Maslahah dalam Income dan Expenditure

Menurut Ibnu Sina, ada dua hal penting yang harus diperhatikan oleh manusia, yaitu income (pencarian rezeki/kasb) dan expenditure (pengeluaran). Ketika seseorang menginginkan keberkahan, maka ia harus memulai untuk meraih keberkahan tersebut jauh sebelum konsumsi dilakukan.

Maslahah dalam Income dan Expenditure

Ia harus bekerja dengan cara yang baik, karena Islam mempertimbangkan proses pencarian rezeki harus dilalui dengan proses yang halal dan sah. Sebelum akhirnya dibelanjakan untuk suatu barang/jasa, dengan cara yang baik pula. Untuk lebih jelas lagi mari kita lihat poin-poin berikut ini:

1. Pemasukan (Income)


Berikut ini beberapa hal penting yang harus diketahui mengenai pemasukan (income):

a. Kualitas

Seseorang harus mendapatkan harta dengan cara yang halal dan baik.

b. Kuantitas

Islam memotivasi umatnya agar mencari rezeki yang banyak, agar bisa mencukupi kebutuhan dasarnya. Terlebih lagi agar bisa mencukupi kebutuhan dasar orang lain.

2. Pengeluaran (Expenditure)


Berikut ini merupakan sedikit penjelasan mengenai pengeluaran (expenditure):

a. Kualitas

Seseorang harus mengeluarkan hartanya untuk hal-hal yang halal dan baik.

b. Kuantitas

Islam melarang umatnya bersikap kikir ataupun boros dalam membelanjakan hartanya.Walaupun dalam hal pembelanjaan barang halal dan baik, akan tetapi ketika berlebihan akan menjadi dilarang karena masuk ke area haram.

Income dan expenditure haruslah diatur dengan suatu anggaran dan perhitungan yang cermat. Perolehan income sudah diatur dengan jelas dalam Islam, sehingga nantinya berimplikasi pada label halal ataupun haram dalam income tersebut.

Sangat banyak teks al-Qur'an dan hadis yang menjelaskan dengan sangat terperinci tentang bagaimana mekanisme pencarian rezeki yang berimplikasi pada keberkahan dalam konsumsi.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW. yang bermakna bahwa setiap orang Islam harus mengkonsumsi atau memakan yang halal saja dan meninggalkan untuk mengkonsumsi barang-barang yang diharamkan. Hal ini tentunya, agar manusia tersebut dapat memperoleh keberkahan hidup dan tentunya keberkahan harta yang dimilikinya.

Adapun expenditure, Ibnu Sina mengklasifikasikannya menjadi pengeluaran wajib dan tidak wajib. Pengeluaran wajib terkait dengan nafkah sehari-hari dan amal kebajikan untuk orang lain.

Adapun yang termasuk pengeluaran tidak wajib adalah simpanan, karena menurut Ibnu Sina manusia harus berpikir cerdas untuk perubahan peristiwa yang akan dilaluinya di masa mendatang.

Jadi, seseorang haruslah melakukan saving dan investasi untuk masa depannya. Lebih lanjut lagi, untuk pengeluaran wajib (nafkah) yang sifatnya konsumtif harus dikeluarkan sehemat mungkin.

Dan untuk amal kebajikan, Ibnu Sina menegaskan bahwa lebih baik dikeluarkan langsung dalam jumlah yang besar untuk pemberdayaan si miskin agar bisa berdiri sendiri.

Bukan dalam bentuk bantuan rutin yang diberikan sedikit, yang berakibat semakin melemahnya motivasi si miskin dalam mencari rezeki.

Ibnu Sina menerangkan lebih lanjut bahwa bantuan yang bersifat rutin akan bersifat bahaya karena tidak dapat memberdayakan si miskin, sehingga ketika bantuan itu diberhentikan dapat menimbulkan kesan yang tidak menyenangkan.

Selain pengeluaran untuk konsumsi dan simpanan, Islam juga selalu memotivasi umatnya untuk menginvestasikan harta yang dimiliki olehnya.

Satu alasan yang mendasar ketika seorang muslim diwajibkan untuk mengeluarkan zakat adalah agar ia senantiasa menginvestasikan hartanya.

Kewajiban zakat juga mendorong umat manusia untuk bekerja dan mempunyai banyak harta. Karena jika harta selalu dikeluarkan zakatnya tanpa dipakai untuk investasi, maka lambat laun harta tersebut akan habis sedikit demi sedikit.

Ada lima kriteria ataupun standar dalam menilai proyek investasi yang telah disebutkan dalam mausu'ah al-ilmiyah wa al-ilmiyah al-islamiyah, yaitu:
  1. Proyek yang baik menurut Islam.
  2. Memberikan rezeki seluas mungkin kepada anggota masyarakat.
  3. Memberantas kekafiran, memperbaiki pendapatan dan kekayaan.
  4. Memelihara dan menumbuh kembangkan harta.
  5. Melindungi kepentingan anggota masyarakat.

Lebih jauh lagi dalam pembahasan tentang pendapatan seseorang, Adiwarman Azhar Karim menjelaskan bahwa dalam ekonomi konvensional ada suatu bahasan tentang konsumsi intertemporal. Yaitu konsumsi yang dilakukan dalam dua waktu yaitu masa sekarang (periode pertama) dan masa yang akan datang (periode kedua). Di samping itu, dalam ruang lingkup ekonomi konvensional pendapatan merupakan total atau penjumlahan dari konsumsi dan tabungan yang dimiliki oleh seseorang. Atau secara matematis ditulis:

Y = C+S

Di mana:

Y = Pendapatan
C = Konsumsi
S = Tabungan

Adapun konsumsi intemporal dalam Islam seperti yang telah dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW. yang maknanya adalah: "harta yang kamu miliki adalah apa yang kamu makan dan apa yang telah kamu infaqkan". 

Oleh karena itu, persamaan pendapatan menjadi Y = (C+Infaq)+S

Secara grafis, hal ini seharusnya digambarkan dengan tiga dimensi, namun untuk kemudahan penyajian grafis, yaitu dengan dua dimensi, maka persamaan ini disederhanakan menjadi:

Y = FS+S

Di mana: FS = C+Infaq

FS adalah final spending di jalan Allah.

Dengan adanya penyederhanaan ini tentunya dapat memungkinkan atau memudahkan kita dalam hal menggunakan alat analisis grafis yang sering digunakan dalam teori konsumsi, yaitu dengan cara memaksimalkan fungsi dari utilitas (utility function) dengan suatu garis pendapatan tertentu (budget line) ataupun dengan cara meminimalkan budget line dengan suatu utility function tertentu.

Penulis: Eliska Mentari
Editor: Faisal

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Maslahah dalam Income dan Expenditure"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel