Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mencampurkan Harta Wadiah (Titipan) dengan Harta Pribadi

Mencampurkan Harta Wadiah (Titipan) dengan Harta Pribadi

Apabila harta Wadiah dicampur atau digabungkan, dan masih adanya kemungkinan untuk dipisahkan [antara milik penitip (Muwaddi') dan penerima titipan (Wadi')], maka hukumnya halal atau tidak bermasalah.

Sementara itu, bila harta titipan tidak mungkin untuk dipisahkan lagi, maka Wadi' diwajibkan untuk membayar ganti rugi, berdasarkan pendapat Imam Abu Hanifah, hal ini dikarenakan pencampuran harta tersebut sama saja dengan upaya untuk menghilangkannya.

Sama halnya dengan titipan dalam bentuk uang seperti dirham yang digabungkan atau dicampur dengan dirham yang lain, yang mana hukumnya wajib untuk menjamin ganti rugi (menurut Mazhab Hanafi).

Pendapat ulama dari mazhab lainnya, juga masih serupa dengan yang dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah.

Mereka berpendapat, jika tidak memungkinkan untuk melakukan pemisahan harta yang telah bercampur, misalnya dinar, minyak, dan sebagainya, baik harta itu sejenis atau pun tidak, maka Wadi' berkewajiban untuk menanggung atau membayar gantinya.

Karena, Muwaddi' jelas tidak menginginkan adanya pencampuran hartanya dengan yang lain.

Beda halnya dengan Imam Malik, yang menyatakan bahwa boleh saja bagi si Wadi' untuk tidak membayar ganti rugi akibat mencampurkan harta Wadiah, asalkan tujuan utamanya untuk keamanan harta titipan, dalam kata lain bukan bagian dari usaha menggelapkan barang titipan.

Dan, jika barang titipan masih dapat dipisahkan dan tidak adanya penurunan nilai, maka tidak wajib untuk ganti rugi, sedangkan bila adanya penyusutan maka diharuskan untuk ganti rugi.

Sejalan dengan persoalan hukum Wadiah, ulama Maliki menyebutkan beberapa perkara yang menyebabkan Wadi' diharuskan untuk mengganti rugi (Dhaman), yaitu:
  • Wadi' menitipkan harta yang diterimanya kepada orang lain tanpa ada suatu masalah atau hambatan (udzur), lebih parah lagi, jika harta tersebut hilang atau tidak dapat diserahkan pada saat pemiliknya meminta untuk dikembalikan.
  • Memindahkan harta titipan ke negara lain (bukan lagi pemindahan dari satu rumah ke rumah lain atau lembaga ke lembaga lain yang masih dalam satu negara).
  • Mencampurkan harta titipan dengan harta yang lainnya, sehingga sulit untuk dipisahkan atau dibedakan.
  • Harta Wadiah digunakan untuk kepentingan pribadi (bukan untuk dijaga).
  • Harta titipan tidak dijaga dengan baik atau dibiarkan begitu saja (lepas tangan).
  • Menyalahi aturan/prinsip akad yang sudah disepakati sebelumnya, atau syarat tertentu yang telah ditetapkan oleh penitip.

Post a Comment for "Mencampurkan Harta Wadiah (Titipan) dengan Harta Pribadi"