Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sasaran Islam dalam Pembatasan Konsumsi

Sasaran Islam dalam Pembatasan Konsumsi

Pembatasan konsumsi, bukan berarti membuat segalanya menjadi lebih buruk dan kaku, tapi malah sebaliknya, yaitu semua aspek akan menjadi lancar dan seimbang.

Singkatnya, Islam tidak melarang sesuatu kalau dampaknya baik, dan tidak menganjurkan sesuatu kalau dampaknya buruk, artinya bahwa semua aturan yang ditetapkan memiliki kelebihan dan hikmah tersendiri.

Sejalan dengan hal ini, Yusuf Qardhawi (2001) menjelaskan beberapa pelajaran atau pendidikan yang dapat diambil dari adanya batasan konsumsi dalam Islam:

Pendidikan Moral


Berkaitan dengan moral, Islam menegaskan bahwa setiap konsumsi yang dilakukan tidak boleh secara berlebih-lebihan, baik itu dalam makan, minum, berpakaian, dan sebagainya, karena perilaku berlebih-lebihan atau bermegah-megahan tidak mencerminkan moral seorang Muslim.

Pendidikan moral menjadi sangat penting, karena moral yang buruk dapat membuat segalanya hancur dan berantakan.

Pendidikan Sosial


Islam sangat menginginkan agar orang-orang yang memiliki kelebihan atau kekayaan, dapat menyalurkan atau membagikan sebagian hartanya untuk orang-orang yang kurang beruntung atau miskin.

Ini, sudah pasti baru dapat diwujudkan ketika orang-orang kaya membatasi konsumsinya.

Tapi, kalau tidak adanya pembatasan atau tetap berfoya-foya, malah membuat orang miskin semakin miskin dan tingginya tingkat kesenjangan di antara masyarakat.

Dan, sudah tentu, Islam tidak menyukai tindakan melipatgandakan kepedihan yang dirasakan oleh orang-orang yang kurang mampu.

Pendidikan Ekonomi


Islam mengingatkan bahwa sifat ishraf dan tabzir, dapat menjadikan sumber daya ekonomi menjadi langka.

Bayangkan saja, sumber daya ekonomi yang seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik, terbuang begitu saja, atau membuang-buang sumber daya pada bidang yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Memang, sumber daya yang Allah ciptakan sangat berlimpah, tapi kalau dimanfaatkan secara salah, maka dapat merusak sumbernya atau hilangnya manfaat yang dapat menunjang aktivitas perdagangan atau ekonomi.

Penggunaan sumber daya secara wajar, sudah pasti, menjadi rekomendasi terbaik.

Pendidikan Kesehatan dan Jasmani


Terkadang, kita sering lupa kalau makan dan minum itu tidak boleh berlebihan, tapi karena nafsu lebih tinggi dari akal, maka hal tersebut tidak dapat dihindari.

Namun, Islam selalu datang untuk menasihati dan memberi solusi, khususnya terkait dengan kesehatan umatnya.

Islam, membatasi konsumsi bukan tanpa tujuan, tapi agar kita semua menjadi orang-orang yang sehat secara jasmani dan rohani.

Contoh kecil yang dapat kita rasakan manfaatnya secara langsung, yaitu:

Makan mie dengan jumlah yang banyak, dapat membuat kepala kita pusing atau jatuh sakit. Sedangkan, makan mie dengan jumlah yang wajar, dapat membuat kenyang dan bersemangat.

Intinya, segala sesuatu, bila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, akan memberikan manfaat bagi kita.

Pendidikan Kemiliteran dan Politik


Kalau poin sebelumnya sudah tercapai, maka hal-hal lainnya juga akan menjadi lebih mudah, khususnya yang berkaitan dengan peperangan.

Untuk melawan musuh, tentunya, membutuhkan kesehatan mental dan fisik, kalau tidak akan selalu kalah dalam peperangan.

Tak hanya itu, dengan menjaga keseimbangan konsumsi, maka sumber daya yang tersedia juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat bidang politik dan militer.

Post a Comment for "Sasaran Islam dalam Pembatasan Konsumsi"