Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembayaran Kembali dengan Jumlah Pokok Saja

Meminjamkan/meminjam, memang, tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia, dan, karenanya, diizinkan dalam Islam.

Seandainya itu tidak diizinkan, Nabi Suci tidak akan pernah memberikan contoh peminjam baik untuk Negara Islam maupun untuk tujuan pribadi.

Namun, pinjaman tidak boleh dianggap sebagai sarana untuk konsumsi mewah.

Pembayaran Kembali dengan Jumlah Pokok Saja

Dalam pengertian itu, Islam tidak menganjurkan tindakan meminjam.

Selain itu, harus diingat bahwa pinjaman harus dibayar.

Hutang tidak dimaafkan, bahkan untuk para martir.

Lebih jauh, pinjaman dimana sesuatu yang melebihi pokok pinjamannya diperintahkan menjadi tidak sah, karena jumlahnya adalah Riba.

Tidak ada pengecualian atas dasar bahwa transaksi Qardh telah terjadi antara seorang Muslim dan seorang non-Muslim, seorang majikan dan seorang karyawan, atau suatu Negara dan rakyat.

Larangan Riba berarti bahwa uang dapat dipinjamkan tanpa harapan pengembalian atas jumlah pokok, dan dengan demikian, setiap pinjaman yang menarik atau menetapkan laba adalah melanggar hukum.

Nabi Suci (SAW) mengatakan bahwa setelah memberikan pinjaman, kreditor bahkan harus menahan diri dari menerima hadiah dari peminjam kecuali pertukaran hadiah tersebut dalam praktik antara peminjam dan pemberi pinjaman sebelum dimajukannya pinjaman.

Namun, beberapa manfaat tidak langsung yang telah menjadi kebiasaan yang tidak melibatkan biaya apa pun bagi peminjam telah dianggap diizinkan.

Misalnya, ahli hukum tidak melihat salahnya jika disepakati antara para pihak bahwa hutang akan dibayar di beberapa negara lain jika itu untuk kepentingan kedua belah pihak.

Ibn Zubair, misalnya, dulu menerima sejumlah uang dari penduduk Mekah untuk dibayar di Irak melalui rancangan yang ditarik oleh saudaranya Mus'ab, yang tinggal di Irak.

Untuk ini, Ibn Abbas dan Ali tidak membuat keberatan.

Post a Comment for "Pembayaran Kembali dengan Jumlah Pokok Saja"