, di mana akad salam bersifat mengikat kedua belah pihak yang melakukan transaksi, sedangkan akad istishna bersifat tidak mengikat atau bebas.
  • Pembayaran dalam akad salam dilakukan secara tunai di tempat dilakukannya akad sedangkan dalam akad istishna pembayaran boleh dilakukan diawal, ditengah, maupun diakhir (Hasanah, 2018).

Landasan Hukum Akad Salam


Berikut beberapa dalil yang dijadikan sebagai landasan hukum akad salam (Mustofa, 2017):

Surah al-Baqarah ayat 282

Ayat ini memerintahkan kepada orang-orang yang bertransaksi secara tidak tunai agar menyediakan seorang penulis yang jujur untuk mencatat transaksi tersebut secara benar dan akurat.

Hal ini bukan tanpa tujuan, akantetapi merupakan suatu upaya untuk berhati-hati agar suatu saat tidak terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi.

Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim

Hadis ini menegaskan bahwa siapapun orang yang menghutangkan sesuatu kepada orang lain, maka yang dihutangkan tersebut harus diketahui harganya secara pasti dan timbangan yang pasti pula, serta waktu pengembaliannya yang harus jelas agar tidak terjadi perselisihan.

Rukun dan Syarat-syarat Akad Salam


Berikut penjelasan mengenai rukun dan syarat-syarat akad salam:

Rukun-rukun Akad Salam

  • Adanya penjual dan pembeli
  • Adanya modal (uang)
  • Tersedianya barang
  • Adanya ijab qabul (serah terima barang)

Syarat-syarat Akad Salam

  • Kedua belah pihak harus saling ridha (rela) terhadap akad yang mereka lakukan.
  • Kedua belah pihak harus cakap hukum (Mujiatun, 2013).

Karakteristik Akad Salam


Berikut beberapa karakteristik akad salam:

Spesifikasi dan Harga Barang Harus Desepakati diawal Akad

  • Tidak dibenarkan adanya perubahan harga barang selama jangka waktu akad.
  • Pembeli dapat meminta jaminan dari pihak penjual untuk berjaga-jaga dari terjadinya kerugian.
  • Barang yang dipesan harus terlebih dahulu disepakati di antara pihak penjual dengan pihak pembeli.
  • Informasi mengenai objek salam (barang pesanan) harus diketahui dan ditentukan oleh kedua belah pihak, baik itu informasi mengenai jenis, kualitas, dan kuantitas barang.
  • Apabila penjual mengirim barang tidak sesuai dengan yang telah ditentukan oleh pihak pembeli maka penjual harus bertanggungjawab.

Adanya Beberapa Ketentuan Mengenai Proses Pembayaran

  • Alat pembayaran harus jelas berapa jumlah dan nilainya.
  • Proses pembayaran harus dilakukan disaat akad tersebut disepakati.
  • Pembayaran bukan bertujuan untuk pembebasan utang.

Barang yang Dijadikan sebagai Objek Salam Memiliki Beberapa Ketentuan

  • Barang harus jelas bentuk dan spesifikasinya agar dapat dianggap dan diakui sebagai utang bagi si pembeli.
  • Informasi barang harus dapat dijelaskan secara rinci agar tidak adanya selisih paham setelah terjadinya pembelian.
  • Waktu penyerahan barang dilakukan dikemudian hari setelah proses pemesanan selesai.
  • Tempat penyerahan barang harus jelas dan ditentukan diawal akad.
  • Pihak pembeli tidak boleh langsung menjual barang yang dibelinya sebelum barang tersebut sampai ke tangannya.
  • Tidak dibenarkan menukar barang kecuali dengan barang sejenis yang telah disepakati (Ningsih, 2015).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Karakteristik Akad Salam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel