Apakah Bunga Bank sama dengan Riba?

Apakah Bunga Bank sama dengan Riba?

Perkembangan perbankan dan lembaga keuangan Syariah lainnya, menimbulkan semangat masyarakat untuk terus menggunakan layanan atau pun produk berbasis Syariah, khususnya dalam rangka memerangi riba atau menjauhkan dirinya dari segala praktik yang berbau riba.

Namun siapa sangka, di balik pelarangan riba rupanya terdapat berbagai macam pertanyaan yang selalu menjadi titik perhatian masyarakat.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya:
  • Apa yang dikatakan atau dimaksud dengan riba (apa itu riba)?
  • Mengapa riba dilarang, apa penyebabnya?
  • Bagaimana strategi yang ampuh untuk menghilangkan atau menghapuskan riba dari sistem perekonomian?
  • Seberapa efektif usaha-usaha yang telah dilakukan dalam rangka menghilangkan riba?
  • Kalau memang benar-benar riba dapat dihapus, terus bagaimana uang dapat dikelola dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan di atas secara singkat semuanya mengarah pada ruang lingkup riba, dan inilah yang selalu menjadi bahan perdebatan di antara berbagai pihak.

Padahal, jika kita meninjau kembali tentang riba dan hukumnya yang telah dijelaskan dengan sangat tepat, baik dalam Al-Qur'an maupun Hadis, maka dapat dipahami bahwa riba itu secara mutlak dilarang, tanpa perlu dipertanyakan lagi tentang kebolehannya.

Walau pun demikian, pertanyaan tentang riba terus muncul dan tak terbantahkan akan keberadaannya.

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan yaitu apa yang dimaksud dengan riba?

Dalam menjawab hal ini, tentu saja kita harus meninjau sedikit ke belakang.

Di mana, dalam menjelaskan riba beberapa mazhab pemikiran Islam menyatakan bahwa riba juga meliputi bunga dalam segala wujudnya, sementara mazhab pemikiran lainnya tidak mentah-mentah menerima argumen yang menyatakan bunga (interest) masuk dalam kategori riba, sehingga kedudukan bunga dan cakupan riba terus menjadi perdebatan hangat di berbagai kalangan, sampai detik ini.

Tentu saja, setiap adanya perdebatan pasti akan ada kesimpulan, maka berikut ini merupakan beberapa inti yang dapat diambil terkait dengan hubungan riba dan bunga:
  • Al-A'immah Al-Mujtahid dan Abu A'la Al-Maududi, menyimpulkan riba dari segi dampak atau efek yang ditimbulkannya, mereka setuju bahwa riba an-nasiah hukumnya haram, sesuai dengan QS. Al-Baqarah ayat 275-278. Al-Maududi juga menegaskan bahwa bunga (interest) sama saja dengan riba yang sangat dilarang atau dimurkai dalam ajaran Islam. Ini, sejalan dengan fatwa MUI yang menyatakan bahwa bunga bank hukumnya haram.
  • Adiwarman Karim, juga memasukkan bunga bank ke dalam kategori riba an-nasiah, yang sering timbul dalam kasus pembayaran bunga deposito, giro, tabungan, dan sebagainya. Bukan tanpa alasan, dia menjelaskan bahwa keharaman bunga terletak pada sistemnya itu sendiri, di mana bank yang bertindak sebagai kreditur menetapkan pembayaran bunga tetap dan ditentukan tepat di awal transaksi, sementara uang yang diterima nasabah belum pasti dimanfaatkan untuk berbisnis, kalau pun untuk berbisnis belum tentu selalu mendapatkan untung yang banyak, mau tak mau, debitur wajib untuk mengembalikan uang yang telah dipinjamnya plus bunga yang telah disyaratkan, terlepas dari nasib atau kondisi yang dialaminya. Sehingga, muncullah yang namanya ketidakadilan dan kezaliman, yang secara jelas diharamkan.
  • Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, bunga bank tidak dapat secara serta merta dicap sebagai riba, hanya bunga yang berlipat ganda saja yang boleh dikatakan riba. Ini (menurutnya) didasarkan pada QS. Ali-Imran ayat 130. Atas dasar inilah Abduh mengizinkan bunga bank, dengan alasan bahwa: (i) bunga bank tidak mengarah pada praktik penindasan, akan tetapi malah membuat perekonomian menjadi lebih maju. (ii) pada dasarnya, menabung di bank merupakan perkongsian, walau tidak dipoles menjadi lebih menarik seperti konsep Musyarakah atau Mudharabah yang ada dalam fikih Islam. Pemikiran ini sejalan dengan yang diutarakan Ahmad Hasan dan Umer Chapra, di mana riba baru dilarang kalau sudah berlipat ganda atau bersifat ekspoitatif. Sehingga, mereka menyimpulkan bahwa hukum bunga yang digunakan dalam sistem ekonomi modern tidaklah haram, karena sama sekali tidak sama dengan yang telah dipraktikkan pada masa Jahiliyah, atau yang sifatnya itu berlipat ganda dan eksploitatif.
  • Abdullah Yusuf Ali dan Muhammad, mengaitkan riba dengan usury, bukan dengan interest. Sementara itu, Hifni Nasif dan Abdul Aziz Jawish juga menghubungkan riba dengan usury, kemudian membedakan antara usury dengan interest. Mereka memandang bahwa usury (riba) terjadi bila tambahan yang diberikan sama dengan jumlah pokok pinjaman atau bahkan lebih besar dari itu, sementara interest (bunga) muncul jika tambahannya tidak sebesar pokok pinjaman (lebih kecil dari pokok pinjaman).
  • Fazlur Rahman, Said Najjar, dan Muhammad Asad, berpandangan bahwa hukum bunga bank itu sifatnya relatif, bisa haram dan bisa juga tidak. Haram, jika mengarah pada tindakan eksploitatif, dan halal jika tidak ada unsur eksploitatif. Sementara itu, Douallibi membuat garis pemisah antara pinjaman yang bersifat produktif dengan yang konsumtif. Menurutnya, jika pinjaman tersebut digunakan untuk kegiatan produktif, maka bunga sah-sah saja, tapi, kalau untuk tujuan konsumtif, itu sama saja dengan mengeksploitasi kaum lemah, sehingga diharamkan.

0 Response to "Apakah Bunga Bank sama dengan Riba?"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel