Pengembangan Produk dan Transaksi Keuangan Perbankan Syariah

Pengembangan Produk dan Transaksi Keuangan Perbankan Syariah

Umumnya, produk pendanaan pada bank syariah dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu tabungan dan deposito berjangka.

Tabungan sudah tentu dapat ditarik kapan pun nasabah menginginkannya, berbeda dengan deposito berjangka yang harus ditarik sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati (saat jatuh tempo).

Sehubungan dengan jenis pendanaan ini, ada dua macam akad yang disarankan dalam fikih muamalah (Wadiah dan Mudharabah), demi menjaga keabsahan transaksi yang dilakukan.

Wadiah, dikategorikan sebagai akad tabarru'/tolong-menolong (non-komersial), sementara Mudharabah yaitu akad bagi hasil, jadi sudah pasti termasuk ke dalam bidang tijarah (komersial).

Kedua akad ini, tentu saja memiliki karakteristik dan ketentuan tersendiri.

Akad Wadiah sering digunakan dalam kegiatan penitipan, atau yang sering dikenal dalam perbankan sebagai penitipan uang.

Dalam kasus penitipan barang, biasanya barang titipan tidak sepenuhnya dijamin oleh pihak yang menerima titipan, berbeda halnya dalam kasus penitipan uang, yang mensyaratkan akan adanya jaminan terhadap uang yang dititipkan tersebut (Wadiah Yad Dhamanah).

Sehingga, titipan jenis ini, memungkinkan pihak bank untuk menggunakannya, dan adanya kemungkinan pemberian hadiah kepada para nasabah (dengan syarat tidak ditentukan di awal akad dan atas keinginan bank sendiri, bukan karena paksaan atau permintaan).

Pembatasan agar hadiah tidak dijanjikan di awal akad yaitu dikhawatirkan transaksi yang dilakukan mengarah pada praktik riba.

Di kalangan ahli fikih, penggunaan Wadiah Yad Dhamanah ini diidentikkan dengan akad Qardh (pinjaman tanpa bunga), sehingga sudah jelas bahwa nasabah tidak dapat mensyaratkan pengembalian apa pun.

Berbeda sekali dengan kasus deposito berjangka, karena menggunakan Mudharabah, maka akan mengarah pada orientasi keuntungan atau perdagangan.

Namun, Mudharabah juga tidak terlepas dari berbagai persoalan dalam penerapannya, di antaranya yaitu masalah mengenai penetapan pengembalian (return), harus secara pasti atau tidak.

Ini tidak lain timbul dari adanya penetapan bunga tetap dalam bank konvensional, sehingga masyarakat sudah terbiasa dengannya dan menimbulkan keraguan terhadap pilihan yang tepat baginya.

Dan juga tidak mengherankan, kalau adanya lembaga lain yang menyimpan uang berdasarkan Mudharabah di bank syariah, meminta akan adanya kepastian pengembalian, atau setidaknya sesuai yang diinginkan.

Tak hanya itu, ada juga yang menyatakan bahwa pada saat bank mendapatkan keuntungan yang lebih, jumlah bagi hasilnya tidak meningkat, atau seperti sama saja dengan keuntungan sedikit.

Ini menimbulkan pertanyaan tentang tetap atau tidaknya pengembalian di bank syariah.

Oleh karena itu, sangat diharapkan akan adanya inovasi yang berupa income smoothing (perataan laba), yaitu dengan cara memindahkan sebagian laba atau keuntungan pada periode yang memiliki keuntungan yang lebih tinggi kepada periode yang keuntungannya rendah.

Namun, untuk melegalkannya sudah pasti dibutuhkan ijtihad kolektif, yang dapat dilakukan oleh ahli bisnis, akuntansi, dan tidak boleh ketinggalan ahli fikih muamalah.

Tanpa adanya ijtihad ini, inovasi semacam itu tidak dapat diterapkan, karena dapat menimbulkan masalah lainnya.

0 Response to "Pengembangan Produk dan Transaksi Keuangan Perbankan Syariah"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel