Instrumen-instrumen Investasi Syariah

Instrumen-instrumen Investasi Syariah

Ada berbagai instrumen yang digunakan dalam kegiatan investasi syariah untuk menunjang kegiatan operasionalnya. Semakin beragam jenis instrumen yang digunakan tentunya akan semakin berpeluang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dan investor pun dapat memilih jenis instrumen yang tepat untuk digunakan. Berikut ini merupakan instrumen-instrumen investasi syariah:

1. Saham Syariah


Saham Syariah merupakan surat berharga yang menyatakan kepemilikan seseorang terhadap suatu perusahaan yang dikemas sesuai dengan prinsip syariah. Di mana pemegang saham diberikan hak oleh perusahaan untuk ikut serta dalam meningkatkan kualitas kinerja perusahaan atau dalam kata lain ikut serta untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.

Pemegang saham juga berhak untuk memperoleh bagian dari keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan yang bersangkutan, dan juga menerima risiko bila perusahaan yang telah dibeli sahamnya mengalami kebangkrutan atau kerugian. Semakin banyak jumlah saham yang dibeli oleh seseorang, maka kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan akan menjadi lebih besar, begitu juga dengan risikonya.

Saham syariah agak sedikit berbeda dengan saham pada umumnya, di mana saham syariah merupakan saham yang berasal dari perusahaan-perusahaan yang menjalankan sistem operasionalnya sesuai dengan prinsip syariah, sedangkan saham perusahaan yang tidak menjalankan sistem operasionalnya sesuai dengan prinsip syariah, tidak dikategorikan sebagai saham syariah.

Di samping itu, suatu saham baru akan dianggap syariah apabila telah memenuhi kriteria bahwa total hutang yang dimiliki oleh sebuah perusahaan tidak melebihi total asetnya, karena kalau jumlah utang melebihi dari total aset, dikhawatirkan akan terjadinya kerugian para investor akibat penggunaan labanya untuk membayar hutang yang dimilikinya tersebut.

2. Obligasi Syariah


Merupakan surat berharga jangka panjang yang berlandaskan prinsip syariah, yang diterbitkan oleh perusahaan kepada para pemegang obligasi syariah, dan selanjutnya akan diberikan bagi hasil bila perusahaan memperoleh keuntungan, serta pengembalian dana para pemegang obligasi syariah oleh pihak perusahaan apabila obligasi tersebut telah jatuh tempo.

Proses bagi hasil biasanya dilakukan secara proporsional atau sesuai dengan porsi kepemilikan terhadap obligasi syariah yang telah dimiliki, kemudian dibandingkan dengan jumlah dana dari obligasi syariah yang belum dibayar kembali kepada para pemegang obligasi.

Atas dasar inilah, obligasi syariah tidak dapat dianggap sebagai hutang yang memiliki bunga tetap, akan tetapi obligasi syariah lebih mengarah kepada prinsip penyertaan modal yang selanjutnya akan mendapatkan bagi hasil atas keuntungan yang diperoleh perusahaan.

3. Reksa Dana Syariah


Reksa Dana Syariah merupakan sebuah wadah atau tempat yang diperuntukkan untuk kegiatan penghimpunan dana dari pihak masyarakat, khususnya dari para investor yang menginginkan agar dananya menjadi lebih produktif dan menghasilkan. Setelah dana yang terhimpun mencukupi, maka dana tersebut akan diinvestasikan oleh para manajer investasi dalam berbagai jenis perusahaan syariah, baik berupa pembelian saham syariah, obligasi syariah, atau berbagai jenis efek syariah lainnya.

Dalam kasus ini, para investor berperan sebagai sahibul mal (pemilik dana), manajer investasi sebagai wakil dari para investor, dan perusahaan yang diinvestasikan dana sebagai mudharib (pihak yang mengelola dana).

Apabila perusahaan terkait memperoleh keuntungan, maka keuntungan tersebut akan dibagi kepada para investor melalui manajer investasi. Atas jasanya sebagai wakil, maka manajer investasi berhak untuk mendapatkan bagian dari hasil investasi tersebut, dan jumlah pembagian keuntungan tersebut akan disepakati bersama antara para investor dengan manajer investasi.

Sedangkan bila terjadi kerugian, maka para investor akan menanggung kerugian dalam bentuk dana (uang yang telah diinvestasikan) dan pihak pengelola dana akan menanggung kerugian berupa waktu, tenaga, dan pikiran yang telah dihabiskannya.

4. Deposito Mudharabah


Deposito Mudharabah adalah deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip mudharabah. Di mana, satu pihak akan berperan sebagai sahibul mal (pemilik modal) dan satu lagi sebagai mudharib (pengelola modal). Jumlah dan jenis dana harus dinyatakan dengan jelas pada saat transaksi tersebut ditandatangani. Sahibul mal berhak untuk mendapatkan bagi hasil apabila dana yang dikelola tersebut memberikan keuntungan, jumlah bagi hasil yang harus diberikan oleh mudharib sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak.

Sebenarnya instrumen investasi syariah sangatlah banyak, tidak hanya terdiri dari empat saja, instrumen investasi syariah akan selalu disesuaikan dengan kebutuhan investasi masyarakat, hal ini tentunya agar setiap pihak dapat merasakan kemudahan berinvestasi dengan prinsip syariah.

Ada berbagai manfaat yang dapat dirasakan oleh para investor apabila dananya diinvestasikan dalam instrumen syariah, di antaranya yaitu mendapatkan bagian keuntungan yang halal, ketentraman jiwa, dan menghindari berbagai risiko penipuan dan tindakan curang lainnya. Selama instrumen tersebut dimanfaatkan dengan memperhatikan atau mengacu pada pedoman syariah, maka semua instrumen tersebut dapat menjadi rekomendasi terbaik untuk berinvestasi.

0 Response to "Instrumen-instrumen Investasi Syariah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel