Pedoman Pembiayaan Berdasarkan Prinsip Syariah

Pedoman Pembiayaan Berdasarkan Prinsip Syariah

Tak jauh berbeda dengan bank umum lainnya, bank syariah juga menerapkan pedoman pembiayaan, khususnya pembiayaan berdasarkan Syariah.

Sehubungan dengan ketentuan yang sudah ditetapkan Bank Indonesia, pedoman kelayakan pembiayaan bank syariah didasarkan pada penilaian secara saksama terhadap faktor-faktor berikut:

Penilaian Watak/Kepribadian (Character)


Kasmir, menyatakan bahwa karakter merupakan sifat atau tingkah laku seseorang.

Yang mana, dalam hal ini watak nasabah yang akan diberikan pembiayaan harus dapat dipercaya.

Cara untuk mengetahui watak nasabah dapat dilihat dari gaya hidup, sisi pekerjaan, hobi, jiwa sosial, dan keadaan keluarga.

Hal ini, bertujuan untuk menilai kemauan nasabah untuk membayar hutangnya.

Penilaian Kemampuan (Capacity)


Dalam hal ini, calon debitur harus layak dari segi manajemen pemasaran dan operasional.

Sehingga, bank dapat mengharapkan bahwa nasabah memiliki kemampuan dalam memenuhi dan membayar kewajibannya (Elly, 2008).

Penilaian Modal (Capital)


Kasmir (2003), menyatakan bahwa dalam memastikan efektif atau tidaknya modal, maka dapat dilihat melalui laporan keuangan yang telah disajikan, khususnya melihat likuiditas, solvabilitas, dan juga rentabilitas, serta beberapa hal yang dianggap penting lainnya.

Analisis ini, juga mencakup sumber modal yang sudah ada, dan persentase modal yang digunakan dalam pembiayaan proyek yang akan dijalankan (sebagian modal sendiri dan lainnya modal pinjaman).

Penilaian Agunan (Collateral)


Agunan merupakan bagian penting dari pembiayaan, karena pada saat debitur wanprestasi atau tidak mampu untuk membayar kewajibannya, maka agunan akan dijual untuk menutupi kewajiban tersebut.

Tentunya, agunan harus memiliki beberapa karakteristik berikut:
  • Marketable (barang yang dapat dijual di pasar).
  • Mampu untuk memenuhi kewajiban nasabah atau menutup kerugian bila terjadi default.
  • Ditentukan di depan notaris, (Sulhan, 2008).
Sementara itu, Kasmir menyatakan bahwa jaminan atau agunan yang diberikan harusnya memiliki harga yang lebih tinggi dari jumlah kredit yang disalurkan.

Penilaian Prospek Usaha (Condition of Economy)


Penilaian ini, meliputi prospek usaha di sektor yang sedang digeluti, tingkat ketergantungan terhadap bahan baku, peraturan pemerintah yang terkait dengan usaha tersebut, dan kondisi atau kualitas perekonomian secara nasional, regional, serta internasional (Elly, 2008).

0 Response to "Pedoman Pembiayaan Berdasarkan Prinsip Syariah"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel