Pemikiran Al-Ghazali mengenai Konsep Uang dalam Ekonomi Islam

Pemikiran Al-Ghazali mengenai Konsep Uang dalam Ekonomi Islam

Deretan sejarah perkembangan sistem moneter modern, telah dikenal beberapa bentuk standar keuangan, yang terus berganti dan diterapkan dalam ruang lingkup perekonomian secara luas.

Adapun sistem yang pertama kali dikenal yaitu standar barang (commodity standard), yang mana sistem ini menegaskan bahwa nilai mata uang suatu negara harus didasari atau dijamin dengan emas dan perak (logam mulia), dan berdasarkan ukuran atau berat tertentu.

Sementara yang kedua yaitu faith standard (standar kepercayaan), yang mana dalam sistem ini, nilai mata uang suatu negara tidak harus dijamin dengan logam mulia.

Tepatnya, dalam sistem ini mata uang yang dicetak dengan menggunakan kertas sebagai hahan bakunya, seperti yang kita kenal dan gunakan sekarang ini.

Sehingga, nilai dari mata uang jenis ini, ditentukan berdasarkan kepercayaan dan penerimaan masyarakat sebagai standar pertukaran yang sah, bukan berdasarkan biaya pokok untuk memproduksi setiap lembar uang.

Umumnya, nilai nominal uang lebih besar dari nilai intrinsiknya.

Commodity standard, secara umum terbagi kepada dua bentuk, yaitu standar emas dan perak.

Setiap standar keuangan yang hanya menggunakan satu jenis logam mulia (emas atau perak), disebut sebagai monometallism, kalau menggunakan kedua-duanya, diistilahkan dengan bimetallism.

Dalam lingkup filsafat Islam ataupun tasawuf, sudah tergambar jelas bahwa Al-Ghazali menjadi salah satu pemikir Islam yang dikenal luas (populer).

Tak hanya dikenal dalam dunia Islam, Al-Ghazali juga sangat dikenal dalam sejarah intelektual umat manusia.

Di samping itu, pemikiran dan gagasan Al-Ghazali terus berguna dan dapat menjawab berbagai masalah atau persoalan tertentu, yang terjadi dalam dunia modern, atau bisa dikatakan tidak hanya berlaku pada zamannya saja.

Hal ini tentunya bukan sesuatu yang aneh, mengingat puncak pemikirannya, sebagaimana yang sudah kita pelajari dan pahami, mencakup sistem keuangan, di samping fokusnya pada bidang ushul fiqh, fiqh, etika, ilmu kalam, dan bahkan ekonomi.

Berkaitan dengan sistem keuangan, Al-Ghazali juga telah mengarahkan pemikirannya pada analisis mikro dan fungsi uang, yang mana ia telah menjelaskan tentang konsep pelarangan riba dan efek yang ditimbulkannya terhadap kondisi perekonomian suatu negara.

Dengan merujuk pada Al-Qur'an, Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa orang yang berani untuk menimbun uang sama dengan penjahat, ini dikarenakan aktivitas penimbunan uang dapat mengganggu sistem peredaran uang (menarik uang dari peredarannya).

Hal ini sejalan dengan konsep moneter modern, yang mana penimbunan barang dianggap dapat memperlambat perputaran/peredaran uang.

Penimbuhan, dengan sendirinya mengarah pada usaha untuk memperkecil volume transaksi, sehingga perekonomian menjadi tidak bergairah atau lesu.

Sebagai tambahan, Al-Ghazali telah menegaskan bahwa kegiatan mencetak atau mengedarkan uang palsu, lebih parah dari upaya penimbuhan seribu dirham, karena hal tersebut sama dengan perbuatan dosa, yang dosanya itu selalu mengalir selama uang yang dicetak atau diedarkan tersebut masih digunakan di masyarakat umum.

0 Response to "Pemikiran Al-Ghazali mengenai Konsep Uang dalam Ekonomi Islam"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel