Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang

Tujuan utama dari kegiatan jual beli yaitu untuk saling tukar-menukar manfaat, agar kedua belah pihak yang melakukannya dapat memenuhi kebutuhannya masing-masing. Namun, tak selamanya jual beli yang dilakukan dapat memberikan manfaat, hal ini dikarenakan transaksi jual beli tersebut tidak dilakukan dengan cara yang benar atau sesuai dengan aturan yang telah digariskan syariat.

Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang

Misalnya saja, transaksi yang mengandung unsur penipuan, kecurangan, atau ketidaktahuan kedua belah pihak yang melakukan transaksi terhadap objek yang ditransaksikan, jual beli yang seperti ini sudah pasti dapat menimbulkan masalah atau perselisihan di kemudian hari, atau dalam kata lain setelah terjadi transaksi jual beli tersebut. Terjadinya perselisihan sama artinya dengan hilangnya asas suka sama suka (antaradhin), di mana asas tersebut menjadi hal yang harus dipertimbangkan dalam setiap transaksi. Singkatnya adalah transaksi yang tidak didasari oleh sikap saling rela akan dilarang, demi menjaga hubungan yang baik antara individu yang satu dengan yang lainnya.

Suatu transaksi atau kegiatan jual beli ada yang dilarang karena tidak terpenuhi syarat dan rukunnya dan ada juga yang dilarang karena objeknya tidak sesuai dengan kriteria yang dianggap sah dalam Islam. Misalnya saja jual beli mobil (benda yang halal), namun pada saat transaksi dilakukan kedua belah pihak tidak melakukan akad jual beli secara jelas, atau bisa jadi tidak dilakukannya proses ijab kabul (serah terima barang), maka akad jual beli tersebut dianggap tidak benar. Dan ada juga transaksi yang dilakukan dengan adanya ijab kabul dan berbagai syarat dan rukun jual beli lainnya, tapi objeknya itu babi (barang yang diharamkan) maka transaksi yang seperti ini juga dilarang. Lalu, bagaimana juga transaksi yang dibenarkan dalam Islam? Transaksi yang benar dalam Islam sebenarnya cukup mudah untuk dilakukan, yaitu dengan cara memastikan bahwa objek jual beli yang telah ditentukan bukan merupakan barang yang haram dan selanjutnya memastikan juga bahwa syarat dan rukun jual beli telah dilakukan dengan benar atau sesuai tuntutan syara'.

Semudah apa pun konsep juall beli yang ditawarkan oleh Islam, tentunya tidak semua orang mengaplikasikannya dengan benar atau dalam kata lain tidak semua orang menerima tawaran tersebut. Hal ini dikarenakan motif jual beli yang dilakukan oleh seseorang akan berbeda dengan motif jual beli yang dilakukan oleh orang lain. Sebagian orang melakukan transaksi jual beli sesuai dengan aturan syariah, namun sebagian lainnya tidak berpedoman kepada prinsip syariah karena motifnya itu untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya (profit oriented).

Terus, bagaimana caranya agar kita tidak terjerumus ke dalam transaksi yang dilarang atau tidak dibenarkan syariah? Untuk menjawab hal ini tentunya kita harus terlebih dahulu mengetahui bentuk-bentuk jual beli yang dilarang dalam Islam, atau dalam istilah lain kenal dulu baru hindari, karena kalau kita tak kenal biasanya sering tidak sadar bahwa transaksi yang dilakukan tersebut dilarang oleh Ilahi.

Baiklah, langsung saja kita masuk ke inti pembahasannya yaitu mengenai bentuk-bentuk jual beli yang dilarang, mohon disimak dengan baik agar dapat menambah wawasan:

1. Jual Beli yang Haram Zatnya


Jual beli barang yang haram zatnya antara lain seperti menjual minuman memabukkan, babi, anjing, bangkai, dan barang-barang bernajis lainnya.

2. Jual Beli yang Salah Cara Transaksinya


Jual beli yang salah cara transaksinya bisa dikatakan jual beli barang atau objek yang belum jelas (gharar) atau kedua belah pihak belum tau dengan pasti manfaat yang akan didapat dari transaksi yang dilakukan. Dan satu lagi yaitu tadlis, di mana pihak penjual menyembunyikan informasi mengenai cacatnya barang dari pihak pembeli. Berikut ini beberapa contoh dari transaksi yang dilarang karena salah cara transaksinya:

  • Jual beli buah-buahan yang belum layak panen (belum matang), seperti menjual putik kelapa, yang mana putik kelapa tersebut belum dapat dimanfaatkan air atau dagingnya.
  • Menjual kepiting yang masih berada di sarangnya atau dalam kata lain belum dilakukan proses penangkapan.
  • Jual beli dengan syarat yang dilarang dalam agama, seperti seorang penjual akan memberi diskon sebesar 95% dengan syarat pembeli harus membawa minuman keras kepadanya (atau syarat-syarat lainnya yang sudah jelas dilarang).
  • Jual beli yang mendatangkan kemudharatan, seperti jual beli anggur yang tujuannya untuk dijadikan sebagai minuman yang memabukkan atau jual beli senjata untuk memusuhi sesama manusia.
  • Jual beli yang mengarah kepada kegiatan penganiayaan, misalnya menjual anak kerbau yang baru lahir, di mana anak kerbau tersebut masih sangat bergantung pada induknya. 
  • Jual beli muhaqalah, seperti menjual bayam yang belum dipanen atau cabai yang belum dipetik.
  • Jual beli mukhadharah, seperti menjual rambutan yang masih hijau atau belum ada dagingnya.
  • Jual beli mulamasah, misalnya seorang pembeli tidak sengaja (atau sengaja tapi tidak niat beli) menyentuh apel yang ada di pasar, lalu si penjual langsung menyatakan bahwa apel tersebut harus dibeli dan tidak boleh tidak. Maka, jual beli ini tergolong kepada pemaksaan, sehingga dilarang dalam Islam.
  • Jual beli munabadzah, seperti seseorang melempar tas kepada orang lain, lalu orang lain tersebut melempar buku kepadanya. Tanpa didasari ijab kabul dan pengecekan, hal ini dilarang karena tidak ada kejelasan dari dua barang yang ditukarkan tersebut. Bisa jadi buku yang dilempar sudah penuh dengan tulisan dan tidak ada ruang untuk menulis lagi, atau bisa jadi pula tas yang dilempar tersebut bagian bawahnya sudah bolong atau talinya yang sudah putus.
  • Jual beli muzabanah, misalnya menjual gandum kering dengan cara menyelipkan yang basah ditengah-tengahnya, sehingga gandum tersebut menjadi lebih berat ketika ditimbang dan penjual menagih atas hasil timbangan tersebut. Atau bisa jadi seseorang menukar gandum kering bercampur basah dengan gandum kering dan berkualitas baik milik orang lain, hal ini dilarang kerana merugikan sebelah pihak.
Setelah kita pahami semua bentuk jual beli yang dilarang di atas, maka sudah sepatutnya untuk kita hindari atau tinggalkan. Karena keuntungan yang diperoleh seseorang dari hasil jual beli yang tidak halal akan berpengaruh kepada keberkahan harta dan jiwa pelakunya. Semakin banyak mengkonsumsi barang haram, maka keberkahan harta akan semakin berkurang. Begitu juga sebaliknya, semakin sedikit mengkonsumsi barang haram, keberkahan harta akan semakin meningkat dan semakin bermartabat para pelakunya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel