8 Prinsip Dasar yang Terkandung dalam Asuransi Syariah

Prinsip-prinsip yang ada dalam Asuransi Syariah tentunya dapat memberikan kelebihan tersendiri, dan dapat menjadi faktor pembeda dengan asuransi lainnya. Hal ini dikarenakan sebagian besar prinsip Asuransi Syariah berasal dari nilai atau etika yang bersumber dari syariah Islam, atau dalam kata lain mengacu kepada aturan yang bersumber dari al-Qur'an dan Hadis.

8 Prinsip Dasar yang Terkandung dalam Asuransi Syariah

Dengan demikian, dalam operasionalnya Asuransi Syariah harus selalu berusaha untuk tidak melanggar atau bertentangan dengan aturan syariah. Serta menjadikan prinsip-prinsip yang sudah ada tersebut sebagai acuan atau pedoman dalam hal pengambilan keputusan. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai delapan prinsip dasar Asuransi Syariah dapat disimak penjelasan berikut ini:

1. Prinsip Tauhid (Unity)


Allah SWT. telah menjadikan prinsip tauhid (ketakwaan) sebagai prinsip yang paling penting dan utama dalam kegiatan muamalah, khususnya dalam kegiatan berbisnis ataupun berasuransi.

Dengan demikian setiap upaya yang dilakukan dalam hal berbisnis ataupun berasuransi haruslah mengarah kepada peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Salah satu contoh dari upaya peningkatan kualitas ketakwaan atau keimanan yaitu dengan cara menggunakan sistem syariah dalam menjalankan asuransi, dan menghindari segala bentuk aktivitas ataupun transaksi yang dilarang dalam syariat Islam (Khozin, 2008).

2. Prinsip Keadilan (Justice)


Prinsip ini sering diistilahkan dengan keseimbangan prestasi antara pihak asuransi dengan para peserta (Ismanto, 2014).

Di samping itu, dapat kita pahami bahwa dalam Islam keadilan itu sendiri sangat diperlukan dan menjadi prinsip utama yang harus dipenuhi atau dalam kata lain keadilan merupakan cikal-bakal dalam melaksanakan semua bentuk ajaran dan hukum Islam, baik itu berupa akidah, akhlak (moral), maupun syariah (Tho'in, 2015).

3. Prinsip Tolong-menolong (Ta'awun)


Prinsip tolong-menolong (ta'awun) dalam asuransi sering diaplikasikan dalam akad tabarru' yang dijalankan berdasarkan sistem syariah dengan tujuan untuk memberikan kemaslahatan bagi kedua belah pihak (perusahaan asuransi dan para peserta) (Hosen, 2013).

4. Prinsip Amanah (Trustworthy)


Prinsip amanah sangatlah penting untuk diterapkan dalam Asuransi Syariah dikarenakan prinsip ini meliputi di antaranya yaitu keamanan, kejujuran, dan dapat dipercaya.

Prinsip amanah sebenarnya tidak hanya berfokus pada kegiatan berasuransi semata akan tetapi juga berkaitan dengan hal-hal berikut, yaitu: a) amanah yang berkaitan dengan Allah (menjalankan perintah dan meninggalkan larangan), b) amanah yang berhubungan dengan manusia (menjalankan tugas yang diberikan oleh orang lain dengan penuh keikhlasan), dan c) amanah atas diri sendiri (melakukan sesuatu yang membawa manfaat kepada diri sendiri dan masyarakat pada umumnya) (Agung, 2016).

5. Prinsip Kerelaan (Ar-Ridha)


Prinsip ini berkaitan erat dengan sebuah akad, di mana setiap jenis akad yang dilakukan oleh pihak asuransi dengan para pesertanya haruslah didasari oleh kesepakatan (kerelaan/ridha).

Apabila sebuah akad yang dilakukan dengan tidak adanya kerelaan dari kedua belah pihak maka akad tersebut akan dikategorikan kepada perbuatan yang batil, hal ini dikarenakan adanya pihak yang terzalimi dari adanya akad tersebut (Abdullah, 2015).

6. Prinsip Larangan Riba


Prinsip ini sangatlah penting untuk diterapkan dalam Asuransi Syariah. Dikarenakan dengan adanya larangan riba dapat mengurangi tingkat ketimpangan ekonomi antara masyarakat miskin dengan masyarakat kaya, atau dalam kata lain orang kaya tidak semakin kaya dan orang miskin tidak semakin miskin (seimbang).

Riba itu sendiri berarti kelebihan atau ziyadah yang tidak didasari oleh perbuatan atau imbalan, kelebihan tersebut biasanya terjadi pada transaksi pinjam-meminjam uang ataupun jual beli barang sejenis dengan berbeda takaran.

Contohnya: Si A memberikan pinjaman kepada Si B sejumlah Rp100.000 akan tetapi Si A mensyaratkan bahwa pada saat Si B mengembalikan uangnya, maka harus dikembalikan dengan jumlah Rp110.000, kelebihan atas pinjaman pokok tersebutlah yang dikategorikan sebagai riba (Tho'in, 2016).

7. Prinsip Larangan Judi (Maysir)


Maysir sering diartikan sebagai perbuatan atau pun usaha untuk memperoleh sesuatu dengan cara yang mudah dan tidak perlu melakukan banyak usaha.

Contoh dari kegiatan maysir antara lain yaitu perjudian, taruhan, ataupun permainan yang berisiko lainnya (Kurniawan, 2017).

8. Prinsip Larangan Ketidakjelasan (Gharar)


Larangan ketidakjelasan (gharar) dalam Asuransi Syariah bertujuan untuk menghindari terjadinya kerugian salah satu pihak akibat ketidaktahuan atas objek yang ditransaksikan.

Gharar itu sendiri merupakan ketidakjelasan dari kedua belah pihak, dengan demikian risiko yang ditimbulkan pun begitu tinggi (Najamuddin, 2014).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "8 Prinsip Dasar yang Terkandung dalam Asuransi Syariah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel