Jangan Ada Riba di antara Kita

Riba terdiri dari satu kata yang memiliki racun yang sangat berbahaya bagi kehidupan di dunia dan akhirat, tanpa kita sadari terkadang kita berada di antara kawasan riba tersebut jadi harapan kita "jangan ada riba di antara kita". Riba itu kan haram hukumnya, tetapi kenapa banyak sekali orang yang masih melakukannya?

Jangan Ada Riba di antara Kita

Karena mudah, tidak banyak syarat, dan membuat semakin cepat kaya apa itu alasannya atau ada alasan lain, yakinlah sesuatu hal yang susah didapat itu adalah hal yang paling indah dan berkah karena ada kata-kata bahwa jalan menuju sukses itu tidak ada yang mudah, semuanya dilalui melalui tantangan-tantangan sulit, akan tetapi ada jawabannya melalui ikhtiar dan do'amu (setiap kesulitan ada kemudahan), pilihan ada di tanganmu, mau yang mudah atau yang susah, ibarat kata dalam pasar modal semakin tinggi risiko maka semakin besar laba yang akan didapatkan.

Kita hidup di dunia selalu diberi pilihan, pilih ke arah kanan atau kiri jawabannya ada pada dirimu, akan tetapi terkadang kita tidak bisa melawan hawa nafsu kita, bahkan kita dikalahkan olehnya, sebab itu informasi riba menjadi hal yang penting kita bahas untuk membuka hati kita untuk menjauhi riba, katakan tidak pada riba.

Ingat setiap masalah itu ada solusinya, jangan sampai kita terjerumus ke dalam kawasan riba karena riba itu hal yang mengerikan walaupun hanya terdiri dari empat huruf akan tetapi memiliki racun yang berdampak luas bagi kehudupan kita yang bisa membawa kita ke jalan menuju Narr, apa kamu mau? sebelum menjawab pertanyaan itu mari baca sampai tuntas mengenai apa itu riba? mengapa riba berbahaya?

Langsung saja kita akan mengupas lebih dalam lagi mengapa tidak boleh ada riba di antara kita, berikut penjabarannya:

A. Pengertian Riba


Kata riba berasal dari bahasa Arab, secara etimologis berarti tambahan (az-ziyadah), berkembang (an-numuw), membesar (al-'uluw), dan meningkat (al-irtifa').

Berkaitan dengan pengertian riba di atas, maka ada sebuah ungkapan dari orang Arab kuno, yaitu:

Arba fulan 'ala fulan idza azada 'alaihi (seseorang melakukan riba terhadap orang lain jika di dalamnya terdapat unsur tambahan) atau disebut liyarbu ma a'thaytum min syai'in lita'khuzu aktsara minhu (mengambil dari sesuatu yang kamu berikan dengan cara berlebih dari apa yang diberikan).

Menurut terminologi ilmu fikih, riba merupakan tambahan khusus yang dimiliki salah satu pihak yang terlibat tanpa adanya imbalan tertentu. Di samping itu, riba juga sering diistilahkan dengan kata "usury", yang bermakna suatu bentuk tambahan yang didapatkan oleh seseorang dalam hal meminjamkan uang kepada orang lain, seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap tambahan atau manfaat lebih yang diberikan dari transaksi pinjam-meminjam dianggap sebagai riba. Di mana riba itu sendiri merupakan salah satu cara mendapatkan harta yang tidak dibenarkan oleh syara'.

Berbicara mengenai riba tentunya sangat identik dengan bunga yang ada pada perbankan konvensional, di kalangan masyarakat indonesia saat ini, bunga itu memang sudah dianggap sebagai bagian dari riba, sehingga siapapun yang mengambil bunga akan mendapatkan dosa. Atau dalam kata lain, bunga perbankan merupakan suatu bentuk harta yang haram untuk digunakan atau dikonsumsi.

Secara umum, praktik riba pada perbankan yaitu dengan cara diberikannya pinjama kepada pihak masyarakat, dan pada saat uang yang dipinjam oleh masyarakat tersebut dikembalikan kepada pihak perbankan, maka pihak bank mensyaratkan bahwa harus adanya tambahan sesuai dengan persentase bunga yang telah ditentukan.

Pihak perbankan seakan-akan sudah sangat meyakini bahwa uang yang dipinjamkan kepada para nasabah digunakan dengan baik oleh nasabah dalam menjalankan suatu usaha yang produktif. Padahal tidak boleh demikian, karena seperti yang telah kita ketahui, kebanyakan dari masyarakat meminjam uang pada perbankan untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya, bukan untuk menjalankan sebuah usaha, walaupun ada juga masyarakat yang menggunakan dana yang dipinjam dari ank untuk menjalankan suatu usaha, tapi itu masih sangat jarang terjadi atau dalam kata lain jarang dilakukan oleh masyarakat.

Atas dasar keyakinan perbankan terhadap adanya keuntungan dari nasabah, membuat perbankan semakin sungguh-sungguh atau semangat dalam hal memberikan pinjam kepada masyarakat. Namun, hal yang perlu kita khawatirkan bahwa pihak yang meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya akan merasa keberatan atau terpaksa untuk mengembalikan pinjaman yang telah dipinjamnya dengan tambahan persentase bunga yang telah ditentukan pada saat transaksi pinjam-meminjam tersebut dilakukan.

Tetapi dalam akad kedua belah pihak baik kreditur (bank) maupun debitur (nasabah) sama-sama sepakat atas keuntungan yang akan diperoleh pihak bank.

Sehingga, timbullah sebuah pertanyaan mengenai apa yang menjadi faktor pembeda antara bunga dengan riba? Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan definisi dari bunga. Secara leksikal, bunga sebagai terjemahan dari interest yang berarti tanggungan pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan persentase dari uang yang dipinjamkan.

Dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya riba (usury) dengan bunga (interest) itu memiliki arti atau maksud yang sama, yaitu sama-sama merupakan suatu bentuk tambahan yang tidak dibenarkan menurut hukum Islam.

Abu Zahrah dalam kitab Buhusu fi al-Riba menjelaskan mengenai haramnya riba bahwa riba adalah tiap tambahan sebagai imbalan dari masa tertentu, baik pinjaman itu untuk konsumsi atau eksploitasi, artinya baik pinjaman itu untuk mendapatkan sejumlah uang guna keperluan pribadinya, tanpa tujuan untuk mempertimbangkannya dengan mengeksploitasinya atau pinjaman itu untuk dikembangkan dengan mengeksploitasikan, karena nash itu bersifat umum.

Abd al-Rahman al-Jaziri mengatakan para ulama sependapat bahwa tambahan atas sejumlah pinjaman ketika pinjaman itu dibayar dalam tenggang waktu tertentu 'iwadh (imbalan) adalah riba. Yang dimaksud dengan tambahan adalah tambahan kuantitas dalam penjualan asset yang tidak boleh dilakukan dengan perbedaan kuantitas (tafadhul), yaitu penjualan barang-barang riba fadhal: emas, perak, gandum, serta segala macam komoditi yang disetarakan dengan komoditi tersebut.

Riba (usury) sangat erat hubungannya dengan lembaga keuangan, khususnya perbankan konvensional, yang mana dalam perbankan konvensional transaksi riba sangat sering dipraktikkan dan bahkan menjadi instrumen dalam hal penghimpunan dana, dan tentunya hal ini agak sedikit berbeda dengan perbankan syariah, dikarenakan dalam perbankan syariah tidak adanya praktik riba, atau dalam kata lain memakai prinsip bagi hasil.

B. Sejarah Pelarangan Riba sebelum Islam


Transaksi riba sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Akan tetapi pada zaman itu riba yang berlaku berupa tambahan dalam bentuk uang akibat penundaan pelunasan hutang (riba Jahiliyah).

Sehingga, riba tersebut dapat diterjemahkan sebagai suatu bentuk tambahan yang terjadi dalam transaksi hutang-pitang atau pertukaran barang sejenis dengan kualitas atau kuantitas yang berbeda. Dengan kata lain, riba itu merupakan bagian dari pengambilan tambahan secara paksa atau secara tidak dibenarkan oleh syara'.

Riba tidak hanya dikenal dalam Islam saja, tetapi dalam agama lain (non-Islam) riba telah dikenal dan juga pelarangan atas perbuatan pengambilan riba, bahkan pelarangan riba telah ada sejak sebelum Islam datang menjadi agama.

1. Masa Yunani Kuno


Pada masa Yunani Kuno, riba menjadi hal yang tidak dibolehkan untuk dilakukan atau dalam kata lain dilarang keras, suatu pungutan yang dilakukan dalam transaksi peminjaman uang sangat tidak dibenarkan. Hal ini dapat tergambar pada beberapa pernyataan Aristoteles yang sangat membenci pembungaan uang:

  • Bunga uang tidaklah adil,
  • Uang seperti ayam betina yang tidak bertelur,
  • Suatu transaksi yang dilakukan dengan cara meminjamkan uang yang ada tambahan atau bunganya pada saat uang tersebut dikembalikan, maka itu merupakan suatu transaksi yang sangat rendah pandangan atau derajatnya.


2. Masa Romawi


Kerajaan Romawi melarang setiap jenis pemungutan bunga atas uang dengan mengadakan peraturan-peraturan keras guna membatasi besarnya suku bunga melalui undang-undang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kerajaan Romawi merupakan kerajaan pertama yang berusaha untuk menerapkan atau membuat suatu peraturan yang bertujuan untuk melindungi para peminjam.

3. Menurut Agama Yahudi


Dalam agama Yahudi, riba juga menjadi salah satu hal yang dilarang, hal ini sesuai dengan yang telah tercantum atau dijelaskan dalam kitab suci mereka, tepatnya terdapat dalam Perjanjian Lama ayat 25 pasal 22:

"Bila kamu menghutangi seseorang di antara warga bangsamu uang, maka janganlah kamu berlaku laksana seorang pemberi hutang, jangan kamu meminta keuntungan padanya untuk pemilik uang".

Dan pasal 36 disebutkan:

"Supaya ia dapat hidup di antaramu janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu".

Namun, pelarangan riba dalam agama Yahudi agak sedikit berbeda dengan pelarang riba yang ada dalam Islam, di mana dalam agama Yahudi riba tersebut hanya dilarang untuk dilakukan sesama kaum atau orang Yahudi saja, sedangkan transaksi riba yang dilakukan dengan kaum yang lain dibenarkan atau dalam kata lain tidak dilarang.

Mereka mengharamkan riba sesama mereka tetapi menghalalkannya kalau pada pihak yang lain, dan inilah yang menyebabkan bangsa Yahudi terkenal memakan riba dari pihak selain kaumnya. Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman dalam surah an-Nisa ayat 160-161, yang mana dalam ayat ini Allah melarang keras segala praktik yang bertujuan untuk memanfaatkan atau menggunakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar atau batil, sehingga Allah akan menyiksa orang-orang tersebut dengan siksaan yang sangat pedih di hari akhirat kelak.

4. Menurut Agama Nasrani


Pelarangan riba yang ada dalam agama Nasrani agak sedikit berbeda dengan pelarangan riba yang ada dalam agama Yahudi, di mana pelarangan riba dalam agama Nasrani berlaku untuk semua kalangan. Tidak hanya berlaku untuk kaum Nasrani saja.

Menurut mereka (tokoh-tokoh Nasrani) dalam perjanjian lama kitab Deuntoronomy pasal 19 disebutkan: "Janganlah engkau membungakan uang terhadap saudaramu baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan". Kemudian dalam perjanjian baru di dalam Injil Lukas ayat 34 disebutkan:

"Jika kamu menghutangi kepada orang yang engkau harapkan imbalannya, maka di mana sebenarnya kehormatan kamu. Akan tetapi perbanyaklah berbuat kebaikan dan berikanlah sejumlah pinjaman dengan cara tidak mengharapkan akan kembalinya, karena dengan berbuat demikian kamu akan memperoleh pahala yang sangat banyak".

Pengambilan bunga uang dilarang gereja sampai pada abad ke-13 M. pada akhir abad ke-13 timbul beberapa faktor yang menghancurkan pengaruh gereja yang dianggap masih sangat konservatif dan bertambah meluasnya pengaruh mazhab baru, maka peminjaman dengan dipungut bunga mulai diterima masyarakat.

Kebanyakan dari para pedagang melakukan suatu upaya untuk menghilangkan pengaruh gereja terhadap pelarangan riba, karena bagi mereka dengan dilarangnya riba maka dapat mengurangi jumlah keuntungan yang diperolehnya. Ada beberapa tokoh gereja yang beranggapan bahwa keuntungan yang diberikan sebagai imbalan administrasi dan kelangsungan organisasi dibenarkan karena bukan keuntungan dari hutang.

Tetapi sikap pengharaman riba secara mutlak dalam agama Nasrani dengan gigih ditegaskan oleh Martin Luther, tokoh gerakan Protestan. Ia mengatakan keuntungan semacam itu baik sedikit atau banyak, jika harganya lebih mahal dari harga tunai tetap riba.

Pada masa Jahiliyah, riba juga telah dikenal luas di kalangan masyarakat, yang mana pada masa itu riba terdiri kepada beberapa bentuk aplikatif. Beberapa riwayat menceritakan riba Jahiliyah. Bentuk pertama: Riba pinjaman, yaitu yang direfleksikan dalam satu kaidah di masa Jahiliyah: "tangguhkan hutangku, aku akan menambahkannya". Maksudnya adalah jika ada seseorang mempunyai hutang (debitur), tetapi ia tidak dapat membayarnya pada waktu jatuh tempo, maka ia (debitur) berkata: "tangguhkan hutangku, aku akan memberikan tambahan".

Penambahan itu bisa dengan cara melipat gandakan uang atau menambahkan umur sapinya jika pinjaman tersebut berupa binatang, demikian seterusnya. Menurut Qatadah yang dimaksud riba orang Jahiliyah adalah seorang laki-laki menjual barang sampai pada waktu yang ditentukan. Ketika tenggat waktunya habis dan barang tersebut tidak berada di sisi pemiliknya, maka ia harus membayar tambahan dan boleh menambah tenggatnya.

Abu Bakar al-Jashshash berkata: seperti dimaklumi, riba di masa Jahiliyah hanyalah sebuah pinjaman dengan rentang waktu, disertai tambahan tertentu. Tambahan itu adalah ganti dari rentang waktu.

Bentuk kedua: Pinjaman dengan pembayaran tertunda, tetapi dengan syarat harus dibayar dengan bunga. Al-Jassash menyatakan, "Riba yang dikenal dan biasa dilakukan oleh masyarakat Arab adalah bentuk pinjaman uang dirham atau dinar yang dibayar secara tertunda dengan bunga yang jumlahnya sesuai dengan jumlah hutang dan seseuai dengan  kesepakatan bersama".

Bentuk ketiga: Pinjaman berjangka dan berbunga dengan syarat dibayar per bulan. Ibnu Hajar al-Haitsami menyatakan, "riba nasi'ah adalah riba yang populer di masa Jahiliyah". Di mana biasanya seseorang meminjamkan sejumlah uang kepada orang lain dengan cara pembayaran yang tertunda, dengan mensyaratkan kepada pihak yang meminjam uang bahwa dia akan mengambil bunga atau tambahan atas uang yang dipinjamnya setiap bulan, sedangkan pokok pinjaman yang telah diberikan tetap dengan jumlah pokok tersebut, atau dalam kata lain tidak dapat berkurang dengan adanya pemberian bunga. Jangankan untuk berkurangnya jumlah pokok yang dipinjamkan, malah akan semakin bertambah bila peminjam tidak dapat mengembalikan pada waktu yang telah ditentukan.

C. Tahapan Larangan Riba dalam al-Qur'an


Sudah jelas diketahui bahwa Islam melarang riba dan memasukkannya ke dalam dosa besar. Tetapi Allah SWT. dalam mengharamkan riba menempuh metode secara gredual (step by step). Metode ini ditempuh agar tidak mengagetkan mereka yang telah biasa melakukan perbuatan riba dengan maksud membimbing manusia secara lemah lembut untuk mengalihkan kebiasaan mereka yang telah mengakar, mendarah daging yang melekat dalam kehidupan perekonomian Jahiliyah. Ayat yang diturunkan pertama dilakukan secara temporer yang pada akhirnya ditetapkan secara permanen dan tuntas melalui empat tahapan.

1. Surah ar-Rum ayat 39


Allah menyatakan secara nasehat bahwa Allah tidak menyenangi orang yang melakukan riba, dan untuk mendapatkan hidayah Allah ialah dengan menjaukan riba.

Di sini, Allah menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang mereka anggap untuk menolong manusia merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Berbeda dengan harta yang dikeluarkan untuk zakat, Allah akan memberikan barakah-Nya dan melipatgandakan pahala-Nya. Pada ayat ini tidaklah menyatakan larangan dan belum mengharamkannya.

2. Surah an-Nisa ayat 160-161


Transaksi riba disamakan dengan suatu perbuatan atau pekerjaan yang batil atau zalim, dan Allah menegaskan akan memberikan siksa kepada orang Yahudi yang melakukannya. Di samping itu, ayat ini menjelaskan di mana Allah lebih tegas terhadap riba, dan walaupun pelarangan riba pada masa itu masih terkhususkan kepada orang-orang Yahudi, akan tetapi hal tersebut dapat memberikan penjelasan bahwa akan adanya pelarangan yang sangat tegas terhadap transaksi riba dalam Islam.

3. Surah ali-Imran ayat 130


Pada tahap ini, Allah belum melarang riba secara keseluruhan atau segala bentuk, tapi Allah hanya melarang dalam bentuk riba yang berlipat ganda. Hal ini menggambarkan kebijaksanaan Allah dalam melarang sesuatu yang telah mendarah daging, mengakar pada masyarakat sejak zaman Jahiliyah dahulu, sedikit demi sedikit, sehingga perasaan mereka yang telah biasa melakukan riba siap menerimanya.

4. Surah al-Baqarah ayat 275-279


Surah ini menceritakan tentang pelarangan riba secara tegas, jelas, pasti, tuntas, dan mutlak mengharamkannya dalam berbagai bentuknya, dan tidak dibedakan besar kecilnya. Bagi yang melakukan riba telah melakukan kriminalisasi. Dalam ayat tersebut jika ditemukan melakukan kriminalisasi, maka akan diperangi oleh Allah SWT. dan Rasul-Nya.

D. Ragam atau Macam-macam Riba


Pada dasarnya riba itu dibagi kepada dua bagian utama, yaitu riba yang terjadi akibat adanya transaksi hutang-piutang dan riba yang timbul akibat adanya transaksi jual beli. Berikut penjelasan mengenai kedua bentuk transaksi riba tersebut:

1. Riba Akibat Hutang Piutang (Riba Qard)


Riba Qard merupakan suatu jenis riba yang terjadi akibat adanya penambahan atau pengambilan manfaat atas transaksi pinjam-meminjam. Sementara riba Jahiliyah yaitu riba yang terjadi akibat peminjam tidak dapat mengembalikan uang yang telah dipinjamnya pada waktu yang telah disepakati atau pada saat jatuh tempo, sehingga pihak yang memberi pinjaman mewajibkan kepada peminjam untuk membayar bunga pinjaman dalam jumlah yang berlipat ganda.

2. Riba Akibat Jual Beli (Riba Fadhl)


Riba Fadhl adalah pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda dan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis barang ribawi.

3. Riba Nasi'ah


Riba Nasi'ah adalah penangguhan atas penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang diperlukan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba nasi'ah muncul dan terjadi karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian.

E. Pandangan Islam terhadap Riba


Sejak zaman Rasulullah, riba sudah dikenal dan dipraktikkan di kalangan masyarakat, dengan demikian maka turunlah berbagai ayat al-Qur'an yang bertujuan untuk menyatakan dengan tegas tentang pelarangan atau pengharaman riba dalam transaksi yang dilakukan oleh masyarakat. Bahkan, istilah dan persepsi tentang riba begitu mengental dan melekat di dunia Islam. Sehingga, seakan-akan doktrin riba berasal dari agama Islam, padahal tidak demikian.

Akan tetapi, menurut seorang Muslim Amerika, Cyril Glasse, dalam buku ensiklopedinya, tidak diberlakukan di negeri Islam modern manapun, sementara itu, kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa dalam agama Kristen pun, riba tersebut merupakan hal yang diharamkan atau dilarang menurut pandangan berbagai kalangan (theolog, cendikiawan, dan undang-undang).

Kegiatan transaksi yang mengandung riba merupakan kegiatan transaksi yang secara tegas diharamkan bahkan pengharamannya telah menjadi aksioma dalam ajaran Islam.

Riba merupakan suatu bentuk transaksi yang mana di dalamnya terdapat unsur eksploitasi terhadap pihak yang meminjam uang (debitur), tak hanya itu riba juga dapat merusak akhlak atau moral dari orang yang melakukannya itu sendiri.

Pengharaman ini tidak hanya berlaku pada agama Islam saja, akan tetapi dalam agama-agama samawi juga melarangnya bahkan mengutuk pelaku riba. Misalnya saja Plato (427-347 SM) yang juga mengutuk setiap orang yang melakukan transaksi riba atau pelipat gandaan uang secara tidak benar.

Sedikit atau banyaknya riba, memang masih menjadi perdebatan, hal ini dikarenakan bahwa riba Jahiliyah yang dengan jelas dilarangnya adalah riba yang berlipat ganda (ad'afan mudha'afah). Landasan dari riba dalam al-Qur'an surah ali-Imran ayat 130, di mana ayat tersebut menjelaskan tentang pelarangan riba dalam bentuk yang berlipat ganda.

Tetapi bila ditinjau dari keseluruhan ayat-ayat riba, seperti al-Baqarah ayat 275 (mengharamkan riba), ayat 276 masih dalam surat al-Baqarah menyatakan bahwa Allah menghapus keberkahan riba. Tujuan dari pelarangan riba itu sendiri yaitu untuk membersihkan atau mensucikan transaksi yang dilakukan oleh masyarakat dari hal-hal yang diharamkan atau tidak baik untuk dilakukan.

Dalam surat al-Baqarah ayat 278-279 menjelaskan secara tegas terhadap pelarangan pelaku riba:

Dalam ayat ini Allah menganjurkan hamba-Nya yang beriman supaya menjaga dirimu dalam takwa, dalam tiap gerak, langkah, tutur kata, dan amal perbuatan supaya benar-benar di jalan Allah dan tinggalkan sisa hartamu (riba) yang masih ada di tangan orang, selebihnya dari apa yang kalian berikan kepada mereka, jika kalian benar-benar beriman, percaya syari'at tuntunan Allah dan melakukan segala yang diridhai-Nya dan menjauh dari semua yang dilarang dan dimurkakan-Nya.

Penulis: Eliska Mentari
Editor: Faisal

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Jangan Ada Riba di antara Kita"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel