Gharar dalam Transaksi Ekonomi

Gharar atau ketidaktahuan dari kedua belah pihak yang melakukan transaksi, menjadi hal yang paling dilarang untuk dipraktikkan. Hal ini dikarenakan transaksi gharar yang dilakukan dapat merusak tatanan ekonomi dan merugikan salah satu pihak yang bertransaksi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa praktik gharar merupakan selemah-lemahnya cara dalam memperoleh keuntungan, di mana salah satu pihak berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari objek yang belum jelas akan manfaat yang terkandung di dalamnya, atau bisa jadi barang tersebut bermanfaat, tapi kemungkinan untuk dapat mengambil manfaatnya sangat kecil.

Gharar dalam Transaksi Ekonomi

Misalnya, seseorang menjual segala isi yang ada dalam kolam kepada orang lain, akan tetapi orang yang menjual dan pihak pembeli tidak tau sedikit pun mengenai isi kolam tersebut, atau boleh juga pihak penjual yang meyakinkan kepada pembeli bahwa dalam kolam tersebut banyak ikan, namun pihak penjual tidak benar-benar memeriksa seberapa banyak ikan yang ada dalam kolam, maka hal ini akan menimbulkan keraguan di antara kedua belah pihak, terkait jumlah ikan yang ada dalam kolam, oke lah kalau ikannya banyak, kalau ternyata dalam kolam tersebut hanya ada seekor biawak bagaimana? Atas dasar keraguan dan ketidaktahuan inilah Islam melarang transaksi gharar, selain merugikan sebelah pihak, peluang akan timbulnya perselisihan dan perkelahian juga sangat besar.

Contoh lain dari transaksi yang mengandung gharar yaitu menjual putik mangga, mangga itu memang barang yang bermanfaat, tapi manfaatnya baru dapat diambil ketika mangga tersebut sudah matang atau sudah dapat diolah menjadi bahan makanan tertentu, kalau hanya menjual putik mangga atau buah mangga yang masih kecil dan belum bisa dikonsumsi, maka transaksi tersebut tidak mengandung manfaatnya, yang ada malah merugikan orang yang membelinya, kalau ternyata suatu saat putik mangga yang dibeli sudah layu dan runtuh atau batang mangga tersebut menjadi mati. Kalaupun hasil yang diperoleh dari mangga tersebut melebihi dari yang diprediksi, maka hal ini akan merugikan penjual, dikarenakan harga dari putik mangga tidak sesuai dengan manfaat yang dihasilkan. Dan memungkinkan pihak penjual untuk meminta tambahan bayaran atas putik mangga yang dijualnya di saat pembeli ingin memetik mangga tersebut. Transaksi yang seperti ini benar-benar kacau dan tidak bisa diandalkan.

Singkatnya adalah menjual barang itu dibolehkan selama manfaat dari barang tersebut sudah jelas dan dapat diambil, kalau manfaatnya belum jelas kapan bisa diambil maka transaksi tersebut dilarang dalam Islam, hal ini tidak lain demi menjaga kesehatan struktur ekonomi dan aktivitas bisnis masyarakat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Gharar dalam Transaksi Ekonomi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel