Jual Beli: Pengertian, Dasar Hukum, Rukun, Syarat, Jenis, Manfaat, dan Hikmahnya

Jual beli merupakan transaksi tukar-menukar yang sudah begitu populer dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Bagaimana tidak, jual beli itu sendiri sudah dipraktikkan atau dilakukan oleh masyarakat sejak zaman dulu dan masih bertahan hingga detik ini. Transaksi jual beli itu sendiri bertujuan untuk saling memenuhi kebutuhan antara satu orang dengan orang lain atau dalam kata lain sebagai suatu wujud dari tolong-menolong.

Jual Beli Pengertian, Dasar Hukum, Rukun, Syarat, Jenis, Manfaat, dan Hikmahnya

Di samping itu, jual beli juga dapat membuat kualitas ekonomi masyarakat menjadi lebih meningkat, dan menghindari masyarakat dari melakukan transaksi terlarang, seperti perjudian, penipuan, dan berbagai hal buruk lainnya. Jual beli yang dapat mengangkat derajat atau martabat seseorang tentunya bukan sembarang jual beli, akan tetapi jual beli yang dilakukan sesuai dengan pedoman atau aturan syariah.

Berikut ini merupakan beberapa ulasan penting mengenai jual beli, mohon disimak supaya dapat menambah wawasan mengenai bentuk jual beli yang dibenarkan atau sesuai syariah, khususnya terkait dengan pengertian, dasar hukum, rukun, syarat, jenis, manfaat, dan hikmah dari jual beli itu sendiri:

1. Pengertian Jual Beli


Jual beli atau perdagangan dalam istilah fikih disebut al-ba'i yang menurut etimologi berarti menjual atau mengganti.

Wahbah al-Zuhaily mengartikan al-ba'i sebagai transaksi tukar-menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kata al-ba'i dalam bahasa Arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yaitu kata al-syira (beli). Dengan demikian, kata al-ba'i berarti jual, tetapi sekaligus juga berarti beli (al-Zuhaily, 2005).

Secara terminologi, terdapat beberapa definisi jual beli yang masing-masing definisi sama. Sebagian ulama lain memberi pengertian:

a. Ulama Sayyid Sabiq

Ia mendefinisikan bahwa jual beli ialah pertukaran harta dengan harta atas dasar saling merelakan atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.

Dalam definisi tersebut harta dan milik dengan ganti dan dapat dibenarkan, yang dimaksud dengan harta di sini yaitu segala yang dimiliki dan bermanfaat, maka dikecualikan yang bukan milik dan tidak bermanfaat, yang dimaksud dengan ganti agar dapat dibedakan dengan hibah (pemberian), sedangkan yang dimaksud dengan dapat dibenarkan (ma'dzun fih) agar dapat dibedakan dengan jual beli yang terlarang.

b. Ulama Hanafiyah

Ia mendefinisikan bahwa jual beli adalah saling tukar harta dengan harta lain melalui cara yang khusus, yang dimaksud ulama Hanafiyah dengan kata-kata tersebut adalah melalui ijab qabul, atau dalam kata lain jual beli itu juga dapat dikatakan sebagai kegiatan saling mempertukarkan antara barang dengan harga dari pihak penjual dan pihak pembeli.

c. Ulama Ibn Qudamah

Menurutnya jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan kepemilikan. Dalam definisi ini ditekankan kata milik dan kepemilikan, karena ada juga tukar-menukar harta yang sifatnya tidak harus dimiliki seperti sewa-menyewa (Ihsan, 2008).

2. Dasar Hukum Jual Beli


Berikut ini merupakan beberapa landasan hukum jual beli yang ada dalam al-Qur'an:

a. QS. Al-Baqarah ayat 275

Di mana dalam ayat ini Allah menjelaskan kepada manusia bahwa jual beli merupakan suatu hal yang dihalalkan dan akan mendapatkan keberkahan bagi orang-orang yang melakukannya dengan cara yang baik atau dihalalkan, sedangkan riba dengan jelas diharamkan oleh Allah SWT. dikarenakan riba merupakan sesuatu yang sangat buruk dan tidak membawa manfaat bagi siapapun yang melakukannya.

b. QS. Al-Baqarah ayat 198

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa tidak diharamkan atau disalahkan bagi siapapun yang berniat atau melakukan transaksi jual beli atau perniagaan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia ini. Di samping itu, manusia juga harus memikirkan keberlanjutan manfaat dari barang yang dikonsumsi untuk kehidupan akhirat kelak, yaitu dengan cara mengkonsumsi atau melakukan transaksi jual beli yang dihalalkan,

c. QS. An-Nisa ayat 29

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa transaksi jual beli yang dilakukan atas dasar saling rida di antara para pelakunya akan membawa keberkahan dan manfaat yang lebih.

Dari kandungan ayat-ayat Al-Qur'an di atas, para ulama fikih mengatakan bahwa hukum asal dari jual beli yaitu mubah (boleh). Akan tetapi, pada situasi-situasi tertentu, Imam Al-Syathibi (w.790 h), seorang pakar fikih Maliki, menyatakan bahwa hukum jual beli itu bisa saja berubah menjadi wajib apabila kebutuhan untuk diadakannya sangat tinggi. Imam Al-Syathibi memberi contoh ketika terjadi praktik ikhtikar (penimbunan barang sehingga stok hilang dari pasar dan harga melonjak naik).

Apabila seseorang melakukan ikhtikar dan mengakibatkan melonjaknya harga barang yang ditimbun dan disimpan itu, maka menurutnya, pihak pemerintah boleh memaksa pedagang untuk menjual barangnya itu sesuai dengan harga sebelum terjadinya pelonjakan harga. Dalam hal ini menurutnya, pedagang itu wajib menjual barangnya sesuai dengan ketentuan pemerintah.

Hal ini sama prinsipnya dengan Al-Syathibi bahwa yang mubah itu apabila ditinggalkan secara total, maka hukumnya boleh menjadi wajib. Apabila sekelompok pedagang besar melakukan boikot tidak mau menjual beras lagi, pihak pemerintah boleh memaksa mereka untuk berdagang beras dan pedagang ini wajib melaksanakannya. Demikian pula, pada kondisi-kondisi lainnya (Hendi, 1997).

3. Rukun dan Syarat Jual Beli


Suatu transaksi jual beli tentunya memiliki syarat dan rukun tersendiri yang harus dipatuhi atau dipenuhi oleh pihak-pihak yang melakukannya agar transaksi jual beli yang dilakukan tersebut dapat berjalan sesuai dengan aturan syara' atau dalam kata lain tidak menimbulkan berbagai macam kecurangan ataupun kesalahan.

Berhubungan dengan rukun jual beli, maka terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama dalam hal menentukannya, khususnya pendapat yang dikemukakan oleh ulama Hanafiyah dengan pendapat yang dikemukakan oleh jumhur ulama.

Menurut ulama Hanafiyah, rukun jual beli itu hanya satu yaitu harus adanya ijab dan qabul. Ijab merupakan suatu ungkapan dari pihak pembeli yang bermaksud untuk membeli suatu barang dan qabul merupakan sebuah ungkapan dari pihak penjual yang bermaksud untuk menjual barang yang dimilikinya.

Menurut mereka, yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan (rida) kedua belah pihak untuk melakukan transaksi jual beli.

Akan tetapi, karena unsur kerelaan itu merupakan unsur hati yang sulit untuk diindra sehingga tidak kelihatan, maka diperlukan indikasi yang menunjukkan kerelaan itu dari kedua belah pihak.

Indikasi yang menunjukkan kerelaan kedua belah pihak yang melakukan transaksi jual beli menurut mereka boleh tergambar dari ijab dan qabul, atau melalui cara saling memberikan barang dan harga barang (Haroen, 2007).

Berbeda halnya dengan rukun jual beli menurut pendapat jumhur ulama, di mana jumhur ulama menetapkan jual beli ke dalam empat rukun penting yaitu:
  • Ada orang yang berakad (penjual dan pembeli).
  • Ada sighat (lafal ijab qabul).
  • Ada barang yang dibeli (ma'qud alaih).
  • Ada nilai tukar pengganti barang.
Secara sekilas, tiga dari empat rukun jual beli (orang yang berakad, barang yang diakadkan, dan nilai tukar) yang telah ditetapkan oleh jumhur ulama, dalam pandangan ulama Hanafiyah bahwa hal tersebut masuk ke dalam kategori syarat jual beli atau dalam kata lain bukan merupakan rukun jual beli.

Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang dikemukakan jumhur ulama di atas sebagai berikut:

a. Syarat-syarat Orang yang Berakad

Para ulama fikih sepakat bahwa orang yang melakukan akad jual beli itu harus memenuhi syarat, yaitu:
  • Berakal sehat, oleh sebab itu seorang penjual dan pembeli harus memiliki akal yang sehat agar dapat melakukan transaksi jual beli dengan keadaan sadar. Jual beli yang dilakukan anak kecil yang belum berakal dan orang gila, hukumnya tidak sah.
  • Atas dasar suka sama suka, yaitu kehendak sendiri dan tidak dipaksa pihak manapun.
  • Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda, maksudnya seseorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual sekaligus sebagai pembeli.

b. Syarat yang Terkait dalam Ijab Qabul

  • Orang yang mengucapkannya telah baligh dan berakal.
  • Qabul haruslah sesuai dengan ijab yang telah diucapkan, bila kedua hal tersebut tidak sesuai atau tidak serasi maka jual beli dianggap tidak sah atau batal.
  • Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis. Maksudnya kedua belah pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang sama (Haroen, 2007).

c. Syarat-syarat Barang yang Diperjualbelikan

Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang diperjualbelikan sebagai berikut:
  • Barang yang diperjualbelikan merupakan barang yang dianggap suci menurut syara' dan tidak termasuk ke dalam salah satu jenis barang yang diharamkan, seperti babi, anjing, bangkai, dan najis. 
  • Barang yang diperjualbelikan merupakan milik sendiri atau diberi kuasa orang lain yang memilikinya.
  • Barang yang diperjualbelikan ada manfaatnya. Contoh barang yang tidak bermanfaat adalah lalat, nyamuk, dan sebagainya. Barang-barang seperti ini tidak sah diperjualbelikan. Akan tetapi, jika di kemudian hari barang ini bermanfaat akibat perkembangan teknologi atau yang lainnya, maka barang-barang itu sah diperjualbelikan.
  • Barang yang diperjualbelikan jelas dan dapat dikuasai.
  • Barang yang diperjualbelikan dapat diketahui kadarnya, jenisnya, sifat, dan harganya.
  • Dapat diserahkan saat akad berlangsung (Djunaedi, 2008).

d. Syarat-syarat Nilai Tukar (Harga Barang)

Nilai tukar barang yang dijual (untuk zaman sekarang adalah uang) nilai tukar ini para ulama fikih membedakan antara al-tsaman dengan al-si'r. Menurut mereka, al-tsaman adalah harga pasar yang berlaku di tengah-tengah masyarakat secara aktual, sedangkan al-si'r adalah modal barang yang seharusnya diterima para pedagang sebelum dijual ke konsumen (pemakai).

Dengan demikian, harga jual itu ada dua, yaitu harga antarpedagang dan harga antarpedagang dan konsumen (harga di pasar). Syarat-syarat nilai tukar (harga barang) yaitu:
  • Harus adanya kejelasan mengenai harga yang disepakati oleh kedua belah pihak, atau dalam kata lain diketahui jenis mata uang dan jumlah yang harus dibayarkan oleh pihak pembeli kepada pihak penjual. Hal ini tentunya agar tidak terjadi perselisihan akibat tingkat harga yang tidak jelas.
  • Dapat diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukum seperti pembayaran dengan cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar kemudian (berutang) maka pembayarannya harus jelas.
  • Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang, maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh syara', seperti babi dan khamar, karena kedua jenis benda ini tidak bernilai menurut syara' (Ihsan, 2008).

4. Jenis-jenis Jual Beli


Jual beli dapat ditinjau dari berbagai segi, yaitu:

a. Ditinjau dari Segi Bendanya

  • Jual beli benda yang wujudnya kelihatan, yaitu suatu bentuk jual beli di mana para penjual menghadirkan barang atau objek jual beli ke hadapan para pembeli, sehingga pembeli dapat melihat secara jelas dan yakin terhadap objek jual beli. Di samping itu, dengan dihadirkannya barang ke hadapan para penjual maka akan meminimalisir tingkat pengembalian barang setelah terjadinya penjualan (dapat menghindari ketidaktahuan atau cacatnya barang).
  • Jual beli yang barangnya tidak dihadirkan di hadapan para pembeli, namun barang tersebut ada dan pihak pembeli dapat melihat dengan jelas spesifikasi barang melalui gambar atau video, jual beli jenis ini sering disebut dengan jual beli salam atau pesanan. Jual beli secara pesanan mengharuskan penjual untuk menentukan harga yang jelas dan sesuai dengan kualitas produk yang dijualnya, dikarenakan jual beli salam merupakan jual beli yang pembayarannya dilakukan di muka, maka penentuan harga yang jelas akan memudahkan dalam melakukan transaksi salam tersebut.
  • Jual beli benda yang tidak ada, jual beli seperti ini tidak dibolehkan dalam agama Islam.

b. Ditinjau dari Segi Pelaku

  • Dengan lisan, akad yang dilakukan dengan lisan atau perkataan. Bagi orang yang bisu dapat diganti dengan isyarat.
  • Dengan perantara, misalnya dengan tulisan atau surat-menyurat. Jual beli ini dilakukan oleh penjual dan pembeli, tidak dalam satu mejelis akad, dan ini dibolehkan menurut syara'.
  • Jual beli dengan perbuatan, jual beli ini merupakan suatu bentuk jual beli di mana pihak pembeli langsung mengambil barang yang dijual oleh penjual dan selanjutnya memberikan uang sebagai harga dari barang yang dibeli tersebut dengan tanpa adanya ijab qabul. Misalnya seseorang mengambil mie instan yang sudah bertuliskan label harganya. Menurut sebagian ulama Syafi'iyah hal ini dilarang kerena ijab qabul adalah rukun dan syarat jual beli, namun sebagian Syafi'iyah lainnya seperti Imam Nawawi membolehkannya.

c. Ditinjau dari Segi Hukumnya

Suatu bentuk jual beli yang dilakukan akan dinyatakan sah atau tidak sahnya sesuai dengan tingkat pemenuhan dari syarat dan rukunnya itu sendiri. Berkaitan dengan hal ini, maka jumhur ulama membagikan jual beli menjadi dua bagian utama, yaitu: 
  • Shahih, yaitu suatu bentuk jual beli yang mana syarat dan rukun yang ada di dalamnya itu sudah dipenuhi dengan sempurna oleh para pelakunya.
  • Ghairu shahih, yaitu suatu bentuk jual beli yang dinyatakan tidak sah atau batal menurut syara' dikarenakan jual beli yang dilakukan tersebut tidak terpenuhinya salah satu dari syarat atau rukun utamanya.
Berkaitan dengan hal ini, ulama Hanafiyah merangkum atau mengelompokkan jual beli ke dalam tiga jenis pokok, yaitu:
  • Shahih, yaitu bentuk jual beli yang sudah terpenuhi dengan baik semua syarat dan rukunnya.
  • Bathil, adalah suatu bentuk jual beli yang tidak terpenuhi syarat atau rukunnya, dan hal ini tentunya dilarang untuk dilakukan. Misalnya: a) jual beli atas barang yang tidak ada (bai' al-ma'dum) seperti jual beli janin di dalam perut ibu dan jual beli buah yang tidak tampak, b) jual beli barang yang zatnya haram dan najis, seperti babi, bangkai, dan khamar, c) jual beli bersyarat, yaitu jual beli yang ijab qabul-nya dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu yang tidak ada kaitannya dengan transaksi yang dilakukan, d) jual beli yang dapat menimbulkan efek buruk atau atau sesuatu yang memberikan mudharat bagi para pelakunya, misalnya saja jual beli patung, salib, dan buku-buku cerita yang tidak jelas, e) jual beli yang mengakibatkan suatu bentuk penganiayaan, seperti menjual anak sapi yang masih tergantung kepada induknya.
  • Fasid, yaitu jual beli yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syara' namun terdapat sifat-sifat tertentu yang menghalangi keabsahannya. Sepert: a) menjual suatu barang yang ada, namun pada saat dilakukannya transaksi jual beli, barang yang ada tersebut tidak dihadirkan ke depan pembeli oleh penjual, sehingga hal ini dapat mengakibatkan kurangnya pengetahuan dari pihak pembeli terhadap barang yang ingin dibelinya itu, b) jual beli dengan cara menghadang para pedagang yang berasal dari luar kota untuk masuk ke pasar, yang bertujuan agar orang luar kota tersebut tidak mengetahui harga yang berlaku di pasar, sehingga mereka mau menjual barang yang dimilikinya dengan harga yang murah atau dalam kata lain dengan harga yang tidak sesuai pasaran kepada para penghadang tadi, c) membeli barang dengan memborong untuk ditimbun, kemudian akan dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut, d) jual beli barang rampasan atau curian, e) menawar barang yang sedang ditawar orang lain.

5. Manfaat Jual Beli


Manfaat jual beli banyak sekali, antara lain: 
  • Dengan dilakukannya jual beli dalam kehidupan masyarakat, maka dapat meningkatkan sikap menghargai hak atau milik orang lain, dan juga dapat menata kehidupan masyarakat dengan sistem yang lebih baik, yaitu sistem tukar-menukar atas dasar saling rida.
  • Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan atau suka sama suka.
  • Masing-masing pihak merasa puas. Penjual melepas barang dagangannya dengan ikhlas dan menerima uang, sedangkan pembeli memberikan uang dan menerima barang dagangan dengan puas pula. Dengan demikian, jual beli juga mampu mendorong untuk saling bantu antara keduanya dalam kebutuhan sehari-hari.
  • Dengan dilakukannya transaksi jual beli yang berlandaskan syariah, maka dapat menjaukan diri dari mengkonsumsi barang yang tidak baik atau haram.
  • Penjual dan pembeli mendapat rahmat dari Allah SWT.
  • Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan.

6. Hikmah Jual Beli


Hikmah jual beli dalam garis besarnya sebagai berikut:

Allah SWT. mensyariatkan jual beli sebagai pemberian keluangan dan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya, karena semua manusia secara pribadi mempunyai kebutuhan berupa sandang, pangan, dan papan. 

Kebutuhan seperti ini tak pernah putus selama manusia masih hidup. Tak seorangpun dapat memenuhi hajat hidupnya sendiri, karena itu manusia dituntut untuk berhubungan antara satu sama lainnya. Dengan demikian, maka jual beli menjadi sebuah solusi dalam hal meningkatkan hubungan yang baik antara sesama manusia, atau dalam kata lain melakukan tolong-menolong dengan cara mempertukarkan harta yang mereka miliki masing-masing.

Penulis: Fuad
Editor: Faisal

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jual Beli: Pengertian, Dasar Hukum, Rukun, Syarat, Jenis, Manfaat, dan Hikmahnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel