Asas-asas Perjanjian dalam Hukum Kontrak Syariah

Sebuah perjanjian atau akad yang dijalankan tentunya memiliki berbagai macam asas atau landasan di dalamnya.

Pembentukan asas tersebut tentunya agar sebuah akad yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan aturan syariah.

Singkatnya, asas perjanjian dapat mencerminkan seberapa baik atau buruknya suatu akad yang dilakukan.

Asas-asas Perjanjian dalam Hukum Kontrak Syariah

Penentuan asas dalam sebuah kontrak tentunya dilakukan dengan cara hati-hati dan penuh dengan berbagai macam pertimbangan, di antaranya yaitu dengan berpedoman pada sumber utama (al-Qur'an dan Hadis).

Untuk mencapai suatu keberkahan dalam perjanjian atau akad maka sudah semestinya orang yang melakukan akad tersebut paham terhadap asas-asas yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itu, usaha untuk mempelajari mengenai asas-asas tersebut sangatlah penting dan utama.

Berikut ini merupakan asas-asas perjanjian yang ada dalam hukum kontrak syariah, mohon disimak dengan baik agar setiap akad yang dijalankan dapat bernilai ibadah atau sesuai dengan maqashid syariah:

Asas Ilahiyah atau Asas Tauhid


Segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia tidak terlepas dari ketentuan Allah SWT.

Dalam perjanjian, asas ketauhidan menjadi hal yang paling penting untuk diperhatikan, dikarenakan asas tersebut dapat menjadikan manusia lebih yakin dan percaya bahwa semua perbuatannya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT. di hari kiamat kelak, sehingga manusia akan lebih berhati-hati dalam melakukan setiap aktivitas, termasuk aktivitas yang berhubungan dengan perjanjian itu sendiri (Muayyad, 2015).

Asas Konsensualisme (Al-Ridha)


Asas ini menyatakan bahwa sebuah perjanjian dapat tercipta dengan adanya kerelaan dari kedua belah pihak yang melakukan akad dan tidak terikat dengan formalitas tertentu.

Dalam hukum Islam, pada dasarnya semua akad yang dilakukan didasari dengan asas konsensualisme (al-ridha), hal ini tentunya agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kedua belah pihak di kemudian hari (Aswad, 2013).

Asas Kebebasan Berakad


Pihak-pihak yang berakad memiliki kebebasan dalam hal menjalankan sebuah akad, kebebasan yang dimaksud antara lain:
  1. Kebebasan mengenai objek yang akan diakadkan;
  2. Kebebasan dalam menentukan syarat-syarat tertentu dalam akad; dan
  3. Kebebasan dalam hal penyelesaian sengketa.
Akan tetapi, semua bentuk kebebasan yang dibolehkan di sini haruslah tidak bertentangan dengan syariah Islam, hal ini tentunya agar akad yang dilakukan dapat bermanfaat dan berkah bagi kedua belah pihak (Abdullah, 2015).

Asas Perlindungan


Asas ini menjelaskan bahwa pentingnya pemberian perlindungan hukum bagi pihak yang melakukan sebuah perjanjian (debitur dan kreditur).

Akan tetapi, pihak yang harus diutamakan untuk dilindungi hukum yaitu pihak debitur, di mana pihak debitur merupakan pihak yang lemah dari segi keuangan (Muhtarom, 2014).

Asas Mengikatnya Kontrak


Asas ini menjelaskan bahwa para pihak yang telah membuat sebuah perjanjian akan terikat dengan perjanjian tersebut dan diharuskan baginya untuk menjalankan atau memenuhi perjanjian.

Dengan demikian, sikap menghargai sebuah kontrak (perjanjian) sangat diutamakan, hal ini agar tercapainya tujuan dari perjanjian itu sendiri.

Para hakim maupun pihak ketiga harus benar-benar memahami substansi perjanjian itu sendiri dan tidak boleh melakukan campur tangan atas substansi perjanjian tersebut (Hudiata, 2014).

Asas Keseimbangan Prestasi


Asas ini menjelaskan bahwa pentingnya keseimbangan prestasi antara kedua belah pihak yang melakukan perjanjian.

Pihak kreditur memiliki hak untuk menuntut prestasi dan bila diperlukan pihak kreditur juga dapat menuntut pelunasan prestasi dari kekayaan yang dimiliki oleh pihak debitur.

Di samping itu, pihak kreditur berkewajiban untuk melakukan perjanjian dengan didasari oleh iktikad baik (Muhtarom, 2014).

Asas Keadilan


Setiap perjanjian yang dilakukan oleh kedua belah pihak haruslah didasari oleh nilai-nilai keadilan yang sehingga dapat menjamin kepentingan dari masing-masing pihak.

Keadilan itu sendiri meliputi kebenaran dalam menyampaikan informasi dan keseimbangan dalam memenuhi hak masing-masing pihak (Abdullah, 2015).

Asas Persamaan/Kesetaraan (Al-Musawah)


Asas ini menjelaskan bahwa pentingnya memperhatikan kesetaraan dan persamaan hak masing-masing pihak dalam menjalankan sebuah perjanjian.

Di samping itu, kedua belah pihak juga memiliki kedudukan yang sama dengan wewenang yang sama juga (Aswad, 2013).

Asas Kebenaran dan Kejujuran (As-Siddiq)


Asas ini menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam melaksanakan sebuah perjanjian, dikarenakan asas ini berhubungan langsung dengan sah atau tidaknya sebuah perjanjian.

Apabila salah satu pihak telah berbohong terkait dengan objek yang diperjanjikan, maka dapat dikatakan bahwa pihak tersebut telah merusak sebuah perjanjian (Abdullah, 2015).

Asas Perikatan Tertulis (Al-Kitabah)


Asas ini sangatlah penting untuk dilaksanakan dalam sebuah perjanjian, dikarenakan dengan dicatatnya perjanjian yang telah dibuat dapat mencegah kesalahpahaman dikemudian hari.

Asas perikatan tertulis ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 282 (Abdullah, 2015).

Asas Kepastian Hukum


Pada dasarnya, setiap transaksi muamalah yang dilakukan oleh manusia hukumnya boleh, selama belum ada dalil yang melarangnya, atau dalam kata lain apabila sudah ada dalil terkait dengan transaksi tersebut maka setiap pihak harus mematuhinya (Hidayat, 2017).

Asas Iktikad Baik


Pengukuran asas iktikad baik itu sendiri mengacu kepada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat setempat, atau adat yang sudah dijadikan sebagai sumber hukum dalam kehidupan masyarakat, asas ini biasanya tidak tertulis akan tetapi melekat pada pribadi pihak yang melakukan sebuah perjanjian (Marwah, 2016).

Asas Kepribadian


Tujuan dari asas ini yaitu untuk menegaskan bahwa perjanjian/kontrak yang dibuat oleh kedua belah pihak hanya berlaku untuk kepentingan mereka saja.

Atau dalam kata lain, tidak dibolehkan melakukan sebuah perjanjian yang didasari pada kepentingan pihak lain (Muhtarom, 2014).

Asas Kemanfaatan/Kemaslahatan


Selain untuk mencapai tujuan utama dalam sebuah perjanjian atau kontrak, para pihak juga diharapkan agar dapat memperhatikan dan mempertimbangkan asas kemanfaatan/kemaslahatan yang dapat timbul  dari pelaksanaan perjanjian tersebut.

Apabila kadar kemudharatan lebih besar dibandingkan dengan kemaslahatan, maka sebaiknya para pihak tidak melakukan perjanjian tersebut (Hidayat, 2017).

Asas Ikhtiyati/Kehati-hatian


Asas ini harus dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan sebuah kontrak, kedua belah pihak harus melakukannya secara hati-hati dan juga harus menganalisis dampak yang dapat ditimbulkan serta cara penyelesaian terhadap risiko yang kemungkinan terjadi.

Segala bentuk aktivitas yang berhubungan dengan perjanjian tersebut harus dicatat dan diketahui oleh kedua belah pihak agar memudahkan dalam penyelesaian masalah (Usanti, 2016).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel