Kriteria Kesejahteraan Sosial untuk Bank Islam

Fungsi kesejahteraan sosial sebagai kriteria objektif bank-bank Islam yang melayani prinsip-prinsip syariah tentang jaminan sosial, perlindungan hak-hak individu dan keturunan, dan pelestarian Negara Islam, harus menjadi deskripsi cara merangsang mobilisasi sumber daya yang menetapkan keberlanjutan dan cita-cita tinggi dari keyakinan Islam.

Kriteria Kesejahteraan Sosial untuk Bank Islam

Tujuan ini melibatkan prinsip tauhid.

Yaitu, Keesaan Tuhan sebagai prinsip tertinggi Islam.

Model yang menerapkan prinsip tauhid dalam tatanan sosial ekonomi, keuangan, dan kelembagaan melibatkan pengorganisasian moda mobilisasi sumber daya, produksi, dan pembiayaan ini dengan cara-cara yang menghasilkan keterkaitan yang saling melengkapi antara ini dan kemungkinan lain yang ditentukan syariah.

Dengan cara ini, akan muncul penentuan bersama antara pilihan dan evolusi instrumen yang akan dipilih dan diimplementasikan oleh banyak lembaga dalam masyarakat pada umumnya melalui wacana.

Bank-bank Islam harus membentuk suatu bagian dan paket media yang saling berhubungan dari suatu perkembangan umat yang hidup.

Kemungkinan pengembangan diwujudkan baik dengan jejaring wacana antara manajemen dan pemegang saham bank syariah serta dalam konser dengan bank syariah lain, bank sentral, perusahaan, pemerintah dan masyarakat luas.

Konstruksi ini diperluas ke seluruh dunia Muslim.

Dengan cara ini, jaringan luas wacana dan sistem relasional dibentuk antara bank-bank Islam dan tatanan sosial-ekonomi dan sosial-kelembagaan secara keseluruhan.

Hubungan pemersatu seperti hubungan partisipatif dalam ekonomi dan pengertian masyarakat menyampaikan makna sistemik kesatuan pengetahuan.

Ini pada gilirannya melambangkan epistimologi tauhid dalam tatanan organik berbagai hal.

Dalam kasus ini, hubungan timbal balik yang saling melengkapi dan melingkar seperti itu dipahami oleh keterkaitan mereka yang menyatu dengan tatanan sosial-ekonomi dan sosial-kelembagaan dalam hal pemilihan instrumen pembiayaan koperasi.

Arti harfiah tauhid dengan demikian dijelaskan dalam hal perkembangan yang semakin relasional, partisipatif, dan saling melengkapi, di mana peristiwa seperti uang, keuangan, pasar, masyarakat, dan lembaga menyatukan.

Pada akhirnya, dengan menggabungkan totalitas prinsip syariah dengan instrumen pembiayaan, bank syariah menjadi perantara keuangan yang berorientasi investasi dan lembaga keberlanjutan tatanan sosial ekonomi, tatanan sosial-politik dan lembaga pelestarian aset dan kesejahteraan masyarakat.

Sifat uang sekarang ternyata bersifat endogen.

Uang endogen adalah instrumen sistemik yang membentuk komplementaritas antara kemungkinan sosial ekonomi, keuangan, sosial, dan kelembagaan menuju keberlanjutan sebab-akibat melingkar antara uang, keuangan, pengeluaran untuk hal-hal baik dalam kehidupan dan ekonomi riil.

Uang dalam arti sistemik seperti keterkaitan pelengkap antara dirinya, instrumen keuangan dan kebutuhan ekonomi dan sosial yang nyata menurut syariah mengasumsikan sifat-sifat dari 'jumlah uang' (Friedman, 1989) seperti dalam persamaan pertukaran moneter.

Dalam hubungan timbal balik endogen antara uang dan ekonomi riil, kuantitas uang ditentukan dan dinilai dalam hal nilai pengeluaran barang dan jasa syariah sebagai gantinya.

Uang tidak dapat memiliki nilai tukar sendiri, yang sebaliknya akan menghasilkan harga untuk uang sebagai tingkat bunga.

Uang tidak memiliki pasar dan karenanya tidak ada konsep permintaan dan penawaran yang terkait dengan uang endogen dalam Islam.

Aturan riba syariah melarang transaksi bunga.

Jadi, alih-alih pasar uang dan instrumen keuangan pendukung yang terkait, sekarang hanya ada pasar yang dapat dipertukarkan berdasarkan syariah.

Dalam hal ini, jumlah uang endogen dan pengembaliannya ditentukan oleh nilai ekonomi riil dari pertukaran antara barang dan jasa syariah dalam permintaan dan penawaran.

Selain itu, barang dan jasa nyata yang dapat ditukar seperti itu adalah yang direkomendasikan oleh syariah memasuki kriteria kesejahteraan sosial untuk mengevaluasi tingkat saling melengkapi yang dicapai antara kemungkinan yang ditentukan syariah melalui sebab-akibat melingkar dinamis antar kemungkinan yang berkembang.

Fungsi kesejahteraan sosial semacam itu adalah kriteria yang mengevaluasi sejauh mana hubungan saling melengkapi dihasilkan dan dipertahankan antara berbagai kemungkinan sebagai pilihan yang ditentukan syariah.

Atas dasar penilaian pertukaran barang dan jasa, pengembalian keuangan riil diukur sebagai fungsi dari harga, output dan laba bersih dan keuntungan pribadi serta sosial atas pengeluaran.

Bank-bank Islam seharusnya menjadi penghubung penting antara bank sentral nasional, perantara keuangan, ekonomi, dan masyarakat dalam mewujudkan rezim uang endogen, keuangan, dan keterkaitan pasar melalui formalisme sebab-akibat melingkar evolusioner seperti sebab-sebab ekonomi, sosial, dan perkembangan yang kuat yang didorong oleh prinsip saling melengkapi universal sebagai tanda duniawi tauhid kesatuan pengetahuan dalam sistem.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel