Perubahan Uang Berstandar Emas dan Perak kepada Uang Kertas

Standar mata uang pada masa lalu agak sedikit berbeda dengan yang sekarang ini, dikarenakan pada masa itu mata uang yang digunakan lebih terfokus pada emas dan perak. Dalam perjalanannya, perak mengalami penurunan dan menjadikan emas sebagai fokus utama dalam bertransaksi di berbagai bidang.

Perubahan Uang Berstandar Emas dan Perak kepada Uang Kertas

Penggunaan emas terus berlanjut sampai adanya pengeluaran atau pencetakan uang kertas (akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20). Pengeluaran uang kertas itu sendiri digunakan sebagai alat untuk mewakili sejumlah emas, yang disesuaikan dengan nilai nominal yang tertera pada uang kertas tersebut.

Penggunaan uang emas terus berlanjut sampai sebelum terjadinya perang dunia pertama. Namun, pada saat terjadinya perang dunia pertama, berbagai negara ikut untuk mencetak uang kertas dengan jumlah yang banyak tanpa adanya emas sebagai dasar pencetakan uang kertas yang telah disetujui atau disepakati sebelumnya.

Setelah perang dunia pertama berakhir, sejumlah negara membuat sebuah pertemuan, tepatnya di Jenewa pada tahun 1922, dengan keputusan bahwa sepakat untuk menjadikan kembali sistem emas sebagai standar pertukaran, dengan diikuti oleh beberapa penyesuaian dan pengurangan untuk menyempurnakannya.

Akan tetapi, kesepakatan untuk kembali kepada sistem emas tidak lah berlangsung dalam jangka waktu yang lama, hal ini dikarenakan terjadinya depresi global pada tahun 1929, pada saat harga saham mengalami penurunan atau anjlok, yang berakibat kepada bangkrutnya para pemegang saham.

Hal yang paling berpengaruh dari adanya depresi global ini yaitu adanya penerimaan terhadap uang kertas secara besar-besaran, sehingga sangat sulit untuk tetap mempertahankan upaya untuk menggantikan uang kertas menjadi uang yang berstandar emas.

Sebagian besar negara di dunia, menahan uang kertasnya untuk tidak menggantikannya menjadi emas, dan berbagai transaksi yang dilakukan dengan menggunakan uang kertas pun telah disepakati, dan tidak diwajibkan lagi akan adanya emas sebagai landasan pertukaran atau penggunaan uang kertas.

Negara yang pertama kali melegalkan pertukaran uang kertas yang tidak dikaitkan dengan emas yaitu Inggris (1931), kemudian diikuti oleh Amerika Serikat (1933), terus Prancis (1936), dan beberapa negara lainnya yang juga ikut melegalkan transaksi uang kertas, sehingga keadaan ini menyebabkan pertukaran atau transaksi keuangan di berbagai belahan dunia menjadi kacau, sampai pecahnya perang dunia kedua.

Pada saat berakhirnya perang dunia kedua, sejumlah negara mengadakan pertemuan Bretton Woods dari tanggal 1-22 Juli 1944, di Omni Mount Washington Resort, Carroll, New Hampshire, United States.

Kemudian bersepakat untuk mengaitkan kembali mata uang kertas yang mereka miliki dengan emas, tapi agak sedikit berbeda dengan sistem yang telah dibuat sebelumnya. Berikut ini merupakan kesepakatan yang dimaksud:

  1. Negara-negara anggota harus mengaitkan uang kertas mereka dengan emas, dan diwajibkan untuk menentukan dengan jelas berat tertentu dari emas yang sesuai dengan nilai uang yang akan digunakan untuk bertransaksi.
  2. Berbagai negara anggota diharuskan untuk menjaga kestabilan kurs mata uang dengan kondisi politik yang ada pada negara yang saling berhubungan atau berkaitan dengannya.
  3. Kesepakatan untuk membentuk IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia (World Bank).
Sistem Bretton Woods tersebut terus berlangsung, dan dinyatakan bubar pada tahun 1976, hal ini diawali dengan adanya pembatalan secara sepihak oleh Amerika melalui Dekret Presiden Nixon (15 Agustus 1971) yang mana membahas bahwa USD sudah tidak lagi dijamin dengan emas.

Sementara itu, USD masih bertahan sebagai mata uang internasional yang digunakan sebagai cadangan devisa di berbagai negara, sehingga pada akhirnya muncullah sistem baru yang dikenal dengan floating exchange rate (kurs mengambang).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Perubahan Uang Berstandar Emas dan Perak kepada Uang Kertas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel