Pengertian, Prinsip, Karakteristik, Landasan Hukum, dan Mekanisme Operasional Asuransi Syariah

Asuransi Syariah merupakan bagian dari lembaga keuangan syariah, yang mana dalam operasionalnya diterapkan prinsip-prinsip syariah.

Letak perbedaan antara Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional dapat dilihat dari prinsip yang diterapkan oleh kedua jenis perusahaan tersebut.

Pengertian, Prinsip, Karakteristik, Landasan Hukum, dan Mekanisme Operasional Asuransi Syariah

Asuransi Syariah sudah tentu menggunakan prinsip syariah, salah satunya yaitu dengan menawarkan skema tabarru' atau yang sering disebut dengan skema tolong-menolong antara peserta yang satu dengan peserta lainnya.

Sedangkan Asuransi Konvensional menggunakan prinsip jual beli, hal ini dapat kita lihat di mana dana yang disetorkan oleh para anggota akan menjadi milik perusahaan dan yang akan didapatkan oleh para anggota/peserta berupa jaminan.

Oleh karena itu, dengan didirikannya Asuransi Syariah menjadi keunggulan tersendiri, dan dapat memudahkan masyarakat muslim dalam hal mendapatkan jasa keuangan yang berbasis syariah.

Di samping itu, juga dapat memberikan pilihan atau alternatif bagi pihak yang ingin menggunakan jasa asuransi untuk memilih jenis asuransi yang bagaimana yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Asuransi Syariah atau Konvensional?

Tentunya untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu adanya pengetahuan dasar mengenai kedua jenis asuransinya.

Namun, sayangnya dalam artikel ini penulis hanya memfokuskan pembahasan tentang Asuransi Syariah saja, sedangkan Asuransi Konvensional tidak dibahas.

Baiklah tanpa memperpanjang muqaddimah, langsung saja saya akhiri wabillahitaufik wal hidayah, Wssalamu'alaikum wr.wb.

Oh ya, hampir lupa, tolong disimak ya penjelasan di bawah ini, biar makin paham mengenai apa itu Asuransi Syariah dan bagaimana bentuk operasionalnya, serta berbagai hal lainnya yang sudah dirangkum dalam rangkuman yang bulat, eh singkat:

Pengertian Asuransi Syariah


Berdasarkan Fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) Asuransi Syariah adalah kegiatan saling membantu antara sesama manusia dalam hal mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko yang akan ataupun kemungkinan terjadi di masa mendatang.

Kegiatan tolong-menolong ini diimplementasikan dalam bentuk perjanjian melalui akad tabarru' atau akad lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah (Suprito, 2017)

Prinsip-prinsip Asuransi Syariah


Berikut penjelasan mengenai prinsip-prinsip Asuransi Syariah (Runtu, 2017) :

Pertama, berdasarkan PSAK 108 maka prinsip dasar yang ada dalam Asuransi Syariah yaitu prinsip tolong-menolong (ta'awuni) dan saling menanggung (takafuli) antara para anggota dengan pihak asuransi.

Kedua, tauhid (ketakwaan) merupakan prinsip terpenting yang diterapkan dalam Asuransi Syariah agar setiap bentuk kegiatan yang dilakukan tidak melanggar aturan ataupun hukum Islam. 

Tak hanya itu, dengan adanya prinsip ketakwaan maka pihak-pihak yang terlibat dengan asuransi akan berupaya untuk meningkatkan keimanannya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketiga, keadilan, menjadi prinsip yang sangat diperlukan dalam kegiatan bermuamalah, apalagi dalam kegiatan asuransi yang diikuti oleh banyak peserta, jika keadilan tidak dapat diterapkan dengan baik dalam Asuransi Syariah, maka sudah dapat dikatakan bahwa akan ada pihak yang terzalimi dan meninggalkan kegiatan kerjasama dengan pihak Asuransi Syariah.
Keempat, kejujuran, hal ini dijadikan sebagai prinsip dalam Asuransi Syariah supaya setiap kegiatan yang dilakukan dapat berjalan lancar dan semua informasi yang terkait dengan Asuransi Syariah disampaikan dengan jelas dan benar. 

Tak hanya itu, jika pihak Asuransi Syariah dapat mempertahankan prinsip kejujuran, maka para anggotanya akan merasakan yang namanya kenyamanan dalam berlangganan. 

Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa akan meningkatnya jumlah masyarakat yang ingin bekerjasama dengan pihak Asuransi Syariah.

Kelima, al-Rida (suka sama suka), tak hanya di Asuransi Syariah, prinsip saling ridha juga sangat penting untuk diimplementasikan dalam lembaga atau bisnis apa pun, termasuk per individu. 

Karena dengan adanya sikap saling rela antara satu sama lain akan meningkatkan rasa saling percaya dan menyayangi antara satu sama lainnya, sehingga masalah dalam kehidupan bersosial pun akan berkurang.
Keenam, larangan melakukan risywah (sogok/suap), hal ini merupakan prinsip yang harus dipertahankan oleh Asuransi Syariah agar menjadi lembaga yang profesional dan mengutamakan apa yang seharusnya diutamakan. 

Selain itu, dengan adanya pelarangan risywah ini maka masyarakat akan lebih bersemangat untuk meningkatkan kemampuannya dalam setiap bidang yang diminati dan tidak hanya mengandalkan uang atau pun kekayaan untuk mendapatkan posisi yang aman.

Ketujuh, al-Maslahah (kemaslahatan), dengan prinsip ini Asuransi Syariah akan menjadi lembaga yang akrab dengan masyarakat, dikarenakan kemaslahatan atau kebaikan merupakan hal yang dapat menjadikan tatanan kehidupan masyarakat lebih berarti dan inilah yang menjadi target terpenting untuk diperhatikan oleh pihak Asuransi Syariah. 

Segala upaya untuk mencapai kemaslahatan bagi umat manusia harus dilakukan dan tidak hanya berfokus tentang bagaimana cara mendapatkan keuntungan yang banyak.

Kedelapan, al-Khidmah (pelayanan). 

Pelayanan yang baik tentu saja akan memikat hati para anggota Asuransi Syariah. 

Di sisi lain, baik buruknya pelayanan pada suatu lembaga dapat menunjukkan tingkat keikhlasan pihak lembaga tersebut dalam melayani nasabah atau pelanggannya. 

Semakin baik pelayanan, maka akan semakin tinggi tingkat keikhlasan yang melekat pada sebuah lembaga dan menjadikan lembaga tersebut berada di posisi yang baik dalam pandangan para pelanggan atau orang-orang yang berhubungan dengannya.
Kesembilan, larangan melakukan tatfif (kecurangan). 

Prinsip ini sangatlah diperlukan demi kebaikan dan keselamatan sebuah lembaga, jika kecurangan sudah menjadi budaya, maka sudah dapat dipastikan bahwa lembaga tersebut berada dalam posisi yang tidak aman dan peluang untuk runtuh atau hancur sangatlah besar. 

Hal ini dikarenakan para pihak yang merasa dicurangi oleh sebuah lembaga merasakan ketidaknyamanan di hatinya, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa pihak tersebut akan melakukan sesuatu yang buruk untuk memuaskan hatinya yang sudah terluka.
Kesepuluh, menjauhi gharar, maysir, dan riba. 

Hal ini sudah pasti harus dihindari agar Asuransi Syariah benar-benar menjadi sebuah lembaga yang murni syariah dan tidak memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari bidang-bidang yang telah diharamkan.

Karakteristik Asuransi Syariah


Menurut Rianto (2012) Asuransi Syariah memiliki beberapa ciri utama (Purnomo, 2017):

Pertama, Asuransi Syariah memiliki sifat tabarru' (tolong-menolong), sama halnya dengan lembaga lain, tolong-menolong dalam Asuransi Syariah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para anggotanya atau masyarakat pada umumnya. 

Hal ini menjadikan lembaga Asuransi Syariah sebagai lembaga yang mementingkan akan keberadaan masyarakat serta mendukung masyarakat dalam hal berjaga-jaga untuk menghadapi masalah atau risiko yang terjadi di masa yang akan datang.
Kedua, setiap keputusan yang ada dalam Asuransi Syariah berasal dari keputusan yang bersama dengan para anggotanya (berjamaah) sehingga tidak ada pihak yang lebih kuat atau yang lebih berhak dalam memutuskan sesuatu. 

Hal ini merupakan salah satu bentuk dari menghargai keberadaan para anggota asuransi dan memposisikan para anggota sebagai bagian dari asuransi dan bebas untuk memberikan masukan ataupun berpendapat.
Ketiga, Asuransi Syariah bisa dikatakan sebagai asuransi yang berbentuk kekeluargaan di mana pihak-pihak yang ada di dalamnya saling bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan serta membangun komunikasi dan kepercayaan yang baik.

Landasan Hukum Asuransi Syariah dalam Al-Qur'an


Berikut dalil-dalil yang dijadikan sebagai landasan hukum Asuransi Syariah yang bersumber dari Al-Qur'an (Tho'in, 2015):

QS. Al-Maidah ayat 2

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada manusia agar saling tolong-menolong antara satu sama lainnya, tentunya tolong-menolong dalam hal berbuat kebaikan bukan malah tolong-menolong dalam hal berbuat kejahatan dan permusuhan kepada Allah atau dalam kata lain tidak melakukan tolong-menolong yang dapat menurunkan tingkat ketakwaan kepada Allah SWT.

Setiap tolong-menolong yang bertujuan untuk mencapai kemaslahatan (kebaikan) akan mendapatkan kebaikan dan pahala, begitu juga tolong-menolong dalam hal berbuat kerusakan akan mendapatkan bala dan siksa.

QS. Al-Baqarah ayat 261

Ayat ini menjelaskan tentang ganjaran pahala bagi orang-orang yang gemar memberi sedekah atau menafkahkan hartanya di jalan Allah.

Di mana Allah akan melipatgandakan pahala dari setiap butir benih atau harta yang kita sedekahkan.

Semakin banyak dan ikhlasnya seseorang dalam membantu orang lain yang sedang membutuhkan, maka akan semakin banyak dan baik pula balasannya dari Allah SWT.

Mekanisme Operasional Asuransi Umum (Asuransi Kerugian) Syariah


Operasional Asuransi Umum Syariah terdiri dari beberapa langkah antara lain yaitu (Ichsan, 2016):

Pertama, setiap premi takaful yang diterima dimasukkan ke dalam rekening tabarru' (akad tolong-menolong).
Kedua, selanjutnya, premi takaful dipisahkan dengan cara dimasukkan ke dalam rekening kumpulan dana para peserta, yang tujuannya yaitu untuk disalurkan ke dalam bentuk investasi bisnis yang dihalalkan dalam Islam.
Ketiga, apabila pihak asuransi mendapatkan keuntungan atas investasi yang dilakukan maka keuntungan tersebut dimasukkan lagi ke dalam rekening kumpulan dana para peserta.
Keempat, kemudian, keuntungan yang telah dimasukkan ke dalam rekening kumpulan dana para peserta dikurangi dengan beban asuransi (klaim/premi asuransi) dan apabila masih ada kelebihan, maka kelebihan itulah yang akan dibagi antara pihak asuransi dengan para peserta (pihak yang menanggung dengan pihak yang tertanggung). 

Pembagian keuntungan ini dengan menggunakan prinsip mudharabah sehingga lebih mudah dalam hal pembagian keuntungan dan sesuai dengan syariah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel