Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Peran Bank Syariah dalam Sistem Moneter Islam di Indonesia

Peran Bank Syariah dalam Sistem Moneter Islam di Indonesia

Secara umum, sistem moneter merupakan pengendalian jumlah uang beredar dengan cara meningkatkan atau menurunkan jumlah uang yang beredar di kalangan masyarakat.

Kebijakan moneter dapat diklasifikasikan ke dalam dua bentuk, yaitu:
  1. Monetary Expansive Policy (Kebijakan Moneter Ekspansif), kebijakan yang digunakan dalam upaya meningkatkan jumlah uang yang beredar.
  2. Monetary Contractive Policy (Kebijakan Moneter Kontraktif) atau Tight Money Policy (Kebijakan Uang Ketat), digunakan dalam rangka menurunkan/mengurangi jumlah uang yang beredar.
Sementara itu, dalam sistem moneter Islam, kedudukan dan fungsi bank syariah memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dari bank konvensional.

Di mana, perbankan syariah dituntut agar mempunyai karakteristik yang universal dan juga multi guna, atau dalam kata lain tidak hanya berfokus pada kegiatan komersial (profit oriented/berorientasi pada keuntungan).

Dalam istilah lain, perbankan syariah harus berupa perpaduan dari:
  • Bank komersial.
  • Bank investasi.
  • Unit Trust (UT).
  • Lembaga pengelola investasi (institutional investment management).
Yang mana tujuan utamanya yaitu untuk memperhatikan bidang investasi modal.

Atas dasar inilah, bank syariah diharapkan dapat menghindari atau menjauhi kegiatan borrowing short (meminjam dalam jangka waktu yang pendek) dan lending long (meminjamkan dengan masa jatuh tempo yang panjang).

Kalau aktivitas ini (borrowing short & lending long) dapat dihindari, maka bank syariah akan lebih tahan terhadap dampak krisis, dibandingkan dengan bank konvensional.

Berkaitan dengan hal ini, kedudukan bank sentral dalam lingkup ekonomi Islam, sangat diharapkan agar mampu melakukan suatu kebijakan yang berfungsi untuk melancarkan ekonomi riil secara seimbang dan jangka panjang.

Post a Comment for "Peran Bank Syariah dalam Sistem Moneter Islam di Indonesia"