Kebijakan Fiskal Islam dalam Upaya Mengurangi Disparitas Ekonomi

Mannan, menyatakan bahwa kebijakan fiskal dan anggaran belanja Islam ditujukan untuk kegiatan peningkatan kualitas ekonomi dan agama masyarakat, dengan cara distribusi kekayaan secara Islam, atau dalam kata lain memasukkan prinsip-prinsip keagamaan dalam setiap proses distribusi, agar nilai-nilai keagamaan dan ekonomi berada pada titik yang seimbang.

Kebijakan Fiskal Islam dalam Upaya Mengurangi Disparitas Ekonomi

Tak hanya itu, Mannan juga mengatakan bahwa dari berbagai kitab terdahulu, hanya Al-Qur'an yang mampu menerangkan secara tepat mengenai kebijakan negara dalam hal pengeluaran pendapatan. Sehingga, kebijakan fiskal dimanfaatkan dalam upaya mengatur dan mengawasi setiap perilaku masyarakat, dengan cara pemberian insentif, atau bisa juga tidak dengan tujuan untuk meningkatkan pemasukan negara.

Pada dasarnya, kebijakan fiskal itu sendiri merupakan kewajiban negara dan juga sebagai hak rakyat, jadi kebijakan fiskal tidak sepenuhnya menjadi kebutuhan dalam perbaikan kualitas perekonomian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun lebih mengarah pada upaya untuk mewujudkan mekanisme distribusi yang adil atau tepat sasaran.

Hal yang sering menjadi permasalahan di tengah-tengah masyarakat sekarang ini, bisa dikatakan timbul dari sistem atau mekanisme distribusi harta yang tidak efisien. Sehingga, pemerintah yang berkedudukan sebagai pemegang amanah atas sejumlah uang rakyat, diharuskan untuk menyalurkan uang tersebut kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan, supaya dapat terciptanya kesejahteraan umum.

Mekanisme distribusi yang tepat, akan dengan sendirinya mengurangi tingkat kesenjangan di antara masyarakat, atau bisa juga dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat kesenjangan berarti semakin besar kesalahan yang terjadi dalam mekanisme distribusi yang dilakukan pemerintah, kalau saja kesalahan ini tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan dapat merusak arti dari pembangunan itu sendiri, yang mana pembangunan merupakan unsur terpenting dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat.

Muhammad Baqir Al-Sadr, juga ikut menyatakan bahwa intervensi negara memegang peranan penting dalam hal memastikan kesesuaian sistem perekonomian dengan norma-norma Islam. Dengan demikian, sangat diharapkan agar pemerintah mampu menyediakan barang publik demi kelancaran pembangunan dan kesejahteraan bersama.

Pembelanjaan negara dalam ruang lingkup kebijakan fiskal Islam mengacu pada terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, Al-Maliky turut mengklasifikasikan kebutuhan pokok yang sesuai Syariah ke dalam dua bentuk:
  1. Kebutuhan pokok yang langsung berhubungan dengan individu dan bersifat perorangan, meliputi penyediaan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
  2. Kebutuhan pokok yang bersifat umum atau publik, berupa penyediaan fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, dan tempat beribadah.
Kemudian, perhatian dari kebijakan fiskal harus lebih diarahkan kepada aktivitas pendistribusian ekonomi secara menyeluruh atau merata. Karena, kalau semua orang (yang berhak) dapat bagian, maka dengan sendirinya akan menumbuhkan nilai-nilai keadilan, atau dalam kata lain keadilan distribusi lebih mudah dicapai.

Islam sangat mengutamakan kebutuhan dasar bagi setiap masyarakat, karena dengan terpenuhinya kebutuhan dasar juga berarti terpenuhinya pendapatan minimum. Sementara untuk kebutuhan sekunder dan tersier, Islam memerintahkan agar setiap anggota masyarakat mau untuk bekerja dan berusaha, yang sehingga asetnya akan terus meningkat dan dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkannya.

Sebenarnya, Islam tidak hanya menuntut pemerintah untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar bagi masyarakat, tapi juga menuntut orang-orang yang memiliki kelebihan dari segi harta, untuk membantu masyarakat yang serba kekurangan, agar nilai atau rasa peduli di antara mereka tumbuh.

Ada banyak sekali pilihan yang dapat dilakukan oleh orang kaya dalam mewujudkan rasa pedulinya kepada orang miskin, di antaranya yaitu dengan memberikan sedekah, wakaf, zakat, infak, dan berbagai bentuk pemberian lainnya. Semakin tinggi rasa peduli di antara masyarakat, maka semakin kuat juga hubungan persaudaraan yang tercipta di antara mereka.
Faisal
Faisal Hina bak donya hareuta teuh tan. Hina bak Tuhan ileume hana.

Post a Comment for "Kebijakan Fiskal Islam dalam Upaya Mengurangi Disparitas Ekonomi"