Konsumsi dalam Perspektif Ekonomi Islam

Sebelum kita membahas pengertian konsumsi secara Islami, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian konsumsi dalam ilmu Ekonomi Konvensional, di mana dalam ilmu Ekonomi Konvensional konsumsi tersebut diartikan sebagai kegiatan membeli barang dan jasa untuk memuaskan keinginan dengan cara menggunakan barang dan jasa tersebut.

Konsumsi dalam Perspektif Ekonomi Islam

Beda halnya dengan konsumsi dalam Ekonomi Islam, di mana konsumsi tersebut diartikan sebagai aktivitas penggunaan sebuah komoditas yang baik dan halal secara syariat, atau dalam kata lain bukan merupakan penggunaan barang dan jasa yang diharamkan.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa pengertian dari konsumsi Islami yaitu pembelian barang ataupun jasa yang memberikan manfaat bagi yang mengkonsumsi, sesuai dengan nilai-nilai maqashid syariah, dan membawa maslahah bagi individu itu sendiri maupun bagi masyarakat banyak (Elvira, 2016).

Baiklah untuk lebih jelasnya mengenai konsumsi dalam perspektif ekonomi Islam, dapat disimak penjelasan di bawah ini:

Perilaku Konsumsi dalam Islam


Jika kita tinjau secara garis besar mengenai perilaku konsumsi dalam Ekonomi Islam, maka akan kita temui beberapa hal yang dapat mempengaruhi perilaku dan kepuasan konsumen itu sendiri, hal-hal tersebut antara lain (Septiana, 2016):
  1. Nilai guna (utility) dari sebuah barang yang akan dikonsumsi.
  2. Kemampuan para konsumen dalam hal memperoleh barang dan jasa untuk dikonsumsi, serta daya beli dari pemasukan konsumen dan tingkat ketersediaan barang dan jasa di pasar.
  3. Selanjutnya konsumen akan cenderung untuk mengkonsumsi dengan didasari oleh beberapa hal di antaranya pengaruh budaya, pengalaman masa lalu, agama, atau bahkan selera dari konsumen itu sendiri.

Dari ketiga point di atas perlu kita ketahui bahwa dalam Islam sangat diharapkan agar manusia tidak melakukan konsumsi secara berlebihan dan mengarah kepada perilaku boros, akan tetapi Islam menginginkan umatnya untuk mengkonsumsi sesuai dengan norma-norma ataupun etika-etika konsumsi yang telah diajarkan dalam syariah.

Dengan kata lain, kegiatan konsumsi dalam Islam tidak hanya berfokus pada pemenuhan hawa nafsu semata, tapi juga berfokus sejauh mana seorang muslim itu dapat mematuhi aturan syariah, khususnya aturan yang berkaitan dengan konsumsi (Bahri S, 2014).

Jika kita lihat secara saksama tentang konsumsi Islam, maka akan kita temui dua jenis konsumsi yaitu konsumsi yang dilakukan karena adanya kebutuhan (hajat) dan konsumsi yang dilakukan akibat adanya kegunaan (manfaat).

Dalam ilmu Ekonomi Konvensional kedua hal tersebut seperti disamakan sehingga menimbul kesukaran bagi manusia dalam membedakan antara keinginan dengan kebutuhan dan hal itu tentunya kurang baik bagi kegiatan konsumsi masyarakat atau dalam kata lain dapat mengarah kepada penyalahan pembelanjaan harta (Jenita, 2017).

Batasan dalam Konsumsi menurut Islam


Kegiatan konsumsi yang berlebih-lebihan dilarang dalam Islam, dan kegiatan tersebut digolong kepada kegiatan israf (pemborosan) atau kegiatan tabzir (menghambur-hamburkan harta secara sia-sia).

Tabzir, sering juga diartikan sebagai proses pemanfaatan harta yang salah, dan mengarah kepada hal-hal yang dilarang, seperti halnya suap-menyuap, atau berbagai kegiatan yang melanggar aturan syariat lainnya.

Di balik semua itu, Islam telah memberikan pedoman bagi umat manusia mengenai tata cara konsumsi yang benar, yaitu dengan cara tidak berlebihan dan tidak kikir, atau dengan kata lain konsumsi yang dibenarkan dalam Islam yaitu konsumsi yang masih berada pada tingkat wajar (Al-Arif, 2010).

Sementara itu, dalam Islam secara tegas Al-Qur'an melarang umatnya berlebih-lebihan (musrif) termasuk dalam mengkonsumsi makanan (QS. 7:31; QS. 4:6).

Orang yang melampaui batas akan dihancurkan Tuhan (QS. 21:9), perintah agar tidak mematuhi orang yang melampaui batas (QS. 26:151).

Sikap melampaui batas termasuk salah satu faktor penyebab kesesatan (QS. 40:34).

Contoh pribadi yang melampaui batas dapat dilihat pada Fir'aun dan Qarun (QS. 10:73; 44:31).

Allah mengancam tidak memberi petunjuk bagi orang yang melampaui batas (QS. 40:28).

Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. 6:41; 7:31).

Salah satu penduduk neraka adalah orang yang melampaui batas (QS. 40:43) (Suwito, 2011).

Pada dasarnya segala bentuk sumber daya merupakan titipan dari Allah SWT. yang harus dimanfaatkan atau digunakan oleh manusia dengan sebaik mungkin dan seadil-adilnya.

Seseorang tidak boleh menggunakan sumber daya untuk kegiatan pamer (conspicuous consumption), akan tetapi sumber daya tersebut sama sekali tidak baik bila digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif ataupun hal-hal yang mengarah kepada kegiatan spekulatif (Usman, 2015).

Prinsip-prinsip Konsumsi dalam Islam


Berikut ini merupakan beberapa prinsip konsumsi dalam Islam (Habibullah,  n.d):
  1. Prinsip syariah, konsumsi haruslah dijadikan sebagai bagian dalam hal meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. di antaranya yaitu dengan memastikan bahwa barang ataupun jasa yang dikonsumsi haruslah halal dan baik, atau dalam kata lain bukan merupakan sesuatu yang diharamkan atau dilarang dalam Islam.
  2. Prinsip kuantitas, jumlah barang yang dikonsumsi haruslah berada pada tingkat yang wajar, tidak termasuk kepada kategori konsumsi yang baik dalam Islam, apabila kuantitas barang ataupun jasa yang dikonsumsi terlalu berlebihan, yang sehingga mengarah kepada penyesalan dan kebangkrutan.
  3. Prinsip prioritas, dalam mengkonsumsi sesuatu haruslah dipahami dengan sempurna, mana yang seharusnya dipenuhi terlebih dahulu, atau mana yang tingkat kepentingannya lebih tinggi, hal ini tentunya bertujuan agar tidak salah dalam menentukan pilihan yang tepat dalam berkonsumsi.
  4. Prinsip sosial, dalam mengkonsumsi sesuatu haruslah memperhatikan lingkungan dan kepentingan umum, artinya tidak boleh memberikan kemudharatan atau hal-hal negatif bagi masyarakat. Di samping itu, jangan lupa untuk berbagi kepada orang yang memang membutuhkan pertolongan kita.
  5. Prinsip lingkungan, artinya dalam memanfaatkan sumber daya alam, seseorang tidak dibolehkan untuk merusak lingkungan, atau dalam kata lain setelah mengambil sumber daya alam haruslah berusaha untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan akibat kegiatan tersebut.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel