Konsep Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam

Mempelajari tentang konsep uang dalam perspektif Ekonomi Islam menjadi hal yang paling penting bagi kita semua. Hal ini tentunya berguna untuk menghindari penyalahgunaan uang itu sendiri. Semakin paham kita tentang konsep uang yang ada dalam Ekonomi Islam, maka akan semakin tepat dan benar dalam hal penggunaannya.

Konsep Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam

Dalam Ekonomi Islam, uang dipandang sebagai alat tukar-menukar bukan sebagai barang yang dapat diperjualbelikan. Dengan demikian, penggunaan uang harus selalu sesuai atau sejalan dengan fungsi dari uang itu sendiri. Untuk lebih jelasnya mari simak penjelasan di bawah ini:

1. Pengertian Uang


Uang merupakan sebuah alat yang dapat diterima secara umum sebagai pembayaran untuk pembelian berbagai barang dan jasa, ataupun untuk pembayaran berbagai jenis utang.

Di samping itu, uang juga bisa didefinisikan sebagaimana fungsi yang melekat pada uang itu sendiri, yaitu sebagai alat tukar-menukar, sebagai satuan hitung, sebagai alat untuk menyimpan daya beli/nilai terhadap barang dan jasa, dan juga sebagai sebuah standar pembayaran di sebuah negara (Mansur, 2009).

2. Definisi Uang menurut Al-Ghazali


Uang merupakan sebuah alat yang dapat digunakan untuk mendapatkan barang atau jasa (medium of exchange).

Uang tidaklah memiliki nilai sebagaimana nilai yang terkandung dalam sebuah barang atau jasa yang ditawarkan (tidak ada nilai intrinsik), akan tetapi uang tersebut memiliki nilai sebagaimana jumlah nominal yang tertera pada uang itu sendiri.

Hal yang memiliki peran penting dari setiap lembar uang atau di setiap jumlah nominal uang yaitu daya tukar uang tersebut terhadap barang dan jasa (Jalaluddin, 2014).

3. Konsep Uang dalam Ekonomi Islam


Dalam Ekonomi Islam, uang dianggap sebagai suatu alat yang dimiliki secara umum (money is public goods), siapa saja yang berusaha untuk menimbun uang atau menjadikan uang tidak dapat digunakan secara produktif, maka orang tersebut sudah dikategorikan sebagai seseorang yang berusaha untuk memperlambat pertumbuhan perekonomian di sebuah negara.

Hal ini tentunya dipengaruhi oleh kurangnya jumlah peredaran uang itu sendiri, atau dalam kata lain, semakin uang tidak produktif maka proses pertukaran dan perekonomian akan semakin terhambat.

Jika dilihat dari perspektif keagamaan, orang-orang yang tugasnya hanya menimbun uang maka akan berpengaruh pada sifat orang itu sendiri, di mana orang tersebut akan berubah menjadi semakin tamak, malas beribadah, dan juga tidak rela untuk mengorbankan hartanya di jalan Allah (zakat, infak, dan sedekah).

Dengan berbagai efek buruk yang ditimbulkan akibat dari kegiatan penimbunan uang maka Islam sangat melarang kegiatan penimbunan itu sendiri (Endriani, 2015).

4. Pandangan Islam terhadap Uang


Islam memandang uang sebagai alat tukar, bukan sebagai barang atau komoditi yang dapat diperjualbelikan.

Peran uang dalam Islam yaitu untuk menghilangkan ketidakadilan dan ketidakjujuran yang terjadi akibat tukar-menukar yang dilakukan secara barter (tukar barang dengan barang).

Unsur ketidakadilan dan ketidakjujuran yang ada dalam transaksi barter yaitu adanya riba fadhl, maksud dari riba fadhl itu sendiri yaitu riba yang terjadi dari kegiatan tukar-menukar barang sejenis dengan berbeda kualitas ataupun kuantitasnya.

Uang dapat memberikan kemudahan dalam setiap transaksi yang dilakukan, dikarenakan dengan adanya uang tersebut, maka setiap barang yang diperjualbelikan akan memiliki harga yang lebih jelas.

Tak hanya itu, dengan adanya uang maka akad-akad yang menyangkut dengan agama juga akan semakin mudah untuk dilakukan, seperti membayar zakat yang jumlah nisabnya sudah dikonversi ke dalam bentuk uang, memberikan wakaf, atau sedekah lainnya (Ilyas, 2016).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Konsep Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel