Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konsep Kebutuhan dalam Ekonomi Islam

Konsep Kebutuhan dalam Ekonomi Islam

Secara sekilas, kita semua telah mengetahui bahwa bumi dan segala sesuatu yang dikandung/dimuatnya merupakan titipan (Amanah) dari Allah SWT.

Sehingga, usaha kita untuk menjaga Amanah yang sudah kita terima menjadi sebuah keharusan.

Dan, membuatnya menjadi bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak adalah tujuannya.

Dalam rangka memaksimalkan pemanfaatan barang yang dimiliki manusia, Allah telah memberikan tata cara atau tips melalui para Rasul-Nya, untuk selanjutnya disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Salah satu contoh dari cara yang telah disampaikan yaitu menggunakan harta untuk hal-hal yang halal, dan tidak berhubungan dengan unsur-unsur terlarang (Maysir, Gharar, Riba, Tadlis, dll).

Inti dari petunjuk yang diberikan Allah yaitu untuk mengombinasikan antara akidah, akhlak, dan Syariah.

Agar, pemanfaatan harta dapat memberikan manfaat dari dua sisi, yaitu dunia dan akhirat atau lebih tepatnya memaksimalkan kemaslahatan (kebaikan).

Asy-Syathibi menjelaskan bahwa makna dari Maslahah itu sendiri, tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan atau kepuasan saja (seperti yang ada dalam konsep konvensional), tapi itu berkaitan dengan mencukupi kebutuhan dan tidak berfokus pada pemenuhan kepuasan (utilitas)/keinginan.

Jadi, dapat dikatakan bahwa cara Islam lebih simpel, dan tidak terlalu menuruti keinginan yang sehingga manusia diperbudak dengannya.

Secara singkat, Maslahah itu sendiri bersifat subjektif, yaitu mengikat pada setiap individu, dengan demikian seseorang dapat menilai mana yang benar-benar memberikan manfaat atau kebaikan baginya, dan mana yang memberikan manfaat atau kebaikan semu.

Maslahah bagi seseorang akan sangat erat kaitannya dengan Maslahah bagi orang banyak juga.

Hal ini, tentunya, berbanding terbalik dengan konsep pareto optimal.

Di mana, dalam kasus pareto optimal untuk mencapai kepuasan atau kesejahteraan bagi seseorang harus mengorbankan kondisi orang lain (satu jadi lebih baik dan satu lagi jadi lebih buruk).

Berdasarkan istilah umum, Maslahah diartikan sebagai upaya untuk mendatangkan segala bentuk manfaat dan meminimalisir kemungkinan terjadinya kerusakan (Mafsadah).

Atau, dalam arti lain, bertujuan untuk mendapatkan kenikmatan dan menghindari kesakitan.

Batasan konsumsi dalam ekonomi Islam, di antaranya:
  • Konsumsi yang dilakukan tidak bersifat Israf (mubazir).
  • Bukan untuk tujuan bermegah-megahan.
  • Bukan sesuatu yang haram.
Tak hanya itu, konsumsi dalam Islam tidak selalu dilihat dari bentuk barang yang dikonsumsi, tapi juga dari cara perolehan suatu komoditas.

Karena, sama saja kalau barangnya halal tapi cara perolehannya haram, atau barang haram cara perolehannya halal.

Intinya, sama-sama haram.

Mengkonsumsi barang haram akan berakibat pada perubahan perilaku seseorang, semakin banyak barang haram yang dikonsumsi, maka akan semakin buruk pula perangainya.

Begitu juga sebaliknya, dengan mengkonsumsi makanan halal, maka hati dan pikiran akan tenang dan tentram, dan akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak.

Post a Comment for "Konsep Kebutuhan dalam Ekonomi Islam"