Pengertian Zakat: Landasan Hukum, Jenis, Pengurus, Penyaluran, dan Manfaatnya

Persoalan kemiskinan merupakan fenomena ekonomi yang selalu mengiringi proses pembangunan.

Berbagai perdebatan tentang penyebab kemiskinan, ukuran dan solusi yang mungkin diterapkan untuk mensejahterakan masyarakat merupakan bentuk dari kekhawatiran meningkatnya jumlah penduduk miskin yang akan berakibat kepada besarnya dampak negatif dalam masyarakat.

Pengertian Zakat Landasan Hukum, Jenis, Pengurus, Penyaluran, dan Manfaatnya

Permasalahan tentang kemiskinan menjadi sebuah topik atau pembicaraan yang tidak berujung pada sebuah aksi nyata.

Setiap orang seolah bergairah untuk membicarakan tentang betapa miskinnya negeri ini, negeri yang konon elok rupawan, lautnya yang luas menghasilkan ikan-ikan yang melimpah nan menggiurkan, tetapi ternyata semuanya itu tinggal sekedar cerita masa lalu.

Kemiskinan tetap juga menjadi bagian yang belum terpisahkan dari Kota Madani ini.

Dengan zakat yang dikelola sangat baik ternyata bisa menjadi instrumen dalam meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat atau sekaligus mengentaskan persoalan kemiskinan.

Andaikan seluruh umat Islam (muzakki) melakukan zakat fitrah maka akan didapatkan sejumlah perkalian jumlah penduduk beragama Islam (muzakki) kali 2,5 kg beras atau penghasilan pertanian lainnya.

Kemudian andaikan seluruh karyawan atau pegawai beragama Islam (muzakki) berzakat, maka juga akan didapatkan 2,5 persen dari penghasilannya dan kemudian dikalikan jumlahnya, maka akan didapatkan angka yang cukup memadai.

Salah satu alternatif solusi penanggulangan kemiskinan adalah dengan mengoptimalkan penghimpunan serta penyaluran dana zakat.

Berikut ini merupakan beberapa penjelasan yang berkaitaan dengan zakat, mari disimak agar dapat menambah wawasan:

Pengertian Zakat


Secara bahasa adalah penyucian dan pertumbuhan atau perkembangan.

Sedangkan secara istilah adalah penyerahan atau pemindahan kepemilikan harta tertentu kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu, yang berarti bahwa orang-orang yang memiliki nisab zakat wajib memberikan kadar tertentu dari hartanya kepada orang-orang miskin dan yang semisal dari mereka yang berhak menerima zakat.

Zakat merupakan hal utama yang memiliki kaitan atau hubungannya dengan keuangan publik, kebijakan fiskal, dan sistem ekonomi Islam tentunya, dengan demikian penggunaan zakat harus selalu dapat memberikan manfaat kepada orang banyak atau masyarakat.

Zakat juga merupakan kegiatan wajib untuk semua umat Islam serta merupakan salah satu elemen dasar sumber pendapatan nasional dan distribusinya ditujukan kepada delapan golongan penerima zakat (mustahik) antara lain fakir, miskin, fisabilillah,ibnu sabil, amil, mualaf, hamba sahaya, dan yatim piatu.

Zakat merupakan salah satu ciri dari sistem Ekonomi Islam karena zakat merupakan salah satu implementasi atas keadilan dalam sistem Ekonomi Islam.

Menurut M.A. Manan (1993) zakat mempunyai enam prinsip yaitu:
  1. Prinsip keyakinan terhadap agama, yaitu orang yang selalu membayar zakat dari harta yang dimilikinya termasuk kepada orang yang mencoba untuk mewujudkan keyakinan terhadap agama dalam bentuk suatu tindakan atau pengorbanan.
  2. Prinsip pemerataan dan keadilan merupakan tujuan sosial zakat yaitu membagi kekayaan yang diberikan Allah SWT. lebih merata dan adil kepada manusia.
  3. Prinsip produktivitas, menekankan bahwa zakat memang harus dibayar karena pemilik tertentu telah menghasilkan produk tertentu setelah lewat jangka waktu tertentu.
  4. Prinsip nalar, sangat rasional bahwa zakat harta yang menghasilkan itu harus dikeluarkan.
  5. Prinsip kebebasan, yaitu kewajiban untuk membayar zakat hanya berlaku bagi orang-orang yang memiliki harta yang telah memenuhi batas wajib zakat (nisab), tidak diwajibkan untuk membayar zakat bagi orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk membayarnya.
  6. Prinsip etika dan kewajaran, yaitu kegiatan pemungutan zakat tidak dilakukan dengan semena-mena akan tetap dengan cara mengikut pedoman atau aturan yang sudah ditegaskan dalam al-Qur'an dan Hadis.
Menurut Kahfi (1999), tujuan utama dari zakat adalah untuk mencapai keadilan sosial ekonomi.

Zakat adalah suatu bentuk pengalihan atau transfer secara sederhana dari bagian harta tertentu yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang yang berhak menerimanya (mustahik).

Menurut Daud Ali menerangkan bahwa tujuan zakat adalah:
  1. Mengangkat derajat fakir miskin.
  2. Membantu memecahkan masalah para gharimin, ibnu sabil, dan mustahik lainnya.
  3. Memperkokoh hubungan persaudaraan antara pihak yang memiliki kelebihan harta dengan pihak yang serba kekurangan atau membutuhkan bantuan dari pihak lain agar dapat menjalani kehidupan di dunia secara layak dan nyaman.
  4. Menghilangkan sifat kikir dan loba para pemilik harta.
  5. Sebagai sebuah upaya atau strategi yang dilakukan agar dapat mengurangi atau meminimalisir sifat dengki atau sifat cemburu dari orang-orang miskin, atau dalam kata lain orang yang memang membutuhkan perhatian dari orang kaya dari segi bantuan yang berupa harta benda.
  6. Menjembatani jurang antara si kaya dan si miskin di dalam masyarakat.
  7. Mengembangkan rasa tanggung jawab sosial pada diri seseorang terutama yang memiliki harta.
  8. Mendidik manusia untuk berdisiplin menunaikan kewajiban dan menyerahkan hak orang lain padanya.
  9. Sarana pemerataan pendapatan untuk mencapai keadilan sosial.

Landasan Hukum Zakat


Berikut ini merupakan beberapa landasan hukum yang digunakan dalam hal menunaikan zakat:

Surah at-Taubah ayat 103

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada manusia agar mengambil zakat pada orang-orang yang hartanya itu telah mencapai nisab.

Karena dengan mengambil zakat dari orang-orang yang wajib zakat tersebut dapat menjadikan harta yang dimiliki pemilik zakat bersih dan berkah, hal ini dikarenakan telah diberikannya hak orang lain yang ada dalam harta orang tersebut.

Di samping itu, Allah juga memerintahkan agar kita senantiasa untuk berdoa kepada orang-orang yang mau membayar zakat, karena dengan kita berdoa kepada orang-orang tersebut Allah akan memberikan kemudahan serta ketentraman jiwa pembayar zakat.

Undang-undang No. 38 Tahun 1999

Sedangkan di Indonesia pengelolaan zakat diatur dalam UU No. 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat serta Peraturan Pelaksanaannya sesuai keputusan menteri agama RI No. 581 Tahun 1999.

Sesuai perundang-undangan tersebut maka pemerintah wajib memberikan perlindungan, pembinaan dan pelayanan kepada para muzakki, mustahik, dan amil zakat.

Jenis-jenis Zakat


Berikut ini merupakan beberapa jenis zakat yang harus kita ketahui dan pelajari dengan baik agar kita dapat membedakan antara jenis yang satu dengan jenis lainnya:

Zakat Fitrah

Zakat yang wajib dikeluarkan muslim menjelang Idul Fitri pada bulan suci Ramadhan. Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,7 kg) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.

Zakat Maal

Suatu bagian zakat yang diwajibkan kepada orang yang telah sampai nisab, yang meliputi hasil dari perniagaan, pertambangan, pertanian, hasil ternak, hasil laut, emas dan perak, dan harta temuan.

Pengurus Zakat serta Penyaluran Zakat


Pengurus zakat yaitu Amil, yang merupakan orang-orang yang ditunjuk untuk mengumpulkan zakat dari para wajib zakat (muzaki) dan mendistribusikan harta zakat tersebut kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Di Indonesia sendiri terdapat dua lembaga atau badan pengelola zakat, yaitu BAZ (Badan Amil Zakat) dan LAZ (Lembaga Amil Zakat).

Sesuai dengan UU No. 38 Tahun 1999 tersebut maka zakat didayagunakan untuk:
  1. Zakat yang sudah berhasil dikumpulkan maka akan disalurkan untuk orang-orang yang berhak menerima zakat sesuai dengan yang telah disebutkan dalam al-Qur'an atau dalam kata lain sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam agama Islam.
  2. Pendayagunaan hasil pengumpulan zakat berdasarkan skala prioritas kebutuhan mustahik dan dapat dimanfaatkan untuk usaha produktif.
  3. Persyaratan dan prosedur pendayagunaan hasil penggunaan zakat.

Manfaat Zakat


Berikut ini merupakan beberapa manfaat yang dapat dirasakan dari adanya kegiatan penyaluran zakat itu sendiri:
  1. Sebagai sarana menghindari kesenjangan sosial yang mungkin dapat terjadi antara kaum aghniya dan duafa.
  2. Sebagai sarana pembersihan harta dan juga ketamakan yang dapat terjadi serta dilakukan oleh orang yang jahat.
  3. Sebagai pengembangan potensi umat dan menunjukkan bahwa umat Islam merupakan ummatan wahidan (umat yang satu), musawah (persamaan derajat), ukhwah Islamiyah (persaudaraan Islam), dan takaful ijti'ma (tanggung jawab bersama).
  4. Dukungan moral bagi muallaf.
  5. Sebagai sarana memberantas penyakit iri hati bagi mereka yang tidak punya.
  6. Zakat menjadi salah satu unsur penting dalam social distribution yang menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang peduli dengan kehidupan umatnya sehari-hari. Selain itu, juga menegaskan tanggung jawab individu terhadap masyarakatnya.
  7. Sebagai sarana penyucian diri dari perbuatan dosa.
  8. Sebagai sarana dimensi sosial dan ekonomi yang penting dalam Islam sebagai ibadah maaliyah.
Sekian pembahasan mengenai zakat, semoga dapat memberikan manfaat, dan juga memudahkan dalam hal mempraktikkannya.

Penulis: Fuad

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel