Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CSR (Corporate Social Responsibility) dalam Perspektif Islam

CSR (Corporate Social Responsibility) dalam Perspektif Islam

Islam memandang bahwa aktivitas bisnis bukanlah sesuatu yang terpisah dari keagamaan, melainkan suatu kesatuan yang harus tetap dipertahankan.

Bisnis tanpa agama akan tersesat, agama tanpa bisnis akan terasa berat.

Maksudnya yaitu, aktivitas bisnis bila tidak dilakukan dengan cara berpedoman pada aturan Syariah, maka akan mengarah pada bidang-bidang yang dilarang.

Begitu juga dengan agama, tanpa adanya unsur bisnis di dalamnya, maka masyarakat Muslim akan ketinggalan dan merasa terbeban dalam memenuhi kehidupan sehari-hari.

Dikarenakan bisnis itu sendiri harus dikaitkan dengan agama, yang mana agama sangat menganjurkan setiap individu untuk menolong individu lainnya, maka setiap perusahaan sudah sepatutnya untuk menyediakan dana CSR (Corporate Social Responsibility) atau bisa juga dikatakan sebagai upaya dari pihak perusahaan untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung.

Penyaluran dana CSR itu sendiri harus diutamakan untuk orang-orang yang berada di sekitar perusahaan, atau di mana perusahaan tersebut beroperasi.

Ini sesuai dengan konsep yang dibanggakan dalam Islam, yaitu persaudaraan dan keadilan sosial, khususnya dalam hal ini yaitu berbagi sedikit keuntungan atau kelebihan dengan saudara-saudara yang ada di sekitarnya.

Dengan diberikannya dana CSR tersebut, menunjukkan bahwa perusahaan sudah menunaikan kewajiban sosialnya.

Keadilan, bisa diartikan sebagai nilai dasar yang dapat mencegah seseorang untuk berbuat sesuatu yang berbahaya atau merusak orang lain, demi kepentingan diri sendiri.

Sementara konsep persaudaraan, mendorong seseorang untuk memperhatikan dan selalu memberikan yang terbaik bagi saudaranya.

Intinya, kedua konsep ini mengajak orang-orang untuk memperhatikan kebutuhan dasar orang lain, bukan hanya memikirkan kebutuhan dasar diri sendiri.

Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna atau sebaik-baik bentuk (At-Tiin, 4), kemudian memberikan amanah kepada manusia sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi (Al-Baqarah, 30).

Kata khalifah, mengandung makna bahwa seorang manusia harus menjadi pemimpin bagi makhluk lainnya, dan juga menjaga kelestarian alam (tidak berbuat kerusakan), dan memanfaatkan segala sumber daya yang ada di bumi dengan cara atau aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Secara sederhana, fungsi manusia yaitu sebagai hamba dan khalifah, dan bertujuan untuk beribadah.

Sehubungan dengan tujuan manusia, maka dana CSR akan menjadi suatu bentuk ibadah yang sangat berharga bagi pihak yang melakukannya, dan akan mendapatkan pahala baik di dunia maupun nanti di akhirat.

Oleh karena itu, Islam menuntut agar setiap perusahaan yang didirikan oleh seorang muslim, untuk selalu menaruh perhatiannya terhadap dana CSR, yang mana kegiatan ini juga berkaitan erat dengan prinsip Tauhid.

Di mana, setiap kekayaan, kemampuan atau keahlian, kesejahteraan, itu semua milik Allah, manusia hanya diberikan kebebasan untuk memanfaatkannya sebaik mungkin, dan juga mementingkan atau memperhatikan kepentingan umat lainnya.

Semakin bagus sebuah perusahaan dalam memberdayakan umat manusia, maka akan semakin baik pula menurut pandangan Islam.

Untuk lebih mudah dipahami, ada tiga prinsip yang sangat penting untuk diingat yaitu:
  1. Menjaga hubungan baik dengan Allah SWT., selaku pencipta.
  2. Menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, selaku saudara.
  3. Menjaga hubungan baik dengan lingkungan, selaku penyedia sumber daya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa, tujuan utama dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Islam yaitu untuk mewujudkan keadilan sosial.
Faisal
Faisal Hina bak donya hareuta teuh tan. Hina bak Tuhan ileume hana.

Post a Comment for "CSR (Corporate Social Responsibility) dalam Perspektif Islam"