Perubahan Nilai Tukar dalam Perspektif Ekonomi Islam

Nilai tukar biasa diidentikkan dengan kata "kurs", yang memiliki arti suatu bentuk perbandingan nilai tukar antara negara satu dengan negara lainnya, atau bisa juga disebut sebagai perbandingan nilai tukar valuta antarnegara.

Pengukuran nilai tukar suatu negara dapat dipengaruhi oleh besarnya volume transaksi atau perdagangan yang terjadi dalam negara tersebut.

Secara umum, perubahan nilai kurs dipengaruhi oleh perubahan tingkat harga barang yang berlaku di suatu negara dibandingkan dengan negara yang satu lagi (negara yang hendak ditukarkan mata uangnya).

Perubahan Nilai Tukar dalam Perspektif Ekonomi Islam

Bentuk nilai kurs yang seperti ini diistilahkan sebagai kurs efektif. Kurs ini menjadi hal yang berperan penting dalam kegiatan perekonomian dikarenakan:
  1. Dengan adanya pertukaran mata uang antara negara yang satu dengan negara lain maka perdagangan internasional dapat dilakukan dengan mudah.
  2. Memudahkan dalam hal melakukan transaksi antarnegara, baik itu berupa pembayaran atau pun kebutuhan finansial (keuangan) lainnya.
  3. Suatu bentuk kerja sama dalam hal lalu lintas pembayaran antarbank devisa dunia dapat berjalan dengan lancar.
  4. Dapat dilakukannya transaksi valuta asing.
  5. Memudahkan dalam hal mengunjungi suatu negara.

Kurs ini sering diistilahkan sebagai sharf dalam ruang lingkup ekonomi Islam, yang mana hukumnya itu adalah mubah atau boleh dilakukan selama mengikuti aturan atau konsep yang telah diatur oleh syariah.

Perubahan nilai tukar dapat terjadi kapan pun, dan biasanya mengikuti perubahan harga barang yang terjadi dalam suatu negara.

Perubahan harga barang dalam suatu negara itu sendiri terdiri dari tiga kemungkinan, bisa jadi berubah menjadi semakin mahal, semakin murah, dan sedang (tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah).

Berikut ini beberapa syarat penting yang harus dipenuhi dalam transaksi kurs menurut perspektif ekonomi Islam:
  1. Dalam hal kurs tetap, bila terjadi perubahan nilai tukar uang, maka bank sentral harus menetapkan dengan jelas harga valuta asing (valas), di samping itu bank sentral juga harus bersedia untuk membeli ataupun menjual valas dengan harga yang telah diperjanjikan atau disepakati secara bersama (sesuai kesepakatan). Bila terjadinya perubahan dalam hal permintaan pada salah satu jenis mata uang, maka bank sentral harus bergerak cepat untuk menambah penawaran yang lebih banyak (sesuai) untuk jenis mata uang yang mengalami peningkatan jumlah permintaan, dengan demikian nilai dari mata uang tersebut akan kembali normal seperti semula.
  2. Sedangkan dalam sistem kurs fleksibel (kurs mengambang), pemerintah harus terus mengawasi perubahan nilai tukar yang terjadi, hal ini tentunya bertujuan untuk mencegah terjadinya kegiatan spekulasi atau permainan nilai mata uang oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan dalam jumlah yang besar (profit oriented). Dengan adanya turun tangan dari pemerintah tersebut maka nilai kurs akan selalu stabil atau dalam kata lain tidak melonjak atau pun turun secara drastis.
  3. Transaksi pertukaran mata uang yang dilakukan harus secara tunai. Bila ditukarkan dalam mata uang yang sama, maka jumlah dan nilainya harus sama pula.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel