Akad Pertanian dalam Ekonomi Islam

Keberadaan akad dalam aktivitas yang bersangkutan dengan pertanian, memberikan kemudahan dan keunikan tersendiri. Bagaimana tidak? Setiap transaksi yang dilakukan akan menjadi jelas, baik itu dari segi sistem atau tujuan dari transaksi itu sendiri.

Akad pertanian dalam ekonomi Islam

Tak hanya itu, dengan adanya akad tersebut, dapat meminimalisir tingkat perselisihan yang terjadi di antara para pihak yang melakukannya. Berikut ini adalah akad-akad pertanian yang dimaksud:

Muzara'ah dan Mukhabarah


Muzara'ah itu sendiri berasal dari kata zara'a, yang berarti menaburkan benih di tanah atau lahan. Sedangkan secara istilah muzara'ah adalah kegiatan penyerahan tanah yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, dengan tujuan agar tanah tersebut dapat dimanfaatkan atau diolah dengan cara bercocok tanam, dengan harapan bahwa kedua belah pihak dapat merasakan manfaatnya pada saat panen tiba (hasil yang diperoleh dibagi sesuai kesepakatan). Dalam kasus ini, bibit tanaman yang akan ditanamkan berasal dari pemilik tanah, sedangkan penggarapnya hanya bertugas untuk mengelola sebaik mungkin bibit tersebut agar dapat menghasilkan.

Sementara itu, ada satu lagi akad yang sangat mirip atau serupa dengan akad muzara'ah, akad tersebut adalah mukhabarah, hanya saja yang membedakan antara keduanya terletak pada bibit tanaman. Di mana, dalam akad mukhabarah bibit tanaman berasal dari penggarap, atau dalam kata lain pemilik tanah hanya perlu memberikan izin untuk dimanfaatkan lahannya dengan cara ditanami tumbuhan oleh penggarap. Bila tanaman tersebut dapat memberikan keuntungan, maka prosesnya sama dengan akad muzara'ah, di mana keuntungan tersebut akan dibagi sesuai kesepakatan.

Musaqah


Asal kata musaqah yaitu saqay, yang artinya memberi minum atau boleh juga diartikan sebagai kegiatan penyiraman. Sedangkan secara istilah, musaqah adalah akad kerjasama antara pemilik kebun dengan penggarap, tugas utama penggarap yaitu menyiram dan merawat tanaman yang ada, dengan tujuan tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik, dan menghasilkan manfaat yang dapat dijual. Skema bagi hasil dalam akad ini masih sama dengan akad muzara'ah dan mukhabarah yaitu sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh kedua belah pihak. Sedangkan bila terjadi kerugian, maka akan ditanggung bersama sesuai dengan porsi yang mereka sepakati.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Akad Pertanian dalam Ekonomi Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel