Hak Milik menurut Hukum Islam

Secara bahasa milik berasal dari kata al-milk, yang berarti penguasaan terhadap suatu harta. Sedangkan secara istilah, hak milik merupakan upaya untuk memperjelas pemilik dari suatu barang atau harta tertentu, dan orang yang dinyatakan dengan jelas memiliki harta tersebut dapat bertindak secara hukum, atau dalam kata lain dapat mengambil manfaat untuk dirinya sendiri atau pun mengalihkannya kepada orang lain.

Hak Milik menurut Hukum Islam

Di samping itu, fokus pemanfaatan harta haruslah tidak melanggar aturan syariah, hal ini tentunya untuk menjaga kehalalan dan kesucian dari harta itu sendiri.

Berikut beberapa cara pemilikan harta dalam hukum Islam:

  1. Usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk dapat menguasai harta yang belum pernah dikuasai atau dimiliki oleh orang lain, atau yang biasa dikenal dengan penguasaan terhadap harta yang mubah.
  2. Harta yang didapat karena adanya transaksi atau pun akad yang berlangsung di antara kedua belah pihak.
  3. Harta yang diperoleh dari warisan atau peninggalan orang tua.
  4. Segala wujud manfaat yang timbul atas harta yang telah dimiliki.
Sementara itu, para ulama juga mengkategorikan hak milik kepada tiga bagian, yaitu:
  1. Hak milik terhadap suatu barag yang memang dibolehkan untuk dimiliki atau dikuasai.
  2. Hak milik terhadap harta yang dilarang untuk dimiliki secara pribadi, dan dapat dimiliki secara umum atau bersama.
  3. Hak milik terhadap harta yang dibolehkan untuk dimiliki oleh syara'.
Ulama fikih menyatakan bahwa ada dua rukun hak milik, yaitu pemilik hak dan satu lagi objek hak.

Sebenarnya, hal yang perlu kita ketahui bahwa pemilik mutlak dari harta itu sendiri adalah Allah SWT. akan tetapi, Allah mengamanahkan kepada manusia untuk menjaganya, salah satunya yaitu dengan memiliki harta dan berusaha untuk merawat, serta memproduktifkannya.

Hak terhadap suatu harta dapat dibedakan menjadi tiga, antara lain:
  1. Haaq Maali, segala hak yang berhubungan dengan harta benda.
  2. Haaq al-'Aini, hak yang ditetapkan oleh syara' kepada seseorang yang berhubungan dengan suatu zat atau benda.
  3. Haaq Mujarrad, suatu hak yang apabila digugurkan tidak akan menimbulkan kewajiban yang baru.

0 Response to "Hak Milik menurut Hukum Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel