Keadilan Distribusi dalam Ekonomi Islam

Berbicara masalah distribusi tentu tidak akan ada ujungnya, bagaimana tidak? Distribusi itu sendiri memberi dampak yang begitu tajam dalam setiap aspek perekonomian masyarakat. Semakin besar volume harta atau kekayaan yang ingin didistribusikan oleh seseorang, sekelompok orang, atau pemerintah, maka semakin besar pula tanggung jawab yang harus ada dalam kegiatan distribusi tersebut, hal ini bertujuan agar harta yang ingin dialokasikan tepat sasaran dan merata atau dalam kata lain secara adil dan tidak ada pihak yang dilanggar haknya.

Keadilan Distribusi dalam Ekonomi Islam

Harta atau kekayaan yang didistribusikan dengan tidak merata, atau hanya tertuju pada segelintir orang saja, akan menimbulkan permasalahan ekonomi dan perselisihan di antara anggota masyarakat. Misalnya saja, program pemerintah untuk menyalurkan beras kepada masyarakat, lalu muncullah oknum atau pihak yang mau memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan keuntungan baginya. Sehingga pihak tersebut membuat sebuah rencana untuk menyembunyikan sebagian beras agar dapat dijualnya setelah hasil penyaluran selesai.

Akibat dari ulah pihak ini, tentunya akan mengurangi jumlah beras yang seharusnya dibagikan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, dan terciptalah ketidakadilan dalam distribusi. Kalau upaya untuk menyembunyikan beras yang seperti ini tidak dihilangkan, atau diawasi dan dihukum oleh pihak yang berwenang, maka seiring peningkatan jumlah distribusi beras, akan ikut meningkatkan hasil penggelapan tadi, layaknya benalu yang tumbuh subur seiring pohon yang ditempatinya besar dan hijau.

Di samping itu, selain bentuk distribusi murni yang dilakukan, ada juga bentuk distribusi yang didasari dengan pekerjaan. Seperti seorang manajer yang membayar gaji para karyawannya karena telah melakukan tugas tertentu. Maka, distribusi yang seperti itu juga dituntut akan adanya unsur keadilan di dalamnya.

Bila manajer sudah berjanji untuk memberikan gaji dengan jumlah yang sama dengan kontribusi yang diberikan oleh karyawan juga sama, maka manajer tidak boleh membeda-bedakan jumlah gaji pada saat jatuh tempo pemberian gaji, karena hal ini dapat merusak hubungannya dengan karyawan dan hubungan karyawan yang satu dengan yang lainnya.

Singkatnya, seseorang harus memberikan upah para pekerjanya dengan cara yang adil, bukan dengan cara asal-asalan. Kalau asal-asalan, pasti akan berujung pada ketidakadilan.

Setiap distribusi yang dilakukan selalu memiliki tujuan yang berbeda dengan yang lainnya, dengan demikian manajemen atau pengelolaan dari distribusi yang akan dilakukan juga ikut berbeda, serta masalah yang timbul pun akan sangat beragam.

Namun, ada satu hal yang paling penting untuk setiap kegiatan distribusi yang dilakukan, yaitu tujuannya harus mengarah kepada pencapaian kemaslahatan (kebaikan) bagi orang yang berhak menerimanya.

Suatu hal baru dianggap baik apabila tidak terjadinya perselisihan atau permusuhan di dalamnya, maka dari itu untuk membentuk sebuah program distribusi yang baik, harus diusahakan agar hak-hak para pihak yang akan menerima harta distribusi tersebut tersalurkan secara adil.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ekonomi Islam memeliki cara pandang tersendiri terhadap distribusi kekayaan, yaitu dengan memberikan hak orang lain secara adil.

Selain itu, ekonomi Islam juga menawarkan kewajiban membayar zakat, sebagai upaya untuk menjadikan harta yang dimiliki oleh orang yang mampu, dapat disalurkan secara merata kepada para mustahik (orang yang berhak menerimanya), dengan tujuan agar harta tersebut tidak hanya beredar pada sebagian orang saja, serta tercapainya falah (kemenangan) dalam bidang ekonomi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Keadilan Distribusi dalam Ekonomi Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel