Tiga Tingkat Kebutuhan dalam Maslahah

Tidak ada referensi khusus dalam sumber-sumber tekstual tentang klasifikasi maslaha ke dalam tiga tingkat daruriyyah, hajiyyah, dan tahsiniyyah tetapi melalui istiqra (prosedur induksi dan penelitian cermat terhadap suatu masalah), klasifikasi dan kesimpulan ini secara umum telah diterima oleh sarjana hukum Islam.

Tiga Tingkat Kebutuhan dalam Maslahah

Semua barang dan jasa yang melampaui tiga tingkat kebutuhan telah dianggap sebagai kesenangan diri sendiri, dan sangat tidak disetujui.

Beberapa cendikiawan Islam telah mengambil posisi bahwa setiap kebutuhan maslaha harus melayani kebutuhan yang lain.

Misalnya, kepentingan perdagangan yang saling melengkapi untuk menghasilkan kekayaan bagi individu dan masyarakat harus melayani pelestarian kehidupan.

Kurangnya atau pengabaian satu kepentingan dari tingkat tertentu dapat mempengaruhi tingkat selanjutnya juga.

Itulah sebabnya beberapa sarjana lebih suka mempertimbangkan berbagai tingkat kebutuhan yang melibatkan maslaha sebagai lingkaran yang tumpang tindih daripada hierarki vertikal yang ketat yang memisahkan setiap tingkat kebutuhan sesuai dengan kepentingan.

1. Darura atau Daruriyyah (Keperluan)


Kata darura berasal dari kata darar yang manandakan kerusakan. Menurut Ibn Manzur (w. 1311/1312), penulis kamus bahasa Arab paling komprehensif yang disebut Lisan ul Arab, darar menunjukkan keadaan sulit yang mengerikan.

Dalam konteks hukum yang longgar, darura menunjuk barang dan jasa yang mutlak diperlukan untuk melestarikan kehidupan.

Namun, darura juga dapat menggambarkan situasi yang membenarkan ketidakpatuhan larangan syariah dengan alasan menghindari bahaya yang segera terjadi, tetapi penggunaan darura hanya dapat dibenarkan sebagai aplikasi sementara dalam kasus-kasus tertentu dan khusus dalam situasi yang paling meyakinkan.

2. Hajiyyah (Kenyamanan, Nilai-nilai Pelengkap)


Hajiyyah adalah kenyamanan yang berbeda dengan darura (kebutuhan). Sementara hajiyyah dapat dikacaukan dengan kebutuhan dalam arti umum, itu merujuk pada kebutuhan yang kurang dari kebutuhan absolut.

Kenyamanan karena itu tidak dianggap hal penting bagi kehidupan manusia. Ini terdiri dari apa yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk pencapaian kepentingannya dan berfungsinya urusannya dengan semestinya.

Jika diabaikan, tatanan sosial tidak akan benar-benar runtuh tetapi tidak akan berfungsi dengan baik. Demikian juga, itu tidak pada tingkat apa yang sangat diperlukan (daruri).

Al-Shatibi telah mendefinisikan kenyamanan sebagai "...hal-hal yang diperlukan untuk membuat segalanya lebih mudah dan untuk menghilangkan kendala yang biasanya mengarah pada kesulitan yang dihadapi ketika sesuatu yang diinginkan hilang. Jika mereka tidak diperhatikan, manusia, secara umum, akan menghadapi kesulitan. Namun, untuk tingkat yang diharapkan, kejahatan normal tidak mencapai tingkat masalih umum (jamak maslaha)."

Dengan demikian kenyamanan harus dilihat sebagai nilai-nilai yang melengkapi kebutuhan dan dipandang sebagai manfaat atau kemudahan yang menghilangkan kesulitan, tetapi ketidakhadiran mereka tidak menimbulkan ancaman bagi kelangsungan fungsi normal masyarakat. Nilai kenyamanan dapat ditingkatkan ke tingkat kebutuhan ketika itu menyangkut masyarakat luas.

3. Tahsiniyyah (Perbaikan atau Hiasan)


Tahsiniyah berhubungan dengan penyempurnaan atau hiasan sebagai nilai yang diinginkan yang berada di luar kebutuhan (darura) dan kenyamanan (hajiyyah).

Namun, tahsiniyyah juga dapat merujuk pada nilai-nilai yang diinginkan untuk pencapaian karakter bangsawan dan kehalusan, serta keunggulan di semua bidang perilaku manusia untuk pencapaian kesempurnaan dalam perilaku mereka.

Tidak adanya perbaikan atau hiasan, seperti tidak adanya kenyamanan, tidak akan mengancam kehidupan dan menimbulkan ancaman bagi berfungsinya masyarakat secara normal.

Hubungan antara Kebutuhan (Darura), Kenyamanan (Hajiyyah), dan Penyempurnaan (Tahsiniyyah)


Pengurangan nilai-nilai syariah terkait dengan tingkat maslaha dapat dilihat sebagai berikut:

  • Darura adalah kebutuhan dasar untuk kehidupan, sementara dua lainnya (kenyamanan dan penyempurnaan) adalah sifat pelengkap darura, tanpa menjadi penting atau mutlak diperlukan untuk kehidupan.
  • Darura dapat menghasilkan permintaan untuk dua lainnya, yaitu hajiyyah dan tahsiniyyah.
  • Permintaan hajiyyah dan tahsiniyyah tidak menciptakan permintaan untuk darura.
  • Permintaan hajiyyah dapat disisihkan untuk permintaan darura.
  • Demikian pula permintaan untuk tahsiniyyah dapat dikesampingkan untuk permintaan hajiyyah.
  • Hajiyyah dan tahsiniyyah dapat dikejar demi darura, yaitu untuk melengkapi mereka dan bukan untuk kepentingan mereka sendiri demi kehidupan yang mewah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tiga Tingkat Kebutuhan dalam Maslahah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel