Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hukum Utilitas dan Maslahah dalam Ekonomi Islam

Hukum Utilitas dan Maslahah dalam Ekonomi Islam

Manusia, pada prinsipnya merupakan makhluk yang tidak dapat berhenti dari kegiatan konsumsi.

Atau lebih tepatnya tanpa konsumsi tak bisa hidup.

Namun, konsumsi itu sendiri harus dapat dipisah-pisahkan, atau tidak dapat disamakan semuanya.

Ada jenis konsumsi yang bertujuan untuk bertahan hidup dan ada juga konsumsi terhadap barang-barang mewah.

Sehingga, timbullah dua bagian besar yaitu konsumsi karena dorongan kebutuhan dan konsumsi akibat dari dorongan keinginan.

Kebutuhan biasanya bersifat terbatas, sementara keinginan pada umumnya tak terhingga.

Dalam Ekonomi Islam, konsumsi berdasarkan kebutuhan biasanya akan lebih dekat dengan istilah Maslahah (kebaikan), sementara konsumsi berdasarkan keinginan diidentikkan dengan utilitas (untuk mencapai kepuasan).

Kalau setiap manusia mempertimbangkan konsep Maslahah, maka tidak ada manusia yang akan lapar di dunia ini, kenapa demikian?

Karena orang kaya dapat menyisihkan sebagian kekayaannya untuk memberi makan orang yang kelaparan, atau bisa dikatakan hatinya tentram karena tidak dipacu oleh nafsu bermegah-megahan.

Sementara itu, kalau manusia tetap berfokus pada utilitas atau kepuasan diri sendiri, maka harta yang banyak pun akan tampak sedikit di matanya, mengapa begitu?

Karena, keinginan melampau jauh dari kesanggupannya.

Lalu apa solusinya agar keseimbangan tetap terjaga, dan tingkat kesenjangan antara masyarakat kaya dan miskin turun?

Berkaitan dengan hal ini, Islam menganjurkan atau mengajak umatnya untuk berkonsumsi pada tingkat yang wajar.

Konsumsi wajar bukanlah makannya hanya sedikit dan setelah itu tahan lapar, tapi konsumsi yang wajar yaitu makan secukupnya secara teratur, dan mengingat saudara yang lain, bagaimana nasibnya dan apakah mereka punya makanan.

Terlepas dari semua itu, Maslahah itu sendiri tidak terbatas pada konsumsi dan konsumsi saja, tapi hal yang harus diperhatikan yaitu kebaikan dan keberkahan dari barang yang dikonsumsi.

Untuk memperoleh keberkahan dalam berkonsumsi, hal yang pertama yaitu harus memastikan kehalalan barang yang dikonsumsi, baik itu halal dari segi zatnya maupun dari segi perolehannya.

Sementara utilitas, kalau tidak dikontrol, maka akan menghapus ingatan manusia untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.

Intinya, utilitas itu boleh selama dibatasi (masih dalam batas yang dianggap wajar dalam Islam), dan Maslahah itu harus (khususnya bagi Muslim yang taat akan perintah Allah).

Post a Comment for "Hukum Utilitas dan Maslahah dalam Ekonomi Islam"