Sebuah Pengantar Mengenai Reksadana Syariah

Reksadana merupakan sebuah instrumen yang digunakan untuk tujuan menghimpun dana dari para investor yang kemudian akan diinvestasikan oleh para manajer investasi ke dalam portofolio efek. Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa dana yang sudah terkumpul tersebut merupakan dana para investor sedangkan manajer investasi hanya bertugas sebagai pengelola dana.

Sebuah Pengantar Mengenai Reksadana Syariah

Di samping itu, reksadana juga dapat kita definisikan sebagai badan hukum yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan (hasil usaha) dari kegiatan pengelolaan dana yang terkumpul dari para investor atas kegiatan penjualan saham yang dilakukan oleh perusahaan itu sendiri (Natalina, 2015).

Sedangkan pengertian reksadana syariah menurut Fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) merupakan reksadana yang menjalankan sistem operasionalnya sesuai dengan aturan ataupun prinsip-prinsip syariah, di antaranya kesesuaian akad yang dilakukan antara pihak investor dengan manajer investasi dan akad yang dilakukan antara manajer investasi dengan para pengusaha (pengguna investasi).

1. Sejarah Reksadana


Sejarah pendirian reksadana dimulai dari Eropa dan Inggris pada abad ke-19 dan selanjutnya diperkenalkan oleh Amerika Serikat sejak abad ke-20.

Saat ini, jumlah reksadana yang ada di Amerika Serikat 6.700 unit, dengan total dana yang dimiliki lebih dari US$3,2 Triliun.

Reksadana yang pertama kali ada di Amerika yaitu reksadana yang didirikan oleh Massachusetts Hospital Life Insurance Company pada tahun 1823.

Kemudian disusul oleh Boston Personal Property Trust yang juga telah mencatatkan Bursa Saham New York pada tahun 1893.

Sedangkan jika kita tinjau di Indonesia sendiri, maka dapat kita katakan bahwa reksadana belum begitu populer atau belum sepopuler di negara-negara lain.

Sesudah dikeluarkannya Undang-undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, mulailah reksadana dikenal oleh masyarakat banyak.

Beranjak dari tahun 1976 di mana pada saat itu pemerintah mulai mendirikan reksadana yang diberi nama dengan PT. Danareksa.

Jenis reksadana yang pertama kali diterbitkan yaitu jenis reksadana yang berupa sertifikat dan diberi nama dengan Sertifikat Danareksa.

Kemudian, lama setelah itu dibuatlah sebuah Undang-undang khusus sebagai acuan bagi operasional reksadana di Indonesia, Undang-undang yang dimaksud yaitu UU No. 8 Tahun 1995 yang membahas mengenai pasar modal, yang sebagian besar dari isi Undang-undang tersebut membahas mengenai peraturan reksadana.

Momentum yang baik seperti ini tidak disia-siakan begitu saja, akan tetapi dilanjutkan dengan kegiatan penerbitan reksadana tertutup yang diselenggarakan oleh PT. BDNI Reksadana dengan menawarkan kurang lebih 600 juta saham.

Total dana yang terkumpul dikala itu mencapai kisaran Rp300 Miliar, hal ini dikarenakan harga jual per saham di Reksadana dipatok dengan harga Rp500 (Solkhan, 2015).

2. Klasifikasi Reksadana


Berdasarkan sifat operasionalnya, reksadana dibagi kepada dua bagian, yaitu reksadana yang bersifat terbuka (open-end) dan reksadana yang bersifat tertutup (closed-end).

Penjualan saham melalui reksadana terbuka dilakukan dengan cara menjualnya melalui penawaran umum untuk selanjutnya dimasukkan atau dicatat di bursa efek.

Para investor tidak dibolehkan untuk menjual saham yang telah dibeli dari reksadana untuk dijual lagi kepada reksadana, melainkan harus menjualnya kepada para investor lain melalui pasar bursa dengan harga pasaran yang berlaku di bursa.

Sedangkan yang dimaksud dengan penjualan saham melalui reksadana tertutup yaitu penjualan saham di mana unit penyertaannya secara berkelanjutan selama ada pihak investor yang ingin membelinya.

Saham jenis ini tidak perlu dicatat dalam daftar bursa efek dan penentuan harganya berdasarkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau Net Asset Value (NAV) per saham yang ditentukan atau dihitung oleh bank Kustodian (Pratama, 2018).

3. Jenis-jenis Reksadana


Apabila kita tinjau dari segi aktiva yang diinvestasikan, reksadana dapat dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya yaitu:
  1. Reksadana Pasar Uang (Money Market Mutual Fund), cara pembentukan portofolio reksadana jenis ini yaitu melalui aktiva-aktiva surat berharga utang jangka pendek yang masa jatuh temponya tidak lebih dari satu tahun atau kurang dari satu tahun.
  2. Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed Income Mutual Fund), aktiva yang paling dominan dalam jenis reksadana ini yaitu aktiva obligasi yang jumlahnya dapat mencapai 80% sedangkan 20% lagi terdiri dari aktiva jenis lain, seperti saham perusahaan. Sementara itu, tujuan dari reksadana jenis ini sendiri yaitu untuk membentuk sebuah portofolio yang lebih baik dan aman.
  3. Reksadana Campuran (Mixed Mutual Fund), dalam reksadana ini jenis aktiva akan semakin beragam dikarenakan adanya proses pencampuran berbagai jenis aktiva untuk dikelola sekaligus dalam reksadana, aktiva yang paling sering digunakan yaitu obligasi, saham, dan berbagai aktiva lainnya.
  4. Reksadana Saham atau Reksadana Ekuitas (Equity Mutual Fund), sesuai dengan namanya, reksadana jenis ini didominasi oleh aktiva saham yang total jumlahnya bisa mencapai 80% dan selebihnya terdiri dari aktiva lain seperti obligasi, tujuannya tidak lain adalah untuk menghasilkan return yang lebih tinggi (Virginia, 2016).

4. Pihak Pengelola Reksadana


Pihak yang bertugas untuk mengelola reksadana yaitu manajer investasi. Manajer investasi itu sendiri merupakan pihak perusahaan yang diberi izin oleh pemerintah untuk melakukan proses pengelolaan terhadap dana melalui investasi di pasar modal. Selanjutnya, pihak yang juga terlibat dengan pengelolaan reksadana yaitu bank kustodian.

Di mana bank kustodian memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam kegiatan menyimpan, mengadministrasikan kekayaan, menjaga, baik itu dalam hal pencatatan maupun penjualan kembali sebuah reksadana yang dilakukan sesuai dengan kontrak investasi yang sudah disepakati dan ditetapkan dengan pihak manajer investasi (Putra, n.d).

5. Perbedaan Mendasar Reksadana Konvensional dan Syariah


Letak perbedaan antara reksadana konvensional dengan reksadana syariah yaitu pada proses pengelolaan dan prinsip dari kebijakan investasi yang sudah diterapkan dalam sistem operasionalnya masing-masing.

Kebijakan investasi yang diterapkan dalam operasional reksadana syariah yaitu setiap aktivitas, proses, atau cara-cara yang berkaitan dengan pengelolaan dana harus dilakukan dengan berpedoman pada prinsip syariah yaitu dengan memperhatikan tingkat kehalalannya atau kebolehannya, atau dalam kata lain setiap proses yang dilalui dalam hal pengelolaan dana harus tidak melanggar aturan syariah.

Contoh dari hal-hal yang tidak boleh dilakukan antara lain yaitu:
  1. Tidak boleh melakukan transaksi yang mengarah kepada timbulnya riba (membungakan uang).
  2. Tidak menggunakan strategi investasi yang didasari oleh kegiatan spekulasi.
  3. Tidak berhubungan dengan produk minuman keras, mengandung zat babi, bisnis hiburan yang mengarah pada perbuatan maksiat, perjudian, dan berbagai macam kegiatan lainnya yang memang sudah jelas dilarang dalam Islam (Huda, 2017).

Sedangkan kebijakan investasi dalam reksadana konvensional tidak mengharuskan adanya pelarangan seperti pelarangan yang ada dalam kebijakan reksadana syariah.

6. Keuntungan dalam Melakukan Investasi Reksadana


Berikut ini merupakan beberapa keuntungan yang bisa didapat dari adanya kegiatan investasi reksadana:
  1. Pengelolaan investasi dilakukan oleh manajer yang profesional, di mana dalam setiap perusahaan terdapat manajer investasi yang memungkinkan untuk membantu para investor yang kurang ahli di bidang investasi atau tidak dapat melakukan analisis sendiri terhadap bidang yang hendak diinvestasikan dananya, atau bisa jadi tidak memiliki waktu atau kesempatan untuk melakukan investasi sendiri. Di samping itu, para manajer investasi juga akan membantu para investor dalam hal memutuskan saham atau obligasi mana yang sebaiknya dibeli.
  2. Batas minimum investasi tergolong rendah.
  3. Teknik pembelian saham yang sangat mudah, di mana para calon investor dapat membeli secara langsung berbagai jenis saham dari perusahaan reksadana. Dan hal ini tentunya akan sedikit lebih hemat, dikarenakan tidak dikenakan biaya pembelian (sales change) bagi para calon investor.
  4. Risiko investasi yang tergolong rendah, dikarenakan dana para investor diinvestasikan ke dalam berbagai jenis efek, sehingga apabila salah satu efek mengalami kerugian maka masih ada efek lain yang dapat menutupi kerugian tersebut. Berbeda halnya dengan berinvestasi pada pada satu jenis efek saja, risikonya akan menjadi lebih tinggi, bila terjadi kerugian maka tidak ada yang tersisa.
  5. Tak hanya terdapat kemudahan dalam pembelian saham, akan tetapi dengan membeli saham di reksadana akan memudahkan para investor dalam menjual kembali saham yang sudah dibelinya, hal ini dikarenakan adanya kewajiban bagi perusahaan reksadana untuk membeli kembali berbagai jenis saham yang telah diterbitkannya, kecuali untuk jenis saham reksadana tertutup.
  6. Memperoleh perlindungan dari pihak pemerintah, dikarenakan perdagangan saham pada reksadana sudah diatur dalam UU Pasar Modal yang dilengkapi dengan berbagai bentuk peraturan dalam hal operasionalnya yang dikeluarkan oleh BAPEPAM-LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) (Lestari, 2015).

7. Risiko Investasi Melalui Reksadana Syariah


Sama halnya dengan produk investasi lain, di samping menghasilkan keuntungan juga terdapat beberapa risiko yang kemungkinan terjadi bila para investor melakukan investasi pada reksadana syariah, risiko yang dimaksud antara lain:

a. Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan

Hal yang menyebabkan berkurangnya nilai unit penyertaan yaitu adanya pengaruh dari turunnya harga efek yang telah dibeli (saham, obligasi, dan berbagai macam surat berharga lainnya) yang tergolong ke dalam portofolio reksadana syariah.

b. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas merupakan risiko yang berhubungan dengan kesulitan yang dirasakan oleh pihak manajer investasi bila sebagian besar pemegang unit melakukan proses penjualan kembali (redemtion) atas berbagai unit yang telah dimilikinya.

Jika hal tersebut memang terjadi, maka para manajer investasi akan mengalami kesulitan dalam hal menyediakan sejumlah uang tunai untuk kegiatan penjualan kembali tersebut.

c. Risiko Wanprestasi

Risiko wanprestasi dikategorikan sebagai risiko paling tidak diinginkan karena risiko jenis ini dapat berpengaruh pada penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) (Kandarisa, n.d).

8. Mekanisme Operasional Reksadana Syariah


Ada dua jenis mekanisme operasional reksadana syariah, yaitu mekanisme operasional yang melibatkan pihak pemodal dengan pihak manajer investasi dan mekanisme operasional yang melibatkan pihak manajer investasi dengan pihak pengguna investasi.

Jenis akad yang digunakan dalam mekanisme operasional antara pihak pemodal dengan pihak manajer investasi yaitu akad wakalah. Berikut ini merupakan beberapa karakteristik yang terdapat dalam akad wakalah:
  1. Dengan menggunakan akad wakalah berarti menunjukkan bahwa pemodal telah memberikan mandat kepada pihak manajer investasi untuk melakukan kegiatan investasi yang sesuai dengan kebutuhan pihak pemodal dan sesuai dengan ketentuan yang ada dalam prospektus.
  2. Pihak pemodal secara kolektif memperoleh hak untuk mendapatkan hasil dari investasi yang telah dilakukan dalam reksadana syariah.
  3. Pihak pemodal menanggung risiko yang berhubungan dengan reksadana syariah.
  4. Pemodal memiliki wewenang untuk meningkatkan jumlah investasi ataupun menarik seluruh dana investasi yang telah disalurkan dalam reksadana syariah melalui pihak manajer investasi.
  5. Seluruh dana yang telah diinvestasikan oleh pihak pemodal akan dijamin, disimpan, dijaga, dan diawasi oleh bank kustodian.
  6. Pihak pemodal akan memperoleh bukti kepemilikan (unit penyertaan dananya) dalam reksadana syariah.

Sedangkan mekanisme operasional yang terjadi di antara manajer investasi dengan pihak pengguna investasi yaitu menggunakan akad mudharabah. Berikut ini beberapa karakteristik akad mudharabah:
  1. Pembagian keuntungan yang dilakukan antara pihak pemodal dengan pihak pengelola ditentukan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat, khusus untuk pihak pemodal pembagian keuntungan melalui pihak manajer investasi yang merupakan wakil bagi pemodal itu sendiri dan tidak adanya jaminan khusus yang diberikan kepada para pemodal terkait dengan hasil investasi yang dilakukan.
  2. Pihak pemodal hanya berkewajiban untuk menanggung risiko sebesar jumlah dana yang telah diinvestasikan.
  3. Pihak manajer investasi tidak berkewajiban untuk menanggung risiko apapun selama risiko tersebut bukan merupakan akibat dari kelalaiannya (Haerisma, n.d).

9. Unsur Utama dalam Reksadana


Berikut ini merupakan beberapa unsur utama yang terkandung dalam reksadana:
  1. Masyarakat pemilik dana (sahib al-maal/rabal maal)
  2. Modal yang telah disetorkan (al-maal)
  3. Pihak manajer investasi yang bertugas untuk mengelola modal (wakil shahib al-maal)
  4. Kegiatan investasi yang dilakukan oleh pihak manajer investasi (amal) (Pratama, 2016).

10. Penentuan dan Bagi Hasil dalam Investasi Reksadana Syariah


Berdasarkan Fatwa DSN 20/DSN-MUI/IV/2001: Pedoman pelaksanaan investasi reksadana syariah yang terkandung dalam BAB V Pasal 11 yang membahas secara lebih rinci tentang penentuan dan pembagian hasil investasi, yang mana pembahasannya lebih kurang sebagai berikut:
  1. Seluruh keuntungan yang diperoleh dari kegiatan investasi pada reksadana syariah harus dibagikan secara proporsional antara pihak yang melakukan usaha dengan pemodal.
  2. Tidak boleh adanya unsur-unsur yang dilarang atau tidak halal dalam setiap pembagian keuntungan/hasil yang dilakukan, dengan demikian pihak manajer investasi harus berusaha untuk memisahkan antara pendapatan yang halal dengan pendapatan yang bercampur unsur-unsur haram agar pembagian keuntungan yang dilakukan benar-benar bersih dari unsur non-halal.
  3. Jenis penghasilan yang dapat diterima oleh pihak reksadana syariah antara lain yaitu: (a) Penghasilan yang diperoleh dari saham yang berupa dividen, capital gain, dan rights. (b) Penghasilan dari obligasi syariah yang berupa bagi hasil secara periodik yang berasal dari laba emiten. (c) Penghasilan yang diperoleh dari surat berharga pasar uang syariah yang berupa bagi hasil yang diperoleh dari issuer. (d) Penghasilan yang diperoleh dari deposito yang berupa bagi hasil yang didapat dari bank-bank syariah (Dja'akum, 2014).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sebuah Pengantar Mengenai Reksadana Syariah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel