Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konsep Asas Rasionalisme Islam menurut Monzer Kahf

Konsep Asas Rasionalisme Islam menurut Monzer Kahf

Rasionalisme Islam tentunya berbeda dengan rasionalisme konvensional, di mana kebenaran tidak hanya ditentukan berdasarkan logika, pembuktian, dan fakta (tanpa didasarkan pada sesuatu yang abstrak/tidak berwujud).

Pandangan Islam jauh lebih luas, dan mencakup kehidupan akhirat.

Berkaitan dengan hal ini, Monzer Kahf telah menjelaskan beberapa konsep mengenai asas rasionalisme Islam, di antaranya yaitu:

Konsep Kesuksesan


Islam tidak melarang individu untuk meraih kesuksesan yang ingin dicapainya, melalui segenap upaya atau usaha yang benar dan adil.

Akan tetapi, bila konsep keadilan tidak diterapkan dalam proses menggapai kesuksesan atau lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum, maka Islam melarangnya.

Ini tentunya, mengingatkan manusia agar tidak hanya berfokus pada materi dan kepuasan dunia semata, tapi harus memperhatikan apa usaha terbaik yang telah dilakukan untuk mencapai kesuksesan akhirat pula.

Tanpa berusaha untuk menuju jalan yang benar (bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat), maka ridha Allah akan sangat sulit untuk didapatkan.

Sementara itu, Allah telah menyediakan sumber daya alam dengan melimpah ruah bagi hambanya, dan itu bukan untuk dirusak, tapi untuk dikelola dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mencapai kemakmuran dunia dan akhirat.

Seperti yang sudah kita pahami bahwa, kesuksesan dalam Islam tidak diukur berdasarkan banyaknya harta benda yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi diukur dengan seberapa tinggi dan bagusnya moral yang dimiliki manusia itu sendiri.

Jadi, siapa pun dapat menjadi orang kaya dengan cara Islam, asalkan dia ingin mencapainya.

Ini tidak jauh berbeda dengan praktik bisnis di dunia ini, seseorang akan mau bekerja sama dengan orang lain, bila dia mengetahui bahwa orang tersebut memiliki kualitas moral yang baik dan jujur.

Lalu, apa yang akan menjadi kunci untuk memperbaiki moral?

Kuncinya simpel, yaitu menjunjung tinggi nilai kebenaran, kebajikan, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Ketakwaan kepada Allah (SWT) dapat diperoleh dengan cara menyadari sepenuhnya bahwa seluruh kehidupan dan hal terkait dengannya, terjadi karena kehendak Allah, dimanfaatkan dijalan Allah (jalan yang diridhai-Nya), dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah (prinsip Syariah), bukan yang lain.

Islam memandang kehidupan dunia hanyalah sekejap, ada kehidupan yang kekal setelah kehidupan dunia, yaitu akhirat.

Maka usaha untuk mengorbankan apa yang dimiliki di dunia (kekayaan) untuk mencapai kesuksesan atau kebahagiaan akhirat lebih dianjurkan.

Konsep Kekayaan


Kekayaan merupakan Amanah (titipan Allah) kepada manusia, jadi, tidak boleh disalahgunakan.

Tujuan Allah memberikan kekayaan bagi seseorang yaitu agar orang tersebut dapat memanfaatkan di jalan Allah, dan membagikan sebagiannya untuk saudaranya yang kurang beruntung.

Istilah lain, untuk mencapai kesuksesan akhirat itu tidak bisa sendiri-sendiri (tanpa memedulikan orang lain), khusus dalam hal ini Islam menegaskan prinsip persaudaraan.

Baik dengan Allah saja tidak menjamin kebahagiaan akhirat, begitu juga sebaliknya.

Konsep ini, tentunya, berbeda jauh (menyimpang) dari konsep kekayaan konvensional, di mana dalam konsep konvensional kekayaan seseorang diukur berdasarkan apa yang didapatkan di dunia dan hanya terbatas di dunia saja.

Konsep Barang


Al-Qur'an telah menjelaskan dua bentuk barang, di antaranya Al-Tayyibat (barang yang bersih, suci, dan baik, serta bermanfaat bagi setiap penggunanya) dan Al-Rizq (anugrah atau rezeki yang diturunkan Allah dari langit) yang mana jenis barang ini dapat mengandung unsur halal dan haram.

Sementara ekonomi Islam, membagikan barang menjadi tiga tingkatan:
  1. Barang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan Dharuriyat (Primer/Pokok).
  2. Yang dimanfaatkan untuk kebutuhan Hajjiyat (Sekunder/Kedua).
  3. Barang yang diperuntukkan untuk kebutuhan Tahsiniyat (Tersier/Ketiga).
Penggunaan barang-barang ini, tentunya, harus dengan cara memperhatikan tujuan-tujuan Syariah (Maqashid Al-Syariah).

Penggunaan barang untuk tujuan yang bertentangan (bersifat merusak, berbahaya, israf/mubazir, dan sejenisnya) dengan prinsip Maqashid Al-Syariah akan secara tegas dilarang.

Selama ketiga konsep di atas diadopsi atau diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka semuanya akan menjadi tentram dan sejahtera.

Post a Comment for "Konsep Asas Rasionalisme Islam menurut Monzer Kahf"