Short Selling (Jual Kosong) dalam Perspektif Syariah

Short Selling (Jual Kosong) dalam Perspektif Syariah

Granita (2009) menyatakan bahwa short selling atau jual kosong merupakan kegiatan penjualan saham yang dilakukan trader sebelum menerima saham itu terlebih dahulu, dan juga dengan harapan supaya harga saham itu makin turun, agar dapat dibeli lagi dengan harga yang lebih murah.

Keuntungan yang diperoleh trader yaitu dari selisih antara harga jual dengan harga beli, atau dalam kata lain semakin murah harga beli yang didapatkan, maka akan lebih leluasa dalam mendapatkan keuntungannya, begitu juga sebaliknya.

Sistem ini, dimanfaatkan oleh trader dalam rangka memperoleh keuntungan jangka pendek.

Mekanismenya yaitu trader meminjam dana dari broker, yang bertujuan untuk menjual saham (yang belum dipegang/dimiliki), dengan harapan harganya akan turun.

Kalau harganya benar-benar turun, maka trader akan membelinya dan mengembalikan pinjaman saham kepada broker, serta trader mendapatkan keuntungan.

Tapi, kalau harganya naik, broker yang mendapatkan keuntungan.

Transaksi semacam ini, tentu saja, tidak sejalan dengan prinsip Syariah, karena salah satu pihak untung atas kerugian pihak lain, atau dalam kata lain Syariah tidak menginginkan akan adanya salah satu pihak yang dirugikan.

Tepatnya, short selling termasuk dalam transaksi menang kalah, seperti halnya judi yang mengandung spekulasi di dalamnya.

Tak hanya itu, short selling juga mengarah pada praktik riba, karena adanya kelebihan atas pokok pinjaman.

Islam, secara tegas, melarang setiap jual beli atau transaksi yang merusak keseimbangan pasar, karena dapat mengakibatkan karakteristik pasar yang tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya di kalangan masyarakat.

0 Response to "Short Selling (Jual Kosong) dalam Perspektif Syariah"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel