Aplikasi Hukum Perjanjian Islam dalam Syariah Card

Aplikasi Hukum Perjanjian Islam dalam Syariah Card

Kini, perkembangan hukum tentang ekonomi Islam, khususnya dalam praktik ekonomi di Indonesia sudah begitu maju, dimulai dari adanya perbankan syariah, reksa dana syariah, kartu kredit syariah, dll.

Dari berbagai macam perusahaan yang berbasis syariah tersebut, masing-masing memiliki akad yang sangat bervariasi dalam hal menjalankan bisnisnya, khususnya yang berkaitan dengan operasional produk dan layanan.

Misalnya saja, mode penghimpunan dana berdasarkan Wadi'ah dan Mudharabah yang diadopsi oleh perbankan syariah.

Di samping itu, bank syariah juga mengadopsi skema Istishna, Mudharabah, dan Salam, dalam hal penyaluran dananya.

Kemudian, masih ada lagi prinsip bagi hasil seperti Mudharabah dan Musyarakah, yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan berdasarkan kegiatan investasi yang sesuai Syariah.

Untuk bidang sewa-menyewa, bank syariah juga menggunakan akad, antara lain Ijarah dan IMBT (Ijarah Muntahiyah bit Tamlik).

Dan yang terakhir dari segi pelayanan, yang menggunakan akad Wakalah, Kafalah, Hiwalah, dan Rahn.

Sementara itu, bank syariah juga sudah mengeluarkan produk baru, yaitu kartu kredit syariah.

Yang mana, dalam tahap penerbitan kartu ini, yang selanjutnya kartu tersebut diserahkan kepada nasabah sebagai pemegangnya, dilandasi oleh hukum perjanjian.

Syariah Card itu sendiri merupakan sebuah kartu yang berfungsi seperti kartu kredit pada umumnya yang hubungan hukumnya (antara penerbit dan pemegang) berdasarkan sistem Syariah.

Tujuan diterbitkannya kartu kredit syariah, yaitu untuk mendapatkan barang dan jasa secara kredit dan tentunya sesuai dengan syariah.

0 Response to "Aplikasi Hukum Perjanjian Islam dalam Syariah Card"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel