Biaya Dana: Tolok Ukur Tingkat Bunga

Biaya Dana Tolok Ukur Tingkat Bunga

Para ahli hukum kontemporer secara bersamaan mengeluhkan tolok ukur suku bunga implisit dalam pembiayaan berbasis penjualan dan sewa berbasis Islam dengan suku bunga konvensional (seperti London Interbank Offered Rate (LIBOR)) dan berpendapat bahwa tolok ukur tersebut dengan sendirinya tidak akan menganggap pembiayaan itu tidak Islami.

Argumen favorit para ahli hukum kontemporer telah menarik analogi dengan dua lini bisnis, satu sah dan yang lainnya tidak sah.

Hanya fakta bahwa bisnis yang sah (katakanlah, toko tukang kayu) dapat menuntut tingkat keuntungan yang sama dengan yang tidak sah (katakanlah, tempat pembuatan bir, yang menghasilkan tingkat keuntungan 6 persen), menurut mereka, tidak membuat bisnis yang sah menjadi tidak sah.

Analogi lain yang kita dengar di konferensi Islam tolok ukur harga ayam halal (ayam yang disembelih menurut standar Islam) dengan harga ayam yang diproses sebaliknya, sekali lagi berargumen bahwa kesetaraan harga numerik tidak menyiratkan status hukum serupa dari properti yang diberi harga.

Tak perlu dikatakan, analogi-analogi itu jelas keliru:

Objek penjualan dalam keuangan Islam tidak berbeda dari objek penjualan dalam keuangan konvensional seperti perbedaan pertukangan dengan pembuatan bir, atau bahkan perbedaan cara halal atau halal dengan ayam yang disembelih secara teratur.

Ketika penyedia keuangan syariah menyusun "alternatif" untuk keuangan konvensional (katakanlah, hipotek konvensional) melalui fasilitas pembiayaan murabahah penjualan ganda, bahan-bahan transaksi keuangan sama dengan bahan untuk hipotek konvensional (biaya dana, risiko kredit, risiko properti agunan, dll.), dan hasilnya sama (utang pada pelanggan sama dengan jumlah uang yang ia butuhkan untuk membeli properti plus biaya keuangan yang melebihi biaya dana bank).

Dalam hal ini, apakah prosedur penjualan ganda diikuti, atau penjualan tunggal yang lebih sederhana dilakukan melalui agen yang tidak di-commissioningkan (bay al-fuduli), penyedia keuangan masih mengubah dana sekarang menjadi dana di masa depan dan membandingkan biaya dana di masa depan (tingkat bunga yang harus dia bayar untuk mendanai penyedia, baik itu deposan, pemegang sukuk, dll.) dengan tingkat pengembalian yang dia kumpulkan.

Dalam semangat inilah kami berargumen bahwa aturan pengungkapan "murabahah" - ketika diterapkan pada keuangan - menentukan bahwa keuangan Islam harus melaporkan biaya dana dan kenaikan suku bunga kepada pelanggannya.

0 Response to "Biaya Dana: Tolok Ukur Tingkat Bunga"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel