Bank Syariah: Signifikansi Hukum Islam

Bank Syariah Signifikansi Hukum Islam

Berdasarkan definisi, sebuah bank Islam mematuhi hukum Islam, syariah (secara formal syariah Islamiah tetapi umumnya disingkat syariah).

Arti literal dari kata Arab syariah adalah 'jalan menuju sumber kehidupan' dan, dalam pengertian teknis, kata itu sekarang digunakan untuk merujuk pada sistem hukum sesuai dengan kode perilaku yang diminta oleh Al-Qur'an Suci dan Hadis (tradisi otentik).

Muslim tidak bisa, dengan iktikad baik, membagi perilaku mereka ke dalam dimensi agama dan sekuler, dan tindakan mereka selalu terikat oleh syariah.

Hukum Islam dengan demikian mewujudkan seperangkat tugas dan praktik yang mencakup termasuk ibadah, doa, tata krama dan moral, perkawinan, warisan, kejahatan, dan transaksi komersial.

Keabsahan unik hukum Islam berasal dari keberadaannya sebagai kehendak Allah yang dinyatakan, yang pada titik tertentu dalam sejarah mengungkapkannya kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad; karena itu ia tidak bergantung pada otoritas pembuat hukum duniawi mana pun.

Asal-usulnya, di samping Al-Qur'an Suci, dapat ditemukan dalam penilaian yang diberikan oleh Nabi sendiri, yang mencerminkan penerapan aturan, prinsip, dan perintah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur'an Suci.

Ketika berabad-abad berlalu, aturan-aturan ini tumbuh menjadi sistem hukum yang lengkap, baik negeri maupun swasta, serta resep untuk praktik agama.

Seperti halnya Islam mengatur dan memengaruhi semua bidang kehidupan lainnya, Islam juga mengatur perilaku bisnis dan perdagangan.

Prinsi-prinsip dasar undang-undang tersebut tercantum dalam empat transaksi pokok:
  1. Penjualan (bay), pengalihan kepemilikan atau kumpulan properti untuk dipertimbangkan.
  2. Menyewa (ijarah), mengalihkan hak pakai barang untuk dipertimbangkan.
  3. Hadiah (hibah), transfer gratis properti korpus.
  4. Pinjaman (ariyah), transfer uang hasil pembuatan properti secara gratis.
Prinsip-prinsip dasar ini kemudian diterapkan pada berbagai transaksi spesifik, misalnya, janji, simpanan, jaminan, agensi, penugasan, penyewaan tanah, yayasan wakaf (badan keagamaan atau amal) dan kemitraan, yang memainkan peran penting dalam pembiayaan dan bentuk Islam tulang punggung praktik perbankan Islam.

Ada aturan ketat yang berlaku untuk keuangan di bawah hukum Islam, dan untuk inilah kita beralih.

Untuk menyesuaikan dengan aturan dan norma Islam, lima fitur agama, yang didokumentasikan dengan baik dalam literatur, harus diikuti dalam perilaku investasi (Lewis dan Al-Gaoud, 2001):
  1. Riba dilarang dalam semua transaksi.
  2. Bisnis dan investasi dilakukan berdasarkan kegiatan halal (sah, diizinkan).
  3. Maysir (perjudian) dilarang dan transaksi harus bebas dari gharar (spekulasi atau ketidakpastian yang tidak masuk akal).
  4. Zakat harus dibayar oleh bank untuk masyarakat yang diuntungkan.
  5. Semua kegiatan harus sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, dengan dewan syariah khusus untuk mengawasi dan memberi nasihat kepada bank tentang kepatuhan transaksi.

0 Response to "Bank Syariah: Signifikansi Hukum Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel