Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Asuransi dalam Pandangan Ulama Fikih Kontemporer

Ada banyak sekali perbedaan pendapat para ulama, khususnya dalam menetapkan hukum asuransi, yang mana asuransi merupakan kegiatan bisnis yang sangat digemari oleh berbagai kalangan masyarakat di era modern ini.

Asuransi dalam Pandangan Ulama Fikih Kontemporer

Sebagian ulama, mengatakan bahwa asuransi itu hukumnya sudah jelas haram, karena melibatkan riba, dan riba itu sangat dilarang atau mendapat ancaman yang sangat pedih bagi setiap pelakunya.

Sebagian ulama lainnya, asuransi pada dasarnya masuk dalam kategori syubhat, karena tidak ada hukum yang secara tegas menghalalkan atau mengharamkannya, sementara itu syubhat merupakan hal yang sama sekali tidak baik untuk dilakukan, karena dapat menimbulkan berbagai masalah di kemudian hari atas ketidakjelasan hukumnya.

Tak hanya itu, ada juga beberapa ulama yang menyatakan bahwa asuransi itu boleh dilakukan dan hukumnya halal, tapi hanya jenis asuransi tertentu yang boleh dilakukan, dan beberapa jenis asuransi lainnya tetap diharamkan, ulama ini melihat bahwa adanya manfaat yang terkandung dalam asuransi tertentu, dan kalau dipraktikkan dapat membawa kemaslahatan bagi umat manusia.

Pandangan Ulama yang Mengharamkan Asuransi


Muslim World League (MWL), menyatakan bahwa semua jenis asuransi yang dipraktikkan di zaman modern ini, baik itu asuransi jiwa atau pun asuransi niaga hukumnya haram atau bertentangan dengan ajaran Islam.

Namun, keberadaan asuransi kooperatif (Takaful) tidak dipermasalahkan atau dalam kata lain disetujui.

Pandangan Ulama yang Membolehkan Asuransi


Mustafa Az-Zarqa, pada dasarnya asuransi itu dibolehkan (mubah), ini dikaitkan dengan hukum asal muamalah (boleh selama belum ada dalil yang melarangnya), sementara itu Syara' juga tidak membatasi pada akad klasik saja atau dalam kata lain tidak melarang jenis akad baru yang disesuaikan dengan perubahan zaman, tentu saja bahwa akad yang dibuat tersebut harus tidak melanggar aturan dasar Syariah (Al-Qur'an dan Hadis).

Pendapat ini dipertegas oleh Abdul Wahab Khalaf, yang menyatakan asuransi termasuk dalam akad Mudharabah, akad di mana salah satu pihak mempercayakan hartanya untuk dikelola oleh pihak lain, dengan imbalan bagi hasil di antara keduanya. Dalam praktik asuransi, yang menjadi Sahibul Mal (pemilik harta) yaitu nasabah (karena membayar premi), dan yang menjadi Mudharib (pengelola) yaitu perusahaan asuransi, serta bagi hasil di antara keduanya dari pengembalian (return) yang diperoleh atas investasi yang dilakukan pihak perusahaan.

Pandangan Ulama yang Mengharamkan Asuransi Konvensional


Yusuf Al-Qaradawi, mengharamkan asuransi konvensional karena dua alasan utama, yaitu:
  1. Peserta asuransi tidak membayar premi asuransi sesuai dengan prinsip tabarru' (tolong-menolong).
  2. Umumnya, perusahaan asuransi menginvestasikan dananya (yang diperoleh dari anggota asuransi) pada bidang-bidang yang berhubungan dengan riba, atau proyek-proyek yang terlibat dengan unsur-unsur terlarang lainnya.

Pandangan Ulama yang Membolehkan Asuransi yang Bersifat Sosial dan Mengharamkan yang Bersifat Komersial


Muhammad Abu Zahra, hanya membolehkan asuransi yang bersifat sosial dan dengan tegas mengharamkan asuransi yang bersifat komersial. Asuransi yang bersifat sosial dibolehkan karena mengandung unsur saling membantu, sementara asuransi komersial dilarang karena bersangkut paut dengan riba.

Perbedaan pendapat ulama dalam menjelaskan hukum asuransi di atas, tentu saja dipengaruhi oleh perbedaan dalam cara melihat atau memahami kasus, perbedaan latar belakang pendidikan atau mazhab, dan sebagainya, sehingga hasil ijtihadnya pun akan berbeda-beda antara ulama satu dengan ulama lainnya.

Post a Comment for "Asuransi dalam Pandangan Ulama Fikih Kontemporer"