Aturan Berinvestasi yang Dibenarkan Syariah

Aturan Berinvestasi yang Dibenarkan Syariah

Islam sebagai agama yang sempurna, tentunya tidak lupa untuk mengatur tentang setiap seluk beluk kehidupan umat manusia.

Khususnya aturan yang berkaitan dengan kegiatan investasi.

Dengan adanya aturan yang jelas, maka masyarakat akan lebih mudah untuk mengenali dan membedakan mana investasi yang tidak sah dan mana yang sah atau sesuai panduan Syariah.

Berikut ini beberapa aturan berinvestasi yang dibenarkan berdasarkan Syariah:

Terbebas dari Unsur Riba


Secara etimologi, Riba berarti bertambah atau tumbuh.

Sedangkan secara terminologi, Riba yaitu setiap penambahan atas harta pokok dengan tidak adanya transaksi bisnis nyata.

Riba bisa juga timbul dari transaksi barang sejenis, di mana terdapatnya perbedaan baik itu kuantitas, kualitas, atau sebagainya dari salah satu barang yang dipertukarkan.

Hal ini dilarang karena tidak adanya pengganti yang setara atau sepadan, terhadap kelebihan yang ada.

Sehingga salah satu pihak merasa dirugikan, karena tidak dapat merasakan hal yang sama seperti pihak lainnya.

Terhindar dari Unsur Gharar


Gharar bisa juga disebut sebagai sesuatu yang tidak pasti (uncertainty).

Secara sederhana, transaksi Gharar yaitu kegiatan jual beli sesuatu yang tidak diketahui oleh kedua belah pihak akan menfaatnya atau keberadaan subjek tersebut pada saat ingin memanfaatkan.

Misalnya, menjual anak kambing yang masih ada dalam perut induknya, di mana kedua belah pihak tidak tahu apakah anak kambing tersebut akan lahir dengan selamat atau tidak.

Imam Sarkhasi memberi sedikit penjelasan mengenai Gharar, di mana menurutnya, Gharar yaitu segala sesuatu yang akibatnya itu tidak dapat diprediksi.

Terhindar dari Unsur Judi (Maysir)


Maysir, secara etimologi berarti mudah.

Maysir merupakan kegiatan untuk mendapatkan sesuatu secara mudah, di mana seseorang tidak perlu bersusah payah dalam memenuhi keinginannya, hanya dengan melalui jalan pintas, yang sering disebut dengan kegiatan pertaruhan.

Hal ini dilarang dengan tujuan untuk meminimalisir tingkat perselisihan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, dan memajukan sektor perdagangan.

Atau lebih tepatnya, Islam mengajak manusia untuk terlibat dalam transaksi bisnis nyata, ketimbang hanya meraup keuntungan melalui usaha memanfaatkan kebetulan (selain risikonya tinggi, dosanya juga sangat besar).

Terhindar dari Unsur Haram


Setiap kegiatan investasi yang dilakukan harus dipastikan bahwa tidak bersangkut paut dengan hal-hal yang diharamkan.

Haram bisa juga disebut sebagai tidak sah atau terlarang.

Pada umumnya, transaksi haram terbagi kepada dua, yaitu haram secara zat dan haram cara mendapatkannya atau prosesnya.

Terhindar dari Unsur Syubahat


Syubahat bisa dikatakan sesuatu yang tidak jelas hukumnya, bukan haram dan bukan halal.

Lebih tepatnya Syubahat itu adalah percampuran sesuatu yang halal dengan yang haram.

Dan pihak yang berhubungan dengan sesuatu yang Syubahat akan merasakan keraguan dalam hatinya untuk menilai atau mengambil kesimpulan terhadap kehalalan objek tersebut.

Misalnya saja, ada dua pohon kelapa yang saling berdekatan, tapi pemiliknya berbeda, maka salah satu pemilik tidak boleh langsung mengambil buah kelapa yang jatuh, karena belum tentu buah kelapa tersebut jatuh dari pohon miliknya.

Selama semua aturan investasi di atas dipatuhi atau tidak dilanggar, maka investasi tersebut baru dapat dianggap sesuai dengan aturan Syariah.

0 Response to "Aturan Berinvestasi yang Dibenarkan Syariah"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel