Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat Akad Wakalah

Akad wakalah paling sering digunakan oleh orang yang memiliki pekerjaan yang menumpuk atau orang yang tiap harinya memiliki agenda penting untuk dilakukan.

Sehingga, dia memerlukan seseorang untuk diwakilkan dan bertindak sebagai penggantinya dalam melakukan sesuatu yang sudah tertunda atau hanya sekedar untuk menyampaikan amanahnya kepada pihak lain.

Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat Akad Wakalah

Tujuan dari diadakannya wakalah ini sebenarnya sangat simpel, yaitu agar dua buah pekerjaan dapat selesai dalam waktu yang bersamaan.

Dengan demikian, setiap kesempatan atau peluang yang ada selalu bisa diikuti, walaupun yang berkepentingan itu hanya satu orang, tapi dia dapat mewakilkan banyak orang untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Akad wakalah sangatlah mudah untuk dipraktekkan, asalkan punya dasar pengetahuan mengenai akad wakalah itu sendiri.

Anda mau mempraktekkan akad wakalah juga?

Simak dulu penjelasan di bawah ini, agar dalam mempraktekkannya menjadi lebih easy:

Pengertian Akad Wakalah


Wakalah merupakan akad pelimpahan kekuasaan dari satu pihak kepada pihak lainnya, untuk melakukan suatu kegiatan tertentu.

Akad ini akan dilakukan apabila seseorang tidak sempat untuk melakukan suatu pekerjaan sehingga ia membutuhkan orang lain untuk mengerjakannya (Nuhyatia, 2013).

Landasan Hukum Akad Wakalah


Islam membolehkan kegiatan pelimpahan kekuasaan dari satu pihak kepada pihak lain untuk bertindak sebagai penggantinya, berikut dalil yang membolehkannya (Sobirin, 2012):

Surah al-Kahfi ayat 19

Ayat ini menceritakan tentang perwakilan atau wakalah yang dilakukan oleh anggota Ashabul Kahfi, di mana salah satu anggotanya diwakilkan oleh yang lainnya untuk pergi ke pasar dengan membawaa uang perak yang dimilikinya untuk mencari makanan yang baik agar bisa dikonsumsi oleh anggota yang lainnya.

Surah al-Baqarah ayat 283

Perwakilan yang terdapat dalam ayat ini yaitu perwakilan seseorang untuk menjamin hutang orang lain dan membayarnya, di sini Allah menegaskan bahwa orang yang sudah dipercayai untuk membayar hutang itu harus menepati janjinya atau memenuhi amanahnya.

Tak hanya itu, juga disebutkan bahwa bagi para saksi yang terlibat dalam hutang-piutang tidak boleh untuk menyembunyikan persaksiannya, agar semua masalah dapat diselesaikan dengan mudah.

Syarat dan Rukun Akad Wakalah


Rukun-rukun Akad Wakalah

  • Adanya pihak yang mewakilkan dan yang menerima wakilan.
  • Adanya objek wakalah (barang atau pekerjaan) yang akan diwakilkan.
  • Adanya ijab qabul (serah terima barang) diantara pihak yang berakad (Rizal, 2015).

Syarat-syarat Akad Wakalah

  • Barang atau urusan yang akan diwakilkan haruslah merupakan bagian dari hak dan kekuasaan pewakil, bukan merupakan barang atau pekerjaan orang lain.
  • Pewakil dan yang menerima wakilan harus baligh dan berakal.
  • Hal yang diwakilkan harus jelas agar pihak yang menerima wakilan dapat mengerjakan atau melanjutkan dengan benar.
  • Ijab dan qabul (ijab dari pewakil untuk menunjukkan kerelaannya dalam mewakilkan sesuatu dan qabul dari penerima wakilan untuk menunjukkan kerelaannya dalam menerima hal yang diwakilkan kepadanya) (Meilano, 2018).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat Akad Wakalah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel