Pembiayaan Ekuitas Islami dan Pembiayaan Utang

Dengan munculnya Islam, hukum Syariah, dipandu oleh sumber utama Al-Qur'an dan Sunnah, meletakkan berbagai perintah yang kemudian akan membentuk dasar perbankan dan keuangan Islam.

Pembiayaan Ekuitas Islami dan Pembiayaan Utang

Berkenaan dengan pembiayaan ekuitas, fitur yang sangat menonjol dari Syariah adalah fakta bahwa Al-Qur'an tidak berurusan langsung dengan masalah ini sama sekali; diserahkan kepada Sunnah untuk mengklarifikasi masalah.

Sunnah hanya menegaskan bahwa uqud al-isytirak (kontrak bagi hasil) dari al-mudharabah, al-musyarakah dan kontrak serupa lainnya, yang telah dipraktikkan oleh dunia Arab pra-Islam, semuanya diperbolehkan, yang disebut jaiz atau mubah ("acuh tak acuh") dalam kaitannya dengan Islam.

Sementara Al-Qur'an tidak berbicara tentang pembiayaan ekuitas, ia keluar dengan kuat tentang pembiayaan utang, seperti halnya Sunnah, yang juga membahas secara luas masalah ini.

Intinya, meskipun pinjaman berbasis bunga dilarang (haram) oleh Islam, kontrak pertukaran yang ditangguhkan diizinkan (jaiz atau mubah).

Dengan kata lain, pinjaman diperbolehkan dalam Islam, tetapi harus tanpa bunga.

Di bawah hukum Syariah, jenis pinjaman ini dikenal sebagai "pinjaman baik hati" (al-qard al-hasan) dan oleh karena itu memiliki lebih banyak relevansi dalam kaitannya dengan ekonomi kesejahteraan sosial, atau di mana ada konsekuensi sosial terhadap transaksi seperti dalam kasus kontrak yang melibatkan pemerintah, bukan di sektor swasta atau komersial.

Jelas, pembiayaan utang adalah satu bidang di mana ada perbedaan besar antara keuangan Islam dan sistem keuangan konvensional.

Sementara pembiayaan utang dalam keuangan konvensional hampir seluruhnya dibangun di atas pinjaman berbasis bunga, jenis kontrak ini secara tegas dilarang (haram) berdasarkan hukum Islam.

Sebaliknya, instrumen pembiayaan utang Islam dari kontrak pertukaran yang ditangguhkan umumnya tidak dikenal di dunia keuangan konvensional.

Namun demikian, masih ada beberapa kesamaan antara kedua sistem, bahkan ketika datang ke pembiayaan utang.

Kontrak al-ijarah (leasing), misalnya, juga digunakan dalam pembiayaan utang konvensional; demikian pula, kontrak bai al-murabahah (penjualan lump-sum yang ditangguhkan), yang dipraktikkan dalam transaksi jual-beli kredit baik di pasar Islam maupun konvensional.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pembiayaan Ekuitas Islami dan Pembiayaan Utang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel