Kekuatan Dinar dan Dirham Sebagai Alternatif Mata Uang di Indonesia

Uang merupakan alat tukar yang digunakan dalam berbagai transaksi barang dan jasa.

Uang terdiri dari berbagai jenis.

Namun, yang akan dibahas dalam artikel ini hanya dua jenis mata uang saja yaitu dinar dan dirham. Dinar merupakan jenis mata uang yang terbuat dari logam mulia (emas) dan dirham terbuat dari perak.

Kekuatan Dinar dan Dirham Sebagai Alternatif Mata Uang di Indonesia

Dinar dan dirham sudah lama digunakan sebagai mata uang di berbagai belahan dunia, tepatnya dimulai pada abad ketujuh SM.

Penggunaan dinar dan dirham sebagai mata uang di sebuah negara bukan tidak memiliki tujuan, akan tetapi penggunaan dinar dan dirham digunakan karena nilai dari kedua mata uang tersebut relatif stabil sehingga tingkat inflasi dapat ditekan menjadi lebih kecil (Alhifni, 2016).

Berikut ini merupakan penjelasan lebih lengkap mengenai kekuatan dinar dan dirham sebagai alternatif mata uang di Indonesia, silakan disimak agar dapat menambah wawasan sobat semua:

Sejarah Penggunaan Dinar dan Dirham


Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab, jenis mata uang dinar dan dirham telah diperkenalkan kepada masyarakat banyak.

Dinar dan dirham dijadikan sebagai alat untuk bertransaksi, dan di samping itu juga dijadikan sebagai standar alat tukar di berbagai negara Islam.

Dinar dan dirham memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang sangat baik, sehingga menyebabkan kedua jenis mata uang tersebut dikenal secara global, serta dianggap relevan sebagai alat pelunasan utang, investasi, dan tabungan yang baik di beberapa negara (Ilmi, n.d).

Sistem Dinar dan Dirham


Dinar dan dirham dapat digunakan secara bersamaan dikarenakan sistem dari keduanya hampir sama.

Negara Islam, dimulai dari hijrahnya Rasulullah SAW. telah membuat kebijakan yang berlandaskan kepada standar uang yang terbuat dari emas dan perak sekaligus, dengan tidak dipisahkan antara keduanya.

Oleh karena itu, kebijakan moneter yang dilakukan harus tetap didasari dengan standar emas dan perak.

Alat tukar yang beredar di kalangan masyarakat haruslah berupa dinar dan dirham ataupun uang kertas dengan disediakan jaminan yang berupa emas dan perak yang disimpan di suatu tempat, seperti bank sentral.

Jika kita simak lebih lanjut, maka kita akan mengetahui beberapa kelebihan atau manfaat dari uang emas berikut ini (Surahman, 2016):
  1. Dengan adanya sistem dinar maka akan berdampak kepada kebebasan dalam hal tukar-menukar emas, mengimpor, atau bahkan mengekspor emas, yang mana dengan adanya kebebasan tersebut dapat memberikan peluang serta peranan yang baik bagi kekuatan uang (alat tukar), perekonomian, atau bahkan kekayaan. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan terjadi aktivitas pertukaran mata uang, dikarenakan adanya pengaruh tekanan dari luar negeri yang sehingga mempengaruhi gaji pekerja dan harga-harga barang di pasaran.
  2. Sistem uang yang terbuat dari emas juga akan menjadikan kurs pertukaran uang antarnegara akan sama (tetap), hal ini tentunya dapat memberikan pengaruh yang baik bagi perdagangan internasional, karena dapat memudahkan para pebisnis dalam hal bersaing antara satu sama lainnya.
  3. Dengan adanya sistem uang emas akan berakibat kepada tidak mungkinnya pemerintah dan bank-bank pusat untuk mengedarkan uang kertas secara luas, dikarenakan uang kertas tersebut bisa langsung dikonversi menjadi uang emas dengan harga yang sesuai dengan nilai uang kertas tersebut.
  4. Penggunaan mata uang di berbagai negara selalu didasari pada standar tertentu diantaranya yaitu emas. Hal itulah yang menjadikan transaksi antarnegara begitu mudah, serta mengurangi tingkat potongan dan kelangkaan uang.
  5. Masing-masing negara akan berupaya untuk menjaga emas yang mereka miliki, hal ini bertujuan untuk menghindari dari tindakan pelarian emas dari negara satu ke negara lainnya.

Analisis SWOT Dinar dan Dirham


Berikut ini sedikit penjelasan mengenai analisis SWOT untuk memperjelas kekuatan dinar dan dirham sebagai alternatif mata uang di Indonesia (Haerisma, 2011):

Kekuatan (Strength)

  1. Dinar dan dirham mempunyai nilai yang tetap, dengan demikian pertukaran dinar dan dirham antara negara satu dengan negara lain sama harganya (pertukaran dinar dan dirham melalui export-import). Berbeda halnya dengan fiat money yang hanya mempunyai nilai nominal yang telah ditentukan berdasarkan kebijakan pemerintah (government policy).
  2. Dinar dan dirham berbasis pada nilai riil dari bahan pembuatannya, maka nilai kedua mata uang tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi harga emas dan perak.
  3. Adanya kewajiban seorang muslim untuk membayar zakat maal apabila telah sampai nisab, batasan nisab untuk zakat maal yaitu 20 dinar (85 gram emas 22 karat), yang harus dizakati sebanyak 1/2 dinar (2,5%). Sedangkan nisab zakat dirham yaitu 200 dirham dan yang wajib dibayar sebanyak 5 dirham.

Kelemahan (Weakness)

  1. Emas tidak tersedia secara merata di berbagai negara Islam, sehingga kesenjangan dan ketimpangan bisa timbul dari kegiatan perdagangan antarnegara Islam.
  2. Emas termasuk ke dalam jenis logam yang sangat mudah untuk dicetak atau dibentuk, dengan demikian kegiatan pemalsuan terhadap dinar sangat tidak bisa dihilangkan. Hal yang biasa dipalsukan yaitu mengenai tingkat kemurnian emas dan berat satuan dinar yang tidak memenuhi standar.

Peluang (Opportunity)

  1. Adanya hubungan bilateral antara negara-negara muslim dan organisasi internasional seperti IBD, ASEAN, OPEC, OKI, dan sebagainya.
  2. Dinar dan dirham dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk mempersatukan umat Islam dari seluruh dunia yang mana kedua jenis mata uang tersebut dijadikan sebagai alat untuk tukar-menukar barang dalam perdagangan, memperbaiki ekonomi dunia, dan berbagai kebutuhan lainnya.
  3. OKI (Organization Conferensi Islamic) telah meluncurkan dinar dan dirham tepatnya pada tahun 2003 sebagai alat yang digunakan untuk bertransaksi pada perdagangan bilateral dan multilateral di kalangan negara-negara Islam.
  4. Beberapa lembaga keuangan syariah telah menggunakan dinar dan dirham dalam hal transaksinya, seperti Baitul Maal, Muamalat, dan BMT Al-Kautsar.
  5. Sudah tersedia dinar dan dirham di gerai untuk kebutuhan transaksi di seluruh Indonesia.
  6. Terdapatnya jaringan tingkat internasional yang menggunakan dinar dan dirham yang disebut sebagai e-dinar dan tersebar luas di berbagai belahan dunia, semua negara telah sepakat untuk memberikan yang terbaik bagi kepentingan bersama.
  7. Dinar dan dirham dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama, dikarenakan bahan dasar pembuatannya berupa emas dan perak.

Tantangan (Threats)

  1. Dinar dan dirham belum dianggap sebagai mata uang resmi atau yang telah dilegalkan di Indonesia maupun negara lain, dengan demikian kita tidak dapat memaksa diri untuk menetapkan dinar dan dirham sebagai mata uang yang sah dalam bertransaksi sehari-hari.
  2. Belum adilnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi pihak-pihak yang menggunakan dinar. Dalam UU No. 18 Tahun 2000 di pasal 4.A ayat 2.D menyebutkan bahwa "uang, emas batangan, dan surat-surat berharga" ditetapkan sebagai jenis barang yang tidak dikenakan PPN, akan tetapi dalam prakteknya dinar dikenakan PPN dengan alasan dinar bukan uang dan bukan emas batangan.
  3. Belum adanya keberanian dari berbagai organisasi besar yang tersebar di berbagai belahan dunia, organisasi yang dimaksud yaitu: OKI, OPEC, dan sebagainya, untuk memperjuangkan kebijakan politik yang kini meresahkan hati masyarakat akibat dari adanya sistem kapitalis.
  4. Pendidikan masyarakat mengenai mata uang dinar dan dirham masih belum maksimal, hal ini dikarenakan adanya keterbatasan mengenai informasi, kebutuhan dasar, dan kebijakan pemerintah dalam hal mendukung kedua mata uang tersebut.
  5. Pemikiran masyarakat Indonesia masih terbelenggu dengan sistem politik dan ekonomi luar negeri, dengan demikian dinar dan dirham tidak dapat berkembang dengan cepat dan pesat.
  6. Masyarakat yang ada di negara Islam masih sangat tergantung dengan berbagai produk yang dihasilkan atau diproduksi dari negara non-Islam, terkhususnya produk-produk industri yang dirancang dengan teknologi yang canggih.
  7. Nilai dari kegiatan perdagangan yang masih tergolong kecil antara sesama anggota organisasi internasional, contohnya OKI dan sebagainya, hal ini tentunya akan menjadikan signifikansi emas tidak sepenuhnya substantif.
  8. Adanya kesalahan dari perilaku manusia yang berusaha untuk menjadikan dinar dan dirham sebagai barang perhiasan, sehingga mengakibatkan nilai dinar dan dirham menjadi tidak stabil lagi (instabilitas).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel