Akad Wadiah dalam KHES (Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah)

Akad wadiah tergolong ke dalam salah satu akad yang paling populer digunakan di kalangan masyarakat.

Hal ini dikarenakan akad wadiah sangat mudah untuk dipraktikkan.

Wadiah itu sendiri merupakan akad titipan barang dari salah satu pihak kepada pihak lainnya, di mana akad tersebut terdiri dari dua bagian utama, yaitu wadiah yad amanah dan wadiah yad dhamanah.

Akad Wadiah dalam KHES (Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah)

Wadiah yad amanah adalah wadiah yang didasari oleh kepercayaan, dalam wadiah jenis ini, pihak yang menerima titipan hanya dipercayakan untuk menjaga barang titipan, bukan untuk memanfaatkan barang titipan.

Berbeda halnya dengan wadiah yad dhamanah, di mana pihak penitip memberikan izin kepada penerima titipan untuk memanfaatkan barang titipan, dengan tetap menjaga keutuhan barangnya.

Demi tercapainya tujuan akad wadiah, maka aturan tentang wadiah ini telah diatur sedemikian rupa dalam KHES (Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah), tepatnya dalam Bab XIV pasal 370-390.

Berikut ini merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai aturan yang ada dalam pasal tersebut:
  1. Rukun dan syarat wadiah, rukun wadiah antara lain harus adanya penitip, penerima titipan, harta atau objek titipan, dan ijab kabul. Sedangkan syarat dari akad wadiah yaitu harus adanya kecakapan hukum bagi kedua belah pihak yang melakukan akad, objek wadiah merupakan milik sah pihak penitip, dan kedua belah pihak diberikan kesempatan untuk membatalkan akad sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat.
  2. Jenis-jenis akad wadiah, di mana wadiah terbagi dua, yaitu wadiah amanah dan wadiah dhamanah.
  3. Penjagaan atau perawatan barang, di mana barang wadiah harus dijaga dengan baik agar tidak rusak atau pun hilang, pihak yang menerima titipan tidak boleh memberikan barang titipan kepada orang lain. Apabila barang yang disimpan tersebut dikhawatirkan tidak dapat bertahan lama, maka penerima titipan dapat menjualnya bila penitip tak kunjung mengambil barang titipannya, setelah dijual maka uang hasil penjualan tersebut harus disimpan dengan baik, layaknya barang titipan tadi. Jika barang titipan rusak dengan sendirinya, maka penerima titipan tidak harus bertanggung jawab atas kerusakan tersebut, kecuali bila kerusakan yang timbul akibat dari kelalaiannya.
  4. Pengembalian barang titipan, barang titipan dapat diambil sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat oleh kedua belah pihak, setiap biaya yang harus dikeluarkan dari proses pengembalian barang, maka biaya tersebut akan ditanggung oleh penitip.
Kesemua aturan akad wadiah yang telah dibuat tersebut, bertujuan untuk menjadikan akad wadiah semakin mudah untuk dipahami dan digunakan, serta memudahkan dalam hal pengambilan keputusan terkait dengan barang titipan, baik itu keputusan mengenai proses perawatan, kerusakan atau kehilangan barang, pengembalian barang, dan berbagai keputusan lainnya yang berhubungan dengan akad wadiah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel